Penemuan Mamalia Laut di Perairan Barat Sumatera
Hasil survei terbaru mengenai mamalia laut, khususnya cetacean, di perairan barat Sumatera telah dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Marine Science pada 2 Januari 2026. Survei ini menjadi yang pertama kali dilakukan menggunakan metode transek udara di wilayah tersebut, menjawab kebutuhan penelitian di perairan yang selama ini relatif kurang dipelajari meskipun memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi.
Survei ini mencakup jarak sepanjang 15.043 kilometer, setara dengan jarak dari Bali hingga Kanada. Kegiatan ini merupakan bagian dari ekspedisi OceanX Indonesia Mission yang dilaksanakan pada pertengahan 2024. Survei berlangsung antara Mei hingga Juli dan berhasil mencatat 77 penampakan dari 10 spesies mamalia laut. Salah satu temuan penting adalah konfirmasi pertama untuk jenis paus pembunuh atau paus orca (killer whale) dan paus pembunuh kerdil (pygmy killer whale) di wilayah barat Indonesia.
“Dengan tambahan temuan ini, total 23 spesies telah terdokumentasi di kawasan perairan barat Sumatera. Jumlah itu mewakili 68 persen dari total jenis cetacean yang diketahui ada di perairan Indonesia sejauh ini,” demikian bunyi bagian dari hasil studi tersebut.
Analisis pola sebaran cetacean dari survei menunjukkan adanya tujuh klaster habitat berbeda, yang terbentuk akibat perbedaan bentuk dasar laut dan tingkat produktivitas perairan. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika oseanografi memainkan peran penting dalam menentukan wilayah yang dimanfaatkan oleh paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatera.
Tim peneliti juga mengungkap alarm usai mengidentifikasi hotspot kepadatan tinggi, yang didominasi oleh spinner dolphin dan striped dolphin. Sebanyak 93 persen hotspot itu ternyata berada di luar kawasan konservasi laut yang ada maupun yang diusulkan.
“Overlap antara banyak habitat cetacean dengan aktivitas perikanan intensif dan lalu lintas maritim menggarisbawahi risiko potensial bagi spesies tertentu seperti paus pembunuh, paus Omura, dan paus sperma,” bunyi laporan studi.
Paus sperma di perairan barat Sumatera, 27 Mei 2024. Dok OceanX
Seluruh spesies yang ditemukan masuk dalam kategori terancam punah. Peneliti dalam studi ini mengidentifikasi hal tersebut sebagai penanda ketidaksesuaian antara jejaring kawasan konservasi saat ini dan distribusi aktual habitat penting cetacean, khususnya di wilayah perairan.
Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia dan penulis utama laporan penelitian, menyatakan bahwa hasil survei transek udara ini mengisi kekosongan data yang selama ini membatasi pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia. “Skala dan kualitas data ini memungkinkan perencanaan konservasi yang benar-benar berbasis bukti,” ucapnya dalam keterangan tertulis.
Selain dari Konservasi Indonesia, peneliti yang tergabung dalam tim ini berasal dari OceanXplorer New York, BRIN, Georgetown University Jakarta, Fujairah Research Center UEA, dan Buro Happold Arab Saudi. Mereka menilai temuan menegaskan kebutuhan akan pelindungan spasial yang terarah, perencanaan ruang laut adaptif, serta langkah mitigasi spesifik per spesies sebagai pelengkap upaya perluasan kawasan konservasi laut Indonesia menuju target 30×45.
“Temuan ini juga memperkuat pelaksanaan program inisiatif nasional Blue Halo S, yang fokus pada penguatan tata kelola perikanan, perlindungan habitat laut penting, serta pengembangan ekonomi biru berkelanjutan di perairan barat Sumatra,” kata Iqbal menambahkan.
Victor Nikijuluw, Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, menyatakan bahwa studi ini menyediakan baseline ekologi yang krusial dan secara presisi mengidentifikasi area prioritas, sehingga pelindungan dapat dirancang selaras dengan keberlanjutan pemanfaatan laut. Dia menambahkan, wilayah barat Sumatera memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk diusulkan sebagai Important Marine Mammal Area (IMMA), sejalan dengan statusnya sebagai Ecologically or Biologically Significant Marine Area (EBSA).
Lumba-lumba belang atau striped dolphin di perairan barat Sumatera, 10 Mei 2024. Dok OceanX
Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN Nugroho Dwi Hananto menyorot pentingnya armada kapal riset dengan berbagai peralatan riset canggih untuk bisa mengumpulkan data dan informasi tentang keanekaragaman biodiversitas dan sumber daya laut di Indonesia. “Kerja sama penggunaan Kapal Riset RV OceanXploration milik OceanX dengan melibatkan para periset dari BRIN, Konservasi Indonesia, dan perguruan tinggi kini telah menghasilkan temuan penting yang akan berdampak signifikan,” kata dia.
Vincent Pieribone, Co-CEO dan Chief Science Officer OceanX, juga melihat hasil studi ini sebagai kekuatan eksplorasi multi-platform di mana perangkat canggih dipadukan dengan kemampuan penelitian ilmiah yang kuat. “OceanX mendukung misi ini dengan mengintegrasikan operasi penerbangan, kapal, dan sistem data sehingga pengamatan udara dapat dihubungkan dengan informasi oseanografi dan dasar laut secara waktu nyata,” tuturnya.
Menurut Vincent, kemampuan tersebut membantu tim membangun gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana paus dan lumba-lumba memanfaatkan wilayah lepas pantai yang terpencil ini. “Temuan-temuan ini memperdalam basis data ilmiah untuk memahami ekosistem Sumatra bagian barat, dan kami bangga dapat berkontribusi pada sebuah studi yang memperkuat pengetahuan bagi pengelolaan laut jangka panjang,” kata dia.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







