Program Hunian Sementara untuk Korban Banjir di Aceh
Tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang menyiapkan pembangunan hingga 550 unit hunian sementara (huntara) bagi penyintas bencana banjir di Aceh. Proyek ini berawal dari pengalaman awal tim UGM yang membangun 100 unit huntara di daerah yang sama. Ketua Tim UGM, Ashar Saputra, menjelaskan bahwa kebutuhan unit huntara muncul dari kondisi riil di lapangan.
Di Desa Geudumbak, Langkahan, Aceh Utara, sekitar 430 rumah tercatat rusak berat hingga hancur akibat banjir. Dari jumlah itu, 330 unit huntara akan dibangun dengan dukungan penyediaan dan pengolahan kayu oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sementara itu, 120 unit lainnya direncanakan dibangun di Aceh Tamiang dengan dukungan BNPB dan Kementerian Kehutanan.
“Inisiatif ini bertujuan memindahkan penyintas dari tenda darurat ke rumah yang lebih sehat, aman, dan dapat berfungsi sebagai rumah keluarga,” ujar Ashar pada Kamis, 15 Januari 2026. Tim yang berasal dari Fakultas Teknik UGM itu memilih memanfaatkan kayu hanyut sebagai material utama agar pembangunan lebih cepat dan sesuai kondisi lapangan.
Kayu yang tersedia pascabencana diolah segera untuk mencegah penurunan kualitas. Menurut Ashar, sebagian kayu memang mengalami kerusakan, namun masih dapat dimanfaatkan melalui proses pemilahan. “Semakin cepat kayu diolah, semakin baik kualitas material yang bisa digunakan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, UGM menggandeng Rumah Zakat sebagai mitra donor sekaligus pendamping lapangan. Rumah Zakat berperan dalam pembentukan kelompok tukang dan pelatihan tenaga kerja lokal. Skema ini memungkinkan warga terdampak terlibat langsung dalam pembangunan rumah mereka.
“UGM berkontribusi melalui teknologi rumah yang aman, sehat, cepat dibangun, dan mudah dibuat. Rumah Zakat mendukung pengorganisasian tukang bersama warga,” kata Ashar. Keterlibatan warga juga diharapkan dapat menggerakkan kembali roda ekonomi lokal melalui skema uang lelah bagi para tukang.
Unit-unit hunian sementara dirancang dibangun dengan ukuran 6 x 6 meter dengan dua kamar tidur, satu ruang multifungsi untuk dapur atau ruang keluarga, serta teras. Kebutuhan kayu diperkirakan sekitar 4 meter kubik untuk rumah tanpa lantai panggung dan sekitar 5 meter kubik untuk rumah berpanggung. Material pendukung seperti atap galvalum, paku, baut, dan mur didatangkan dari luar lokasi.
Satu unit huntara idealnya dikerjakan enam orang, terdiri dari dua tukang utama dan empat warga sebagai pembantu tukang. Target awal pembangunan adalah empat hari per unit. Namun, pada tahap awal pelaksanaan, waktu pengerjaan masih berkisar enam hari karena proses adaptasi di lapangan. “Dengan pelatihan dan pengalaman, kami optimistis target empat hari bisa tercapai,” ujar Ashar.
Untuk mempercepat proses, pembangunan dilakukan secara paralel melalui pembentukan 15 kelompok tukang. Dengan skema ini, 15 unit rumah dapat dibangun secara bersamaan. Warga lain terlibat dalam pemotongan, pengolahan, dan distribusi kayu sesuai kebutuhan masing-masing unit.
Kondisi Warga 50 Hari Pascabencana
Menurut Ashar, antusiasme warga terdampak menjadi salah satu penopang keberhasilan program ini. Setelah hampir 50 hari tinggal di tenda yang kurang nyaman dan kurang higienis, mereka memang berharap segera menempati hunian yang lebih layak.
Penentuan penerima unit huntara dilakukan melalui musyawarah gampong dengan mempertimbangkan kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta keluarga yatim dan piatu. “Urutan pembangunan juga ditentukan lewat rembuk warga agar bantuan tepat sasaran dan adil,” kata Ashar.
Ke depan, UGM menilai pemulihan pascabencana perlu didukung sinergi lintas sektor. Hunian, kata Ashar, hanyalah pintu masuk. Kebutuhan lain seperti air bersih, sanitasi, fasilitas kesehatan, dan pendidikan juga harus segera dipenuhi agar pemulihan berjalan menyeluruh.
Di balik angka dan desain teknis, program ini menyimpan kisah kemanusiaan. Salah satunya dialami Misran dan keluarganya. Saat banjir melanda, ia, istri yang tengah hamil besar, dan tiga anggota keluarga lainnya bertahan selama tiga hari tiga malam di atas pohon sawit. Kini, rumah mereka telah selesai dibangun dan ditempati. Sementara belasan unit lainnya masih dalam proses pembangunan di lokasi yang sama.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







