Fenomena Rojali dan Rohana dalam Perspektif Psikologi

Fenomena Rojali dan Rohana dalam Perspektif Psikologi

Fenomena “Rojali” dan “Rohana”: Mengapa Orang Datang ke Pusat Perbelanjaan Tapi Tidak Membeli?

Ada banyak alasan mengapa seseorang datang ke pusat perbelanjaan, melihat-lihat produk, bertanya harga, bahkan mencoba barang, tapi akhirnya tidak membeli apa pun. Dalam masyarakat, fenomena ini sering disebut sebagai “rojali” dan “rohana”. Rojali merujuk pada rombongan yang jarang membeli, sedangkan Rohana menggambarkan rombongan yang hanya bertanya tanpa niat membeli.

Psikolog klinis dan forensik dari Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa fenomena ini bisa terjadi karena berbagai faktor psikologis dan sosial. Menurutnya, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan sesuai teori Abraham Maslow, yaitu: kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Kunjungan ke pusat perbelanjaan bukan selalu untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga bisa menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan sosial atau mencari pengalaman.

Read More

Motif Sosial dan Identitas

Salah satu alasan utama adalah kebutuhan akan identitas sosial. Banyak orang datang ke tempat yang dianggap elite atau sedang tren, meskipun tidak berniat membeli. Hal ini bisa menjadi bentuk penegasan diri bahwa mereka termasuk dalam kelompok tertentu. Selain itu, hal ini juga bisa dipengaruhi oleh motif untuk mendapatkan konten media sosial, validasi sosial, atau eksistensi online.

Kasandra menjelaskan bahwa sekadar melihat-lihat atau masuk ke toko tertentu bisa memberikan nilai simbolik bagi seseorang. Bahkan tanpa membeli, mereka merasa mendapatkan pengalaman yang bermakna.

Konflik Batin dan Perlindungan Diri

Terkadang, seseorang sadar bahwa mereka tidak mampu membeli suatu barang, namun masih ingin terlihat seperti konsumen yang mampu. Hal ini bisa menjadi strategi untuk membentuk citra diri di hadapan pramuniaga, teman, atau bahkan diri sendiri. Ada pula mekanisme perlindungan harga diri, yaitu ketika seseorang tidak ingin tampak tidak mampu di mata orang lain sehingga berpura-pura tertarik untuk menghindari rasa malu atau rendah diri.

Ketika seseorang merasa tidak mampu membeli karena harga terlalu tinggi atau ragu akan manfaat barang tersebut, niat membeli bisa batal sendiri. Ini menunjukkan bahwa persepsi kontrol dan norma sosial turut memengaruhi tindakan seseorang.

Budaya dan Kesopanan

Faktor budaya juga turut memengaruhi perilaku ini. Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung kesopanan, berpura-pura tertarik meski tidak berniat membeli bisa dianggap sebagai bentuk konformitas terhadap norma sosial. Secara budaya, pelanggan kadang merasa harus menghargai tenaga penjual dengan berpura-pura tertarik, meskipun tahu tidak akan membeli.

Proses Pencarian Informasi

Selain itu, perilaku melihat-lihat atau bertanya tanpa membeli juga bisa merupakan bagian dari pencarian informasi pra-pembelian. Ini adalah proses normal sebelum seseorang membuat keputusan untuk membeli suatu barang. Konsumen sering kali melakukan riset terlebih dahulu atau melakukan window shopping sebelum memutuskan untuk membeli.

Dengan memahami berbagai faktor yang memengaruhi perilaku ini, kita bisa lebih memahami kebutuhan dan motivasi seseorang yang datang ke pusat perbelanjaan tanpa membeli apa pun. Fenomena “rojali” dan “rohana” bukanlah hal aneh, melainkan refleksi dari kompleksitas psikologi dan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Related posts