Perang Diplomatik dan Pengusiran Perwakilan Spanyol dari Pusat Koordinasi
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengklaim bahwa Spanyol sedang melakukan “perang diplomatik” terhadap negaranya. Langkah ini diambil setelah ia memutuskan untuk mengeluarkan perwakilan Spanyol dari pusat koordinasi yang mengawasi gencatan senjata di Gaza. Keputusan ini diumumkan melalui pernyataan video yang dipublikasikan di platform X pada Jumat, 20 April 2026.
Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan tinggal diam terhadap sikap yang dianggap merugikan negaranya. Ia menyatakan, “Israel tidak akan diam menghadapi mereka yang menyerang kita.” Pernyataan ini dilansir oleh Al Jazeera pada 10 April 2026. Ia juga menuding Spanyol telah merusak reputasi militer Israel dan mencemarkan nama baik para pahlawan serta prajurit IDF, yang menurutnya adalah tentara dengan moral terbaik di dunia.
“Saya telah menginstruksikan hari ini untuk mengeluarkan perwakilan Spanyol dari pusat koordinasi di Kiryat Gat, setelah Spanyol berulang kali memilih untuk menentang Israel,” kata Netanyahu. Ia memperingatkan bahwa Israel tidak akan mentoleransi tekanan diplomatik semacam itu. “Saya tidak akan membiarkan negara mana pun melancarkan perang diplomatik terhadap kami tanpa membayar harga secara langsung,” ujarnya seperti dilansir Xinhua.
Netanyahu juga menyebut tindakan pemerintah Spanyol sebagai “fitnah berdarah” terhadap Israel dan militer negaranya. Keputusan ini berkaitan dengan Pusat Koordinasi Sipil-Militer (Civil-Military Coordination Center/CMCC) yang berlokasi di Kiryat Gat, Israel selatan. Fasilitas yang dipimpin Amerika Serikat tersebut didirikan pada Oktober 2025 sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata untuk mengoordinasikan stabilisasi dan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
CMCC juga merupakan bagian dari rencana yang didukung Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik di Gaza, dengan melibatkan personel militer dan diplomat dari berbagai negara. Namun, hubungan antara Israel dan Spanyol terus memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Ketegangan meningkat sejak Madrid secara terbuka mengkritik operasi militer Israel, serta mengakui negara Palestina pada 2024 dan menyuarakan penentangan terhadap perlakuan terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan.
Pemerintah Sánchez juga menentang operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari, serta menutup wilayah udaranya bagi pesawat AS yang terlibat dalam konflik tersebut. Selain itu, Sánchez baru-baru ini mengecam serangan Israel ke Lebanon.
“Netanyahu telah melancarkan serangan paling keras terhadap Lebanon sejak awal ofensif,” tulisnya di X. Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut mencerminkan “pengabaian yang tidak dapat ditoleransi terhadap nyawa manusia dan hukum internasional.”
Di tengah klaim adanya “gencatan senjata”, situasi di lapangan masih memanas. Israel dilaporkan terus melancarkan serangan hampir setiap hari ke Gaza, sementara pembatasan terhadap masuknya bantuan kemanusiaan tetap diberlakukan. Hal ini menunjukkan bahwa konflik masih berlangsung dengan intensitas tinggi, meskipun ada upaya diplomatis dari berbagai pihak.







