Gapasdap usulkan tambah dermaga, hindari kemacetan mengerikan di Gilimanuk

Gapasdap usulkan tambah dermaga, hindari kemacetan mengerikan di Gilimanuk

Solusi untuk Mengatasi Kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk

Kemacetan yang terjadi di Pelabuhan Gilimanuk selama arus balik Lebaran 2026 menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan masyarakat, tetapi juga mengganggu kelancaran transportasi antar pulau. Untuk menghindari kejadian serupa di masa depan, Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyebrangan (Gapasdap) Pusat memberikan beberapa solusi strategis.

Masalah Utama yang Terjadi

Pelabuhan Gilimanuk merupakan pintu masuk utama dari Pulau Bali ke Jawa, sehingga sangat vital dalam lalu lintas penumpang dan barang. Namun, selama arus balik Lebaran 2026, kemacetan parah terjadi akibat panjangnya antrean kendaraan dan kapal. Warga menyebutnya sebagai “kemacetan horor” karena kondisi yang sangat memprihatinkan.

Gapasdap Pusat menilai bahwa penyebab utama kemacetan adalah kurangnya infrastruktur dermaga. Saat ini, hanya tujuh dermaga yang tersedia, namun jumlah kapal yang beroperasi mencapai 56 unit. Hal ini membuat banyak kapal tidak dapat beroperasi secara optimal.

Solusi yang Diajukan oleh Gapasdap Pusat

Gapasdap Pusat mengusulkan agar pemerintah segera menambah dermaga di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Menurut Ketua Umum Gapasdap Pusat, Khoiri Soetomo, penambahan dermaga akan menjadi langkah paling jelas dan masuk akal untuk menjaga kelancaran operasional pelabuhan.

“Kami dari operator menyampaikan bahwa jika pemerintah menambah dermaga, khususnya di lintasan Ketapang–Gilimanuk, maka kami menjamin tidak akan terjadi kekurangan kapal, baik dari sisi jumlah, kapasitas, maupun kecepatan layanan,” ujar Khoiri.

Selain itu, Gapasdap juga menyarankan pengembangan infrastruktur seperti penyambungan akses antara Dermaga Bulusan dan Dermaga IV. Ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan pelabuhan ke depan.

Pertimbangan dalam Pengembangan Lintasan

Beberapa opsi lain juga sempat dibahas, termasuk penggantian kapal dengan ukuran yang lebih besar. Namun, Khoiri menilai hal ini bukan opsi utama karena ada beberapa kendala. Misalnya, kondisi dermaga dan panjang lintasan yang relatif pendek (sekitar 2,5 mil) harus dipertimbangkan. Oleh karena itu, diperlukan ukuran kapal yang optimal, bukan sekadar besar.

Gapasdap juga mengusulkan agar kapasitas kapal tidak lagi diukur dari gross tonnage (GRT), melainkan berdasarkan kemampuan angkut kendaraan (line meter). Ukuran ini disebut lebih relevan dalam operasional penyeberangan.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan penambahan dermaga, peningkatan kapasitas kapal, serta optimalisasi operasional, Gapasdap yakin pelayanan penyeberangan akan menjadi jauh lebih baik dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara maksimal.




Related posts