Penertiban PKL di Kelurahan Tamalabba Mengundang Kekhawatiran
Kericuhan yang terjadi saat penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Kelurahan Tamalabba, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Anggota Komisi A DPRD Makassar, dr Udin Shaputra Malik, yang menyayangkan tindakan represif yang terjadi dalam proses penertiban tersebut.
Menurut Udin, pendekatan humanis dalam penertiban belum sepenuhnya dilaksanakan. Ia menegaskan bahwa meskipun pemerintah memiliki hak untuk melakukan penertiban, langkah-langkah yang berujung pada kekerasan tidak seharusnya terjadi. “Biar bagaimanapun pemerintah ada benarnya, artinya mempunyai hak,” ujarnya.
Namun, ia menilai bahwa tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan prinsip penghargaan terhadap hak-hak warga. Udin juga mengimbau semua pihak untuk menahan diri, terlebih karena situasi ekonomi masyarakat sedang sulit pasca Idulfitri. “Kedua, kondisi juga lagi susah. Daya beli masyarakat menurun, harga naik, inflasi di mana-mana, kemudian lapangan kerja juga berkurang,” katanya.
Fokus pada Penguatan Ekonomi Masyarakat Kecil
Udin Malik menyarankan agar Pemerintah Kota Makassar lebih fokus pada penguatan ekonomi masyarakat kecil, bukan hanya sekadar penataan estetika kota. Menurutnya, pemerintah harus mengalihkan fokus kebijakan dari pembenahan PKL dalam arti estetikanya, tetapi lebih kepada bagaimana menguatkan ekonomi rakyat.
Ia juga mengusulkan agar sebelum penertiban, PKL diberikan waktu pembinaan yang cukup, misalnya selama satu tahun guna meningkatkan kapasitas dan kesiapan mereka. “Saya sempat kepikiran kenapa sih sebelum digusur mereka itu tidak dikasih waktu satu tahun, dibina dulu,” ujarnya.
Potensi Konflik yang Meluas
Udin Malik mengingatkan bahwa konflik yang terjadi berpotensi meluas dan menimbulkan dampak berkepanjangan jika tidak segera ditangani dengan baik. Ia berharap ke depan penanganan PKL dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih bijak, dialogis, dan berorientasi pada solusi jangka panjang demi menjaga stabilitas sosial di masyarakat.
Sebelumnya, kericuhan bermula saat excavator yang hendak menggusur deretan kios di samping Depo Pertamina, dihalau warga. Satpol PP dibantu polisi merangsek maju dari arah Jl Moh Hatta. Warga yang semula berkerumun menghalau alat berat akhirnya terdesak mundur. Saat konsentrasi warga terpecah, alat berat perlahan maju ke arah kios. Beberapa dari mereka tetap memberikan perlawanan. Ada yang melempar batu, petasan hingga balok kayu.
Petugas yang mengawal alat berat dengan tameng tetap bertahan sambil berjalan maju. Saat excavator menabrak satu kios di ujung Jl Satando, warga kian bringas. Lemparan bertubi-tubi hingga petugas dan excavator kembali mundur hingga ke Jl Kalimantan. Beberapa warga dan petugas terluka. Ada terkena lemparan batu dan balok. Satu pemuda tampak diamankan petugas berpakaian sipil.







