Presiden Amerika Serikat (AS), Donald John Trump, mengungkapkan bahwa militer AS telah meledakkan beberapa pesawat yang dianggap usang sebagai bagian dari operasi di wilayah Isfahan selatan. Tujuan dari tindakan tersebut adalah untuk menyelamatkan pilot jet tempur F-15E Strike Eagle yang melontarkan diri setelah ditembak jatuh oleh militer Iran (IRGC).
“Kami meledakkan pesawat-pesawat tua itu. Kami meledakkannya hingga berkeping-keping, karena kami memiliki peralatan di pesawat-pesawat itu yang, jujur saja, ingin kami bawa, tetapi saya rasa tidak ada gunanya menghabiskan empat jam lagi di sana,” ujar Trump dalam konferensi pers di Washington DC, Senin (6/4/2026).
Ia melanjutkan, “Jadi kami tidak menginginkan siapa pun; kami memiliki peralatan terbaik di dunia. Kami tidak ingin siapa pun memeriksa peralatan antipesawat dan peralatan kami lainnya.”
Pada Jumat (3/4/2026), media AS melaporkan bahwa militer AS melakukan operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran. Hal ini terjadi setelah pesawat tempur-pengebom supersonik F-15E Strike Eagle jatuh di atas wilayah Iran. Salah satu dari dua pilot segera ditemukan.
Menurut laporan Sputnik, Trump kemudian mengumumkan bahwa pilot kedua dari jet F-15E dari Pangkalan Lakenheath, Inggris, yang ditembak jatuh di Iran telah diselamatkan dan dalam keadaan aman. Menurutnya, puluhan pesawat AS turut serta dalam operasi penyelamatan tersebut.
Pejabat Amerika Serikat (AS) memberikan keterangan kepada berbagai media bahwa pilot F-15E Strike Eagle berhasil dievakuasi dari lokasi persembunyian. Selama bertahan, pilot berpangkat Kolonel itu menggunakan pelatihan wajib Survival, Evasion, Resistance, and Escape (SERE) demi menghindari penangkapan selama satu setengah hari.
Seorang pejabat pertahanan mengatakan kepada Axios bahwa pilot “terpisah beberapa mil” dengan “ratusan” tentara IRGC “di mana-mana.” Mendapati hal itu, operasi penyelamatan tersebut melibatkan ratusan pasukan khusus dan personel militer, serta puluhan jet tempur dan helikopter AS.
Operasi tersebut dilakukan pada malam hari setelah AS mendirikan pangkalan sementara di Iran, kata pejabat pertahanan tersebut kepada Axios. Israel berbagi informasi intelijen tentang situasi di lapangan, kata pejabat tersebut. Pejabat Israel mengatakan kepada Axios bahwa Angkatan Udara Israel melakukan satu serangan untuk menghalangi IRGC mencapai daerah persembunyian pilot F-15.
“Mereka telah menjadi mitra yang baik. Mereka adalah orang-orang yang hebat dan berani. Kami seperti kakak dan adik,” kata Trump kepada Axios.
Setelah pendaratan darurat, Kolonel tersebut mendaki punggung gunung setinggi 7.000 kaki dan bersembunyi di celah. Saat menghindari penangkapan, ia mengaktifkan suar darurat, yang memungkinkan pasukan AS untuk menemukannya, dua pejabat AS mengatakan kepada Fox News. Seorang pejabat militer mengatakan kepada The New York Times, sinyal yang diberikan oleh sang pilot terputus-putus.
Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel mulai menyerang sasaran di Iran, termasuk Teheran. Hal itu menyebabkan kerusakan dan menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil. Iran melakukan serangan balasan di wilayah Israel, serta sasaran militer AS di Timur Tengah.







