Dua Menteri Prabowo “Ngantor” Naik KRL Patut Diapresiasi, tapi Jangan Cuma Sekali…

Dua Menteri Prabowo “Ngantor” Naik KRL Patut Diapresiasi, tapi Jangan Cuma Sekali…

– Momen dua pejabat tinggi pemerintahan, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto dan Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, menggunakan transportasi umum dalam aktivitas mereka menuai banyak perhatian publik.

Langkah ini diapresiasi, namun bukan tidak mungkin aktivitas mereka ini juga mengundang harapan agar tidak sekadar menjadi simbolis belaka.

Aktivitas dua pejabat dengan menaiki angkutan publik ini tak lepas dari desakan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

MTI menyoroti pentingnya pejabat negara lebih sering menggunakan angkutan umum untuk memahami langsung persoalan mobilitas masyarakat.

Adapun MTI menyebut bahwa angkutan umum di Jakarta telah memiliki cakupan layanan yang luas, mencapai 89,5 persen wilayah kota.

Hampir semua kawasan permukiman kini telah terhubung dengan angkutan umum, dengan radius 500 meter dari setiap hunian.


Dua pejabat naik KRL dan MRT

Merespons tantangan ini, Wamendagri Bima Arya Sugiarto membagikan pengalaman perjalanannya menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) dari Bogor ke kantornya di Jakarta.

Momen ini ia bagikan melalui akun Instagram pribadinya, @bimaaryasugiarto, pada Rabu (5/2/2025).

Video tersebut mendapat perhatian luas, ditonton lebih dari 658.000 kali dengan 1.737 komentar dari warganet hingga Kamis (6/2/2025) pukul 17.40 WIB.

Dalam video itu, Bima memulai perjalanan dengan naik taksi online menuju Stasiun Bogor sebelum melanjutkan perjalanan dengan KRL.

“Banyak yang usul supaya pejabat itu naik transportasi publik ke kantor, saya mau coba kalau dari Bogor sampai kantor itu berapa lama,” ujarnya.

Bima tampak santai tanpa pengawalan khusus, hanya ditemani seorang staf berkemeja putih.

Ia berdiri di dalam gerbong KRL yang semakin padat seiring perjalanan.

Sejumlah penumpang yang mengenalinya pun berfoto bersama dan berbincang dengannya.

Setibanya di Stasiun Juanda pukul 07.47 WIB, Bima masih harus berjalan kaki hingga akhirnya tiba di kantornya pukul 07.59 WIB.

“Sekitar 2 jam sampai kantor dari Bogor. Bisa lebih cepat kalau ke stasiunnya nyampainya lebih cepat,” ujarnya.

Tak hanya Bima Arya, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas juga melakukan perjalanan serupa dengan menggunakan Mass Rapid Transit (MRT). Ia terlihat berdiri di dalam MRT bersama sejumlah stafnya.


Jangan hanya untuk Viral

Pengamat tata kota, Yayat Supriyatna, menilai bahwa inisiatif pejabat menggunakan transportasi umum harus menjadi contoh nyata dan bukan sekadar pencitraan sesaat.

“Memang harus ada contoh dan harus ada yang berani untuk melakukan itu. Jadi sekarang kan kita sedang mengalami krisis kepedulian terhadap angkutan umum,” ujar Yayat.

Langkah ini dinilai penting untuk menunjukkan bahwa pejabat juga merasakan kondisi yang dialami masyarakat sehari-hari.

Ia menyoroti bahwa selama ini pemerintah kerap mengajak masyarakat menggunakan transportasi publik, namun mereka sendiri jarang memberikan contoh nyata.

“Selama ini pemerintah menggaung-gaungkan kepada warganya, ayo naik angkutan umum, naik angkutan umum. Mereka sendiri enggak naik ke angkutan umum, ya kan? Itu adalah contoh yang diberikan,” tegas Yayat.

Yayat juga mengaitkan penggunaan transportasi umum oleh pejabat dengan upaya efisiensi yang sedang didorong oleh pemerintahan Prabowo Subianto.

“Saat ini Pak Prabowo sedang mendorong efisiensi, dan ini momen yang menarik. Jika pejabat menggunakan angkutan umum, dampaknya jelas, pengeluaran untuk bensin bisa berkurang,” ucap Yayat.

Ia pun mencontohkan, banyak kantor kementerian di Jakarta yang berdekatan dengan jaringan transportasi publik.

“Misalnya Pak Bima itu bagus, dari Bogor naik grab, kemudian naik kereta. Nah sekarang, kantornya pun di sekitar Juanda, dekat dengan stasiun kereta api, bisa jalan kaki,” jelasnya.

Yayat mengusulkan agar menteri dan pejabat yang kantornya berada di sepanjang Jalan Thamrin-Sudirman lebih sering menggunakan transportasi publik, seperti MRT atau Transjakarta.

“Kenapa? ada itu MRT, ada itu koridornya Transjakarta. Kalau biasa dilayani dengan ala Jepang, ala Italia, ala Amerika, sekarang coba ala kadarnya bisa nggak?” candanya.

Ia berharap langkah ini bukan sekadar aksi viral, tetapi benar-benar mencerminkan kepedulian dan empati pejabat terhadap kondisi transportasi publik di Indonesia.

“Mudah-mudahan ini tidak sekadar untuk viral aja ya. Tidak sekadar untuk ini, tapi kita butuh aktor. Kita butuh orang yang memang punya kepedulian. Dan empati itu penting,” pungkas Yayat.


Transportasi umum makin diminati

Data menunjukkan bahwa jumlah pengguna KRL Jabodetabek terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada pertengahan 2024, rata-rata pengguna KRL per hari mencapai 987.000 orang, naik dari 830.000 orang per hari pada tahun sebelumnya.

Bahkan, pada akhir 2024, volume pengguna telah mencapai 1.276.209 orang per hari.

Sementara itu, MRT Jakarta juga mengalami peningkatan jumlah penumpang.

Pada tahun 2023, rata-rata pengguna harian MRT mencapai 91.000 orang, dan ditargetkan meningkat menjadi 92.000 orang per hari pada akhir 2024.

Langkah yang dilakukan Bima Arya dan Zulhas patut diapresiasi karena dapat mendorong kebiasaan baru bagi pejabat untuk lebih dekat dengan realitas transportasi masyarakat.

Namun, agar tidak hanya menjadi gimmick sesaat, kebiasaan ini sebaiknya diterapkan secara konsisten.

Related posts