El Nino Raksasa

El Nino Raksasa

Cuaca Panas yang Menyisakan Kekhawatiran

Cuaca panas di bulan April akhirnya tiba. Saat itu, cuaca panas bukan lagi sekadar musim, melainkan ingatan berulang. Ia datang lebih awal dari biasanya, dan bisa jadi akan bertahan lebih lama, meninggalkan retak di tanah dan kecemasan di kepala.

Badan Riset dan Inovasi (BRIN) telah memprediksi bahwa cuaca di Indonesia dan sejumlah negara di dunia akan semakin panas dalam beberapa bulan ke depan sejak April 2026. Fenomena ini dikenal sebagai El Nino, namun BRIN menyebutnya dengan julukan lebih spesifik, yaitu El Nino Godzilla.

Menurut catatan BRIN, El Nino Godzilla di Indonesia akan disertai dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif hingga Oktober 2026. Kombinasi ini terdengar menarik, tetapi memiliki dampak yang cukup mengkhawatirkan.

Kombinasi ini membuat musim kemarau menjadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan semakin jarang turun. Awan juga akan lebih banyak muncul di Pasifik, sementara Indonesia hanya mendapat bagian panasnya saja.

Bayangkan saja, bulan April belum tiba, di Riau, api telah merambat tanpa suara ke 4.440 hektar lebih. Di Sumatera Utara, ladang tidak lagi menunggu panen, melainkan menunggu hujan yang tak kunjung tiba. Di Medan, pada hari Sabtu yang gerah, orang-orang merasakan sesuatu yang tak kasatmata. Bukan hanya panas, tetapi kekosongan. Air tanah menipis, dan sumur pun menjadi pertanyaan.

Krisis iklim, begitu kira-kira sebutan atas fenomena ini. Terdengar rapi, ilmiah, dan terkesan menyiratkan sesuatu yang tiba-tiba saja terjadi. Padahal, peristiwa itu adalah akumulasi dari keputusan kecil, pembiaran panjang, dan keyakinan lama bahwa alam selalu bisa dieksploitasi tanpa perlu diajak bicara.

Lihat saja, kalender dibuat seolah musim bisa diprediksi dengan patuh. Pertanian dirancang seolah tanah bersedia memberi cuma-cuma. Kota dan daerah tumbuh dengan keyakinan bahwa air tanah adalah tabungan yang tak akan habis.

Di kota-kota, orang mulai membeli air galon lebih banyak. Di desa, petani justru menatap tanah retak seperti membaca nasib yang tak lagi bisa ditawar.

Di sisi ini, rasanya kita perlu berhenti sejenak. Untuk merenung dan kemudian bertanya. Apakah ini sekedar krisis iklim atau tanda bahwa cara kita memahami dunia perlu ditata ulang atau diubah sekalian? Sebab, ini bisa jadi bukan hanya El Nino berikut bayangan monsternya. Ini bisa jadi sesuatu yang lebih dalam. Yakni, ketidakmampuan kita menerima bahwa kita bukan pusat, alam bukan latar, dan keseimbangan bukan hak, melainkan hasil dari relasi yang kian rapuh.

El Nino Godzilla dengan segala kekeringannya, seperti mengingatkan bahwa ada yang telah lama retak, jauh sebelum tanah itu pecah berkeping-keping.

Namun demikian, data-data di atas sepatutnya memperkuat kita untuk segera menetapkan strategi mitigasi yang spesifik di tiap wilayah. Minimal, pemerintah fokus pada beberapa risiko utama yang sudah teridentifikasi.

Misalnya, kekeringan di wilayah Selatan Indonesia yang berpotensi mengganggu ketahanan air dan pangan. Kedua, potensi banjir di wilayah timur laut yang masih memiliki curah hujan tinggi. Dan ketiga, ancaman karhutla di Sumatera dan Kalimantan yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Hal lain yang mesti diwaspadai adalah potensi kenaikan harga beras seiring ancaman gangguan produksi di dalam negeri. Sebab, struktur pertanian Indonesia saat ini masih rentan terhadap perubahan iklim, khususnya kekeringan.

Selain ancaman tersebut, ada peluang yang bisa dimanfaatkan secara maksimal. Yakni, peningkatan produksi garam. Kondisi panas dan minim hujan menjadi faktor ideal bagi petani garam untuk menggenjot produksi.

Dan ini baru pembahasan singkat Godzilla dalam definisi klimatologi. Ada sesuatu yang perlu dihadapi lebih lanjut, yakni sosial-ekologis yang dampaknya bisa saja sama ganasnya.


Related posts