Danantara pastikan PLTSa canggih dan bebas dioksin

Danantara pastikan PLTSa canggih dan bebas dioksin

Teknologi PLTSA yang Lebih Canggih dan Ramah Lingkungan

JAKARTA – Danantara menegaskan bahwa teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) yang akan diterapkan di berbagai wilayah Indonesia menggunakan standar terbaru. Teknologi ini dirancang untuk lebih canggih, ramah lingkungan, serta tidak menghasilkan senyawa berbahaya seperti dioksin.

Fadli Rahman, Lead of Waste Energy Danantara, menjelaskan bahwa empat kota dan kabupaten rencananya akan memulai proyek PLTSA pada Maret 2026. Ia menyatakan bahwa teknologi yang digunakan bukanlah peralatan lama, melainkan teknologi baru yang bahkan lebih canggih dibandingkan 80 persen teknologi yang sudah diterapkan di China.

Empat wilayah telah menyatakan kesiapan penuh sejak akhir 2025, yaitu Kota dan Kabupaten Bogor, Denpasar dan wilayah sekitarnya, Yogyakarta dan sekitarnya, serta Kota Bekasi. Fadli menegaskan bahwa teknologi PLTSA yang akan diterapkan menggunakan sistem pembakaran termal dengan suhu tinggi, berkisar antara 800 hingga 1.000 derajat Celsius. Dengan tingkat panas tersebut, proses pembakaran berlangsung sempurna sehingga mencegah terbentuknya gas beracun.

Selain itu, sistem PLTSA juga dilengkapi teknologi penyaringan berlapis untuk menangkap sisa gas berbahaya. Fadli menegaskan bahwa emisi yang dilepaskan ke udara telah memenuhi standar lingkungan yang bahkan lebih ketat dibandingkan regulasi Uni Eropa, serta melampaui standar nasional yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan SNI.

Teknologi insinerator merupakan teknologi tungku pembakaran dalam Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Fadli menjelaskan bahwa insinerator lama menghasilkan dioksin karena proses pembakarannya tidak sempurna. “Insinerasi yang dulu dipakai dan sekarang dilarang itu pembakarannya tidak sempurna. Dioksin muncul karena pembakaran yang tidak optimal,” jelasnya.

Menurut Fadli, seluruh spesifikasi teknologi ini telah ditetapkan dan hanya teknologi yang memenuhi kriteria tersebut yang diperbolehkan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. “Ini bukan teknologi lama. Ini teknologi baru dengan standar tinggi dan karakteristik yang sudah disesuaikan dengan kondisi sampah di Indonesia.”

Kolaborasi dengan Penyedia Teknologi Lokal

Mayoritas penyedia teknologi berasal dari China, namun hal tersebut tidak serta-merta membuat teknologi yang digunakan sama dengan teknologi lama yang selama ini menuai kritik. Seluruh penyedia teknologi diwajibkan bekerja sama dengan perusahaan lokal Indonesia sebagai bagian dari skema alih teknologi (technology transfer).

Fadli menjelaskan percepatan proyek PLTSA menuntut seluruh tahapan berjalan secara paralel dan terkoordinasi. Pada 2 dan 12 Januari 2026, Danantara telah menerima proposal feasibility study dari berbagai anggota Daftar Penyedia Teknologi (DPT) yang sebelumnya telah melalui proses seleksi. “Ini penting karena kita tidak hanya membangun fasilitas, tapi juga membangun kapasitas nasional. Mereka punya teknologinya, tapi diwajibkan berkolaborasi dengan perusahaan lokal,” tegas Fadli.

Kritik terhadap Penggunaan Insinerator

Mengutip pernyataan Senior Advisor Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati, ia menyatakan bahwa sampah di Indonesia tidak layak untuk penggunaan insinerator. “Sampah Indonesia tidak layak untuk insinerator, pengeringan perlu waktu dan dana, leachate-nya juga harus diolah di Indonesia, tapi aturannya gak ada, lokasi insinerator juga tidak ada SNI,” ungkap dia.

Ia menegaskan penggunaan insinerator atau proses pembakaran dalam proses PLTSa justru akan menambahkan polusi baru dan tidak sesuai dengan tujuan PLTSa untuk mencapai target energi bersih. “Sampahnya tidak sesuai, dan kalau tidak layak bakar harus didorong pake batubara, ini akan menghasilkan abu lebih banyak lagi karena temperaturnya tidak bisa mencapai 1.000 (derajat Celcius),” ungkapnya.

“Kalau pembakaran tidak mencapai 1.000 artinya pembakaran tidak sempurna, maka racun yang terbentuk. Racun yang paling berbahaya ada racun dioksin. Itu adalah sumber racunnya,” tegas dia.

Related posts