Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diundang Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai pemimpin negara pertama yang akan bertemu dengannya di Gedung Putih.
Undangan itu disampaikan dalam surat resmi yang menetapkan pertemuan pada 4 Februari.
Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk menjamu Anda sebagai pemimpin asing pertama di masa jabatan kedua saya,” tulis Trump dalam suratnya, Rabu (29/1).
, Trump menyebut pertemuan itu bertujuan membahas perdamaian di Israel dan negara-negara sekitarnya, serta strategi menghadapi “musuh bersama”
Hubungan Trump dan Netanyahu kerap naik-turun, tetapi Israel tetap menjadi sekutu utama AS di Timur Tengah.
Sepekan terakhir, Trump mencabut larangan pengiriman bom seberat 2.000 pon ke Israel—sebuah kebijakan yang sebelumnya diterapkan pemerintahan Biden sebagai protes atas serangan Israel di Gaza.
Trump juga sempat menyatakan bahwa Gaza akan “dibersihkan begitu saja” dan penduduknya—lebih dari 1,5 juta orang—dapat dipindahkan ke negara-negara Arab lain.
Pernyataan ini memicu reaksi tajam karena dianggap mendukung pemindahan paksa warga sipil Gaza.
Netanyahu saat ini tengah menghadapi tuntutan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang, termasuk penggunaan kelaparan sebagai senjata dalam perang di Gaza.
Jika surat perintah penangkapan dikeluarkan, maka lebih dari 120 negara anggota ICC memiliki kewajiban untuk menangkapnya jika ia berkunjung ke wilayah mereka.
Namun, AS bukan anggota ICC dan Kongres Partai Republik telah mengusulkan sanksi terhadap pengadilan internasional tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap Netanyahu.
Upaya itu ditolak oleh Partai Demokrat dalam pemungutan suara pada Selasa (28/1) lalu.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







