belum dapat terlayani pendanaan konvensional.
Tofan Saban, Ketua Klaster Pendanaan Produktif AFPI, mengatakan segmentasi tersebut adalah peluang bagi fintech P2P lending untuk mengucurkan pembiayaan.
AFPI 2025 beberapa waktu lalu.
Sementara dari sisi valuasi, Tofan memaparkan dari jumlah individu produktif tersebut ada kesenjangan kredit sebesar Rp1.650 triliun, sementara untuk jumlah UMKM yang belum terlayani terebut terdapat kesenjangan kredit yang diperkirakan mencapai sebesar Rp2.400 triliun.
“Jadi, apapun yang sudah dilakukan pemerintah yang sekarang berusaha bisa memberikan pembiayaan UMKM, tapi dengan jumlah yang sangat besar tadi ternyata masih kurang. Misalnya sekarang ada KUR, tapi secara jumlah relatif terbatas dengan kebutuhan yang ada,” kata Tofan.
Tofan mengatakan pasar yang segar tersebut bisa dimanfaatkan oleh industri P2P lending yang saat ini terdapat 97 perusahaan penyelenggara, di mana sebanyak 48 penyelenggara fokus pada pembiayaan multiguna dan sebanyak 49 penyelenggara fokus pada pembiayaan produktif.
“Oleh karena itu utuk segmen kami, baik P2P yang bermain di multiguna maupun produktif itu masuk ke segmen ini [peluang kesenjangan kredit],” tandasnya.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







