Nama Roberto Baggio kembali menjadi sorotan setelah kegagalan timnas Italia dalam memenuhi kuota untuk Piala Dunia 2026.
Untuk ketiga kalinya secara berurutan, tim yang memiliki empat gelar Piala Dunia tersebut harus absen dari ajang bergengsi ini. Kekalahan dalam adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina di final play-off Piala Dunia 2026, Selasa (31/3/2026), memaksa timnas Italia melakukan reformasi besar-besaran untuk mengatasi masalah sepak bola yang muncul dari akar.
Proyek perubahan ini sejatinya bisa dilakukan jauh lebih awal, sekitar 15 tahun lalu. Sayangnya, rencana revitalisasi total yang diajukan oleh Roberto Baggio dalam proposal sebanyak 900 halaman tidak dihiraukan oleh FIGC (Federasi Sepak Bola Italia).
Mantan pemain andalan yang memperkuat Gli Azzurri di Piala Dunia 1990 hingga 1998 itu ditunjuk sebagai kepala departemen teknis di FIGC pada Agustus 2010. Ia kemudian mempresentasikan dokumen bertajuk “Rinnovare il Futuro” – atau “Memperbarui Masa Depan” – kepada federasi pada Desember 2011 sebagai dasar mereformasi sepak bola Italia pasca-Piala Dunia 2010.
Pada edisi Afrika Selatan, Italia sebagai juara bertahan tersingkir dengan memalukan di fase grup karena kalah bersaing dari Paraguay, Slovakia, bahkan lebih buruk dari Selandia Baru. Hal ini membuat Baggio tergerak untuk menyelesaikan kekacauan tersebut. Ia menyusun rencana yang sangat detail dan visioner, bekerja sama dengan 50 orang untuk membangun ulang sepak bola Italia dari level terbawah.
Namun, proposal itu tidak dipedulikan oleh FIGC. Ada dugaan bahwa Baggio dicurigai ingin mengendalikan otoritas federasi. Akibatnya, mantan bintang AC Milan, Juventus, dan Inter Milan itu mundur dari jabatannya di federasi pada 2013.
“Saat kami mempresentasikannya, mereka membuat kami menunggu lima jam di ruangan, lalu hanya memberi waktu 15 menit untuk berbicara,” kenang Baggio, dikutip dari La Gazzetta dello Sport.
“Sepuluh bulan telah berlalu dan saya masih menunggu tanggapan. Saya tidak akan menyangkal bahwa saya juga sedikit kecewa.”
“Dana telah dialokasikan, tetapi sejauh ini hanya satu inisiatif yang telah dilaksanakan di Tuscany (Coverciano).”
“Saya berusaha memenuhi peran yang dipercayakan kepada saya, tetapi saya tidak diizinkan melakukannya, dan saya tidak lagi bersedia melanjutkan.”
“Saya bekerja merombak tim dari awal demi menciptakan pemain yang baik dan orang-orang yang baik. Saya mempresentasikan proyek pada Desember 2011, sebanyak 900 halaman, dan itu tetap menjadi surat mati.”
“Saya tidak suka menduduki jabatan, melainkan menyelesaikan pekerjaan. Jadi dengan berat hati saya memutuskan untuk pergi.”
“Saya mencintai sepak bola dan negara saya. Saya siap untuk inisiatif apa pun demi kebaikan olahraga ini,” ujar pria 59 tahun yang pensiun pada 2004 silam.
Visi 900 Halaman
Wajar jika Baggio kecewa karena visi yang ia paparkan 15 tahun silam ternyata masih relevan dengan kondisi sepak bola saat ini dan menyentuh berbagai sektor vital. Beberapa isinya antara lain menyerukan pembangunan fasilitas olahraga yang memadai dengan 100 pusat pelatihan berbeda yang dikelola oleh FIGC di 100 distrik berbeda. Tujuannya adalah mengadakan 50.000 pertandingan per tahun agar talenta muda Italia dapat terasah sejak level dini.
Secara teknis, Baggio juga ingin merevolusi pendekatan FIGC dalam menempa para pelatih. Caranya dengan fokus pada pelatih yang berpendidikan tinggi dan memiliki pengalaman profesional yang beragam, tapi tidak harus di bidang sepak bola. Tim kepelatihan ini dituntut mengubah metode menjadi lebih modern dengan menekankan teknik pemain, bukan lagi melulu soal taktik.
Segala pendekatan tersebut disertai penggunaan teknologi berbasis data dan sistem multimedia yang masif guna memonitor perkembangan para pemain muda secara komprehensif. Baggio percaya sistem tersebut akan memperkaya katalog pemain lokal yang hasilnya kelak bisa dituai demi memperkuat timnas Italia.
Para pelaku sepak bola Negeri Piza pun menilai apa yang diusulkan Baggio sangat relevan dan mungkin idenya ditinjau kembali sebagai dasar revolusi pasca-kehancuran tahun ini.
“Sepak bola Italia harus bangkit kembali, dimulai dengan tokoh-tokoh seperti Baggio, Del Piero, atau Maldini, mereka yang telah mewakili momen-momen indah dan ikonis dalam sejarah olahraga kami,” ujar jurnalis kondang Gianluca Di Marzio.
Penolakan terhadap ide brilian sang legenda bisa jadi adalah sumber kualat bagi nasib buruk timnas Italia belasan tahun terakhir ini. Mungkin ceritanya bakal lain jika proyek reformasi ala Baggio diterapkan sejak dulu sehingga Azzurri sudah bisa memetik hasilnya sekarang.
“Saya tahu bahwa Roberto, agennya, serta beberapa orang, telah melakukan banyak sekali pekerjaan. Kami telah mengusulkan Baggio kepada departemen teknis di Coverciano sebagai penghubung dan figur berpengaruh bagi sepak bola Italia.”
“Dokumen 900 halaman itu di antaranya berfokus pada pemain muda dan perkembangan mereka sebagai konsep yang saya setujui.”
“Saya mempelajari beberapa bagian dari dokumen itu, tetapi pada akhirnya bukan saya yang memutuskan,” ucap Renzo Ulivieri, Presiden Asosiasi Pelatih Italia, kepada Corriere.







