Bulan Purnama dan Dampaknya pada Perilaku Hewan di Alam Liar
Bulan purnama sering dikaitkan dengan berbagai mitos dan cerita rakyat, seperti kemampuannya memengaruhi perilaku manusia atau bahkan mengubah manusia menjadi siluman. Meski semua ini hanyalah mitos, bulan purnama sebenarnya memiliki pengaruh nyata terhadap kehidupan hewan di alam liar. Mulai dari cara mereka berburu, berkembang biak, hingga menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya malam hari, banyak spesies hewan telah berevolusi untuk mengikuti siklus bulan.
Berikut adalah beberapa contoh bagaimana bulan purnama memengaruhi berbagai jenis hewan:
-
Terumbu Karang Mengadakan Pesta Reproduksi Massal
Setiap Desember, terumbu karang di pantai Australia melepaskan telur dan sperma secara bersamaan pada malam bulan purnama. Faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, dan ketersediaan makanan turut memengaruhi proses ini, tetapi tingkat cahaya bulan tampaknya menjadi faktor utama. Dengan menyinkronkan pelepasan, terumbu karang meningkatkan peluang pembuahan. Fenomena ini terlihat sebagai gumpalan merah muda yang bergelombang di permukaan air. -
Lalat Capung di Afrika
Di Danau Victoria, Afrika Timur, lalat capung menyinkronkan perkawinannya dengan siklus bulan. Dua hari setelah bulan purnama, lalat ini keluar dari fase larva airnya untuk bereproduksi. Karena masa hidup dewasa hanya satu hingga dua jam, mereka harus segera kawin dan bertelur. Cahaya bulan membantu mereka menemukan pasangan dengan cepat. -
Burung Nightjar Berburu Lebih Lama
Burung nightjar, yang berburu serangga di senja dan fajar, memperpanjang waktu berburu saat bulan purnama karena ada lebih banyak cahaya. Setelah bulan purnama berlalu, burung ini melakukan migrasi panjang ke Afrika Selatan. Mereka juga memastikan telurnya menetas saat bulan purnama agar anak-anaknya mendapatkan kondisi makan terbaik. -
Doodlebug Menggali Lubang Lebih Besar
Doodlebug, serangga yang membuat perangkap dengan menggali lubang, diketahui menggali lubang yang lebih besar selama bulan purnama. Para peneliti menduga hal ini disebabkan oleh mangsanya yang lebih aktif di bawah cahaya bulan. Namun, diperkirakan ada faktor lain dari siklus bulan yang berperan. -
Kalajengking Bersinar Biru di Bawah Cahaya Bulan
Kalajengking mengeluarkan cahaya biru di bawah sinar ultraviolet dari cahaya bulan. Ini terjadi karena reaksi antara sinar UV dengan protein di tubuh mereka. Semakin terang cahayanya, semakin mereka berusaha bersembunyi. Kalajengking lebih aktif saat bulan baru, dan cenderung mencari tempat berlindung di fase bulan lainnya. -
Satwa Liar dan Pasang Surut
Dampak paling nyata dari bulan purnama terhadap Bumi adalah perannya dalam terjadinya pasang surut. Hewan dan tumbuhan yang hidup di habitat pesisir, terutama di tempat-tempat dengan rentang pasang surut yang tinggi, telah beradaptasi untuk hidup di lingkungan ekstrem. Limpet, misalnya, menggunakan cangkang keras untuk melindungi diri dari gelombang dan kekeringan saat air surut. -
Musang Jadi Jarang Buang Air Kecil
Musang Eropa cenderung lebih sering mengangkat kakinya saat buang air kecil selama bulan baru dibandingkan saat bulan purnama. Buang air dilakukan untuk menandai wilayah, terutama saat hendak kawin. Proses kawin musang bisa berlangsung hingga 90 menit, membuat mereka rentan diserang. Bulan baru memberikan perlindungan lebih dari predator karena kegelapan yang meningkat.
Meskipun masih banyak yang belum dipahami tentang hubungan antara fase bulan dan perilaku hewan, bukti yang ada menunjukkan bahwa bulan purnama memang memiliki pengaruh signifikan pada berbagai spesies. Dari burung hingga serangga, hewan-hewan ini telah berevolusi untuk memanfaatkan atau menghindari cahaya bulan demi bertahan hidup. Penemuan-penemuan ini tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang alam, tetapi juga mengingatkan kita bahwa siklus alam, seperti bulan, memainkan peran penting dalam keseimbangan ekosistem.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







