Pengalaman Ujian sebagai Proses Belajar yang Kompleks
Bagi sebagian besar siswa, ujian bukan hanya sekadar proses mengerjakan soal dan menunggu nilai. Ujian adalah pengalaman belajar yang penuh makna, yang melibatkan kesiapan diri, harapan keluarga, serta kemampuan menghadapi tekanan dan tantangan. Hal ini dirasakan sebelum, selama, dan setelah ujian berlangsung.
Ketika negara menghadirkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai alat evaluasi pendidikan nasional, yang diuji tidak hanya penguasaan materi pelajaran, tetapi juga ketahanan mental dan lingkungan belajar para peserta. Pendidikan tidak pernah berlangsung dalam ruang hampa, karena proses belajar selalu terkait dengan kondisi psikis, sosial, dan kultural peserta didik. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan seperti TKA harus dipahami secara utuh, baik dari sisi administratif maupun sudut pandang kesehatan mental siswa.
Kebijakan Pendidikan yang Menyentuh Keresahan Masyarakat
Petisi penolakan yang beredar luas di ruang digital menjadi tanda bahwa kebijakan pendidikan selalu bersentuhan langsung dengan keresahan masyarakat. Pelaksanaan TKA 2025 menunjukkan realitas yang lebih kompleks. Dari sekitar 4,1 juta siswa SMA yang terdaftar, sebanyak 3,56 juta mengikuti ujian. Tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa TKA tetap diterima sebagai bagian dari sistem evaluasi nasional.
Dukungan juga datang dari kalangan pelajar. Contohnya, Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Riandhy Prawita, yang menekankan pentingnya melibatkan suara siswa agar kebijakan pendidikan tidak terlepas dari realitas lapangan. Dari sisi hasil, nilai rata-rata nasional TKA 2025 memang masih berada di bawah kategori memadai: Matematika 36,10, Bahasa Inggris 24,93, dan Bahasa Indonesia 55,38. Angka-angka ini sering dipahami sebagai kegagalan siswa, padahal dalam kerangka evaluasi pendidikan, tes terstandar sejatinya berfungsi sebagai titik awal untuk memperbaiki mutu pembelajaran, bukan alat pelabelan atau stigmatisasi.
TKA sebagai Pengalaman yang Memiliki Dimensi Kesehatan Mental
TKA tidak hanya peristiwa akademik, tetapi juga pengalaman yang memiliki dimensi kesehatan mental. Dalam dunia medis, dikenal pendekatan diagnostik holistik, yaitu cara menilai individu secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Pendekatan ini relevan untuk membaca pengalaman siswa saat menghadapi TKA tahun 2026, yang masa pendaftarannya telah dimulai.
Aspek Personal
Banyak siswa merasakan keterbatasan waktu, kesulitan soal, dan kecemasan terhadap hasil ujian. Keluhan ini subjektif, tetapi dampaknya nyata. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi individu terhadap tuntutan akademik sangat memengaruhi tingkat stres dan performa belajar. Oleh karena itu, persiapan yang matang, latihan soal yang memadai, serta manajemen waktu menjadi bekal penting untuk menjaga ketenangan siswa dalam menghadapi TKA.
Aspek Kecemasan
Sigmund Freud mendefinisikan kecemasan sebagai respons terhadap ancaman yang dirasakan individu. Dalam konteks TKA, ancaman tersebut bisa berupa rasa takut gagal atau ekspektasi berlebihan dari lingkungan. Kecemasan tidak selalu berdampak negatif. Dalam kadar tertentu, ia justru dapat meningkatkan kewaspadaan dan motivasi. Masalah muncul ketika kecemasan tidak terkelola dengan baik dan mulai mengganggu fungsi belajar.
Risiko Internal
Dalam dunia medis, dikenal istilah komorbiditas, yakni kondisi yang memperberat suatu penyakit. Dalam pendidikan, risiko internal dapat dimaknai sebagai kesiapan akademik dan mental siswa. Lemahnya penguasaan konsep dasar, minimnya pengalaman ujian, serta kelelahan mental dapat memperbesar tekanan psikologis. Studi menunjukkan bahwa simulasi ujian dan latihan berulang mampu menurunkan kecemasan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri siswa.
Risiko Eksternal
Dukungan orang tua, iklim sekolah, dan kualitas pembelajaran memegang peranan penting. Lingkungan yang suportif terbukti mampu menurunkan stres akademik dan meningkatkan resiliensi siswa. Sebaliknya, tekanan berlebihan justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis peserta didik.
TKA sebagai Alat Diagnostik, Bukan Vonis atas Kemampuan Siswa
Pada akhirnya, TKA perlu diposisikan sebagai alat diagnostik pendidikan, bukan vonis atas kemampuan siswa. Dengan pendekatan holistik, TKA dapat menjadi sarana refleksi bersama untuk memperbaiki sistem pembelajaran. Ini membantu sekolah, guru, dan negara memahami kebutuhan siswa secara lebih adil dan manusiawi.
Pendidikan yang baik bukan hanya melahirkan generasi yang cakap secara akademik, tetapi juga kuat secara mental dan berdaya sebagai manusia seutuhnya. Kita berharap, semoga TKA tahun 2026 segalanya menjadi lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







