Siklon Tropis Narelle dan Dampaknya di Wilayah Indonesia
Siklon Tropis Narelle adalah sistem badai tropis yang terbentuk di perairan Samudra Hindia bagian selatan Indonesia, tepatnya di sekitar laut antara Nusa Tenggara Timur–Nusa Tenggara Barat dan Australia. Sistem ini membawa dampak bagi sejumlah wilayah Indonesia, seperti NTT, NTB, dan Bali. Ada potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah terdampak akibat siklon ini. Para nelayan diimbau berhati-hati saat akan melaut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa sejumlah wilayah di Indonesia akan diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akibat dampak Siklon Narelle ini. Daerah yang paling berisiko mengalami hujan lebat meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain curah hujan, angin kencang juga berpeluang terjadi di sejumlah wilayah NTT seiring menguatnya sistem siklon tersebut.
Menurut laporan Kompas.com, dampak lain yang mungkin muncul adalah kenaikan tinggi gelombang di berbagai perairan Indonesia. Gelombang setinggi 1,25–2,5 meter diperkirakan muncul di beberapa wilayah seperti Laut Arafura bagian barat, Laut Sawu, perairan selatan Jawa Timur hingga NTT, serta Samudera Hindia selatan Jawa Timur dan selatan Bali. Sementara itu, gelombang yang lebih tinggi, mencapai 2,5–4 meter, berpotensi terjadi di Samudera Hindia selatan NTB dan Samudera Hindia selatan NTT.
Karena itu, masyarakat di Bali, NTB, dan NTT, terutama yang beraktivitas di pesisir atau bekerja di bidang pelayaran, diimbau untuk lebih waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem dan gelombang tinggi akibat pengaruh Siklon Tropis Narelle.
Apa Itu Siklon Narelle?
Siklon Tropis Narelle adalah sebuah sistem badai tropis yang terbentuk di perairan Samudra Hindia bagian selatan Indonesia, tepatnya di sekitar laut antara Nusa Tenggara Timur–Nusa Tenggara Barat dan Australia. Ini termasuk kategori badai tropis kuat yang berputar dengan pusat tekanan rendah dan angin kencang yang mengelilinginya, sebagaimana umumnya siklon tropis.
Kecepatan angin di sekitar pusat siklon ini umumnya melebihi 63 km/jam, dan dalam perkembangannya bisa meningkat ke kategori yang lebih tinggi (misalnya setara badai kategori 3–4) tergantung suhu laut dan kelembapan udara. Ciri khas Siklon Tropis Narelle ini adalah adanya angin kencang berputar, awan tebal, hujan lebat di sekitar pusat, serta gelombang laut yang sangat tinggi di perairan di sekitar siklon.
Meskipun pusat siklon berada di laut lepas dan tidak langsung menghantam daratan, pengaruhnya terasa sebagai perubahan pola angin dan tekanan, sehingga mendorong hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di sebagian besar pesisir selatan Indonesia. BMKG menyebut pembentukan dan penguatan siklon Narelle berpotensi memicu hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di wilayah seperti Bali, NTB, dan NTT, sehingga masyarakat diimbau tetap waspada cuaca ekstrem.
Fenomena Langit Merah
Munculnya Siklon Narelle menimbulkan fenomena langit berwarna merah di Australia Barat pada Jumat (27/3/2026) waktu setempat. Siklon Tropis Narelle awalnya berasal dari Bibit Siklon Tropis 96P pada 17 Maret 2026. Beberapa hari kemudian, tepatnya 21 Maret, sistem ini berkembang menjadi siklon tropis dan terus menguat hingga mencapai kategori 4 dengan kecepatan angin sekitar 200 km/jam saat berada di Samudra Hindia barat laut Australia, dekat kawasan Shark Bay.
Pergerakan Narelle terbilang tidak biasa karena berpindah dari Coral Sea menuju Samudra Hindia sambil tetap mempertahankan kekuatannya. Di wilayah Australia Barat, siklon ini memicu badai debu parah yang membuat langit tampak merah pekat, jarak pandang nyaris nol, serta menyebabkan pemadaman listrik dan kerusakan infrastruktur di Exmouth dan Shark Bay. Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa.
The New York Times menjelaskan bahwa langit merah terjadi akibat angin kencang dari siklon yang mengangkat debu berwarna karat dari tanah kaya zat besi. Debu itu kemudian membuat langit berubah menjadi merah seperti permukaan Mars. Fenomena serupa ternyata bukan hal baru. Pada 2019, langit merah juga muncul di sepanjang pantai timur Australia. Bahkan di Indonesia, peristiwa yang sama pernah terjadi di Jambi pada 2019 ketika kebakaran hutan menyebabkan langit memerah.
Perubahan warna ini dikenal sebagai “hamburan mie,” yaitu kondisi ketika cahaya matahari melewati partikel asap mikroskopis sehingga langit tampak berwarna merah.







