PR GARUT— Isu pembagian wilayah kembali mendapat perhatian di Bali, dengan tiga calon Daerah Otonomi Baru (DOB) muncul dalam perbincangan masyarakat. Topik ini muncul sebagai jawaban terhadap ketidakseimbangan pembangunan dan pelayanan publik antar daerah di Pulau Dewata.
Tiga area yang sering muncul dalam rencana pembagian wilayah adalah Buleleng Barat, Kota Kuta, dan Kota Singaraja. Ketiganya dinilai memiliki potensi penting dari segi ekonomi, budaya, serta lokasi geografisnya untuk menjadi wilayah otonom yang mandiri.
Tuntutan pemekaran muncul dari kebutuhan nyata, yaitu pemerataan pembangunan yang selama ini dianggap tidak seimbang. Bali Selatan, khususnya wilayah Denpasar dan Badung, terus mengalami perkembangan pesat, sedangkan daerah utara, barat, dan timur seringkali tertinggal dalam hal infrastruktur serta perhatian pemerintah.
“Pemekaran tidak hanya sekadar pembentukan wilayah baru, melainkan bagian dari strategi untuk menciptakan keseimbangan dalam pembangunan,” kata seorang tokoh masyarakat dari Buleleng yang tidak ingin disebutkan namanya.
Selain faktor pembangunan, isu cakupan pengawasan birokrasi serta pelayanan masyarakat juga menjadi perhatian. Wilayah Bali yang sempit secara geografis namun rumit secara sosial dan budaya membutuhkan pendekatan pemerintahan yang lebih dekat dan tanggap. DOB dianggap mampu mengatasi tantangan tersebut.
Menariknya, pelestarian budaya lokal juga menjadi alasan kuat dalam diskusi ini. Setiap wilayah di Bali memiliki warisan budaya yang unik dan memerlukan ruang serta perhatian lebih agar tetap bertahan di tengah perkembangan modern dan globalisasi. Dengan pemerintahan daerah yang lebih kecil, pelestarian budaya dinilai akan lebih fokus dan berkelanjutan.
Namun, pemekaran tidak dapat segera dilakukan. Pemerintah pusat masih menerapkan moratorium pembentukan daerah otonomi baru, sehingga semua rencana harus menunggu kejelasan hukum. Selain itu, pemekaran membutuhkan studi kelayakan yang mendalam, dukungan politik, serta kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia.
Meskipun terdapat berbagai tantangan, semangat optimis tetap terlihat. Jika diwujudkan, pemekaran diharapkan mampu membawa Bali menuju pembangunan yang lebih merata dan berkelanjutan—tanpa mengabaikan akar budayanya.





