Mencetak Uang dari Makanan Beku Anak

Mencetak Uang dari Makanan Beku Anak

Kehidupan Wulan dan Perjalanan D’Mamam

Wulan, seorang perempuan yang dikenal sebagai Widati Wulandari, memiliki kisah sukses dalam membangun bisnis makanan beku khusus untuk anak. Sebelum terjun ke dunia usaha, ia adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan multinasional. Saat masih bekerja, ia sering membeli makanan sehat untuk buah hatinya. Namun, hal tersebut menjadi inspirasi baginya untuk menciptakan usaha sendiri.

Pada tahun 2014, Wulan memutuskan untuk terjun ke dunia usaha dengan mendirikan D’Mamam. Awalnya, ia membuka usaha bubur bayi sehat. Modal awal usaha ini berasal dari uang pesangon yang ia miliki. Sayangnya, hasil yang diperoleh tidak optimal.

“Ternyata, pengalaman saya selama 10 tahun bekerja tidak ada apa-apanya ketika saya terjun di dunia usaha. Ternyata, beda banget,” ujarnya saat berbicara dalam Program Insthink Kementerian UMKM belum lama ini.

Kegagalan awal tersebut disebabkan oleh salah segmentasi pasar. Namun, semangat wirausaha Wulan tidak pernah padam. Pada tahun 2015, ia melakukan pivot dengan meluncurkan D’Mamam 2.0, yang fokus pada makanan beku sehat bagi balita tanpa penyedap rasa dan pengawet.

Awalnya, modal yang digunakan Wulan hanya sekitar Rp 500.000. Karena modal yang minim, ia hanya mengandalkan sistem pre order. “Jadi, begitu konsumen pesan, langsung saja saya bikin,” ungkap Wulan.

Rupanya, produk makanan beku sehat mulai mendapat tempat di pasaran. Seiring permintaan yang terus meningkat, D’Mamam mulai melirik pendanaan eksternal untuk ekspansi usaha. Wulan memilih salah satu penyedia dana, yakni equity crowdfunding di LBS Urundana. Tak disangka, dia berhasil meraup suntikan modal hingga sebesar Rp 1,4 miliar dengan melepas 16% saham usaha miliknya.

Ini menjadi modal bagi Wulan untuk naik kelas, dari industri rumahan menuju skala pabrik. Kini, operasional D’Mamam telah berpindah ke pabrik seluas 1.300 meter persegi (m²) di Bogor Barat. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi 50 ton hingga 80 ton per bulan.

Tak lupa, ia juga sudah menerapkan standar kualitas untuk produknya. Meski kapasitasnya besar, Wulan menyebutkan, saat ini serapan pasar baru mencapai sekitar 15 ton per bulan atau setara 20%-30% dari kapasitas produksi yang ada. Itu sebabnya, ia mulai memperluas jangkauan pasar.

Salah satunya, dengan memanfaatkan kanal penjualan online. Kini, sekitar 80% penjualan berlangsung secara daring melalui marketplace dan gudang penghubung (hub). Khusus untuk distribusi ke luar Jabodetabek, Wulan memberdayakan basis pelanggannya sendiri.

Hasilnya, sayap bisnis D’Mamam telah mengepak hingga ke Malaysia. Saat ini, produknya sudah tersedia di enam toko perlengkapan bayi (baby shop) di negeri jiran melalui pengiriman kargo. Dia pun berharap, produknya bisa lebih luas lagi menjangkau pasar domestik.

Related posts