.CO.ID-JAKARTA.
Sejumlah emiten konstituen indeks BUMN20 dinilai bakal memiliki kinerja yang lebih baik di tahun
ini
. Hal itu juga terdorong dari naiknya target setoran dividen dari perusahaan pelat merah di
2025
.
Merujuk Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 201/2024 tentang Rincian APBN 2025, target pendapatan dari kekayaan negara dipisahkan (KND) mencapai Rp 90 triliun. Target tersebut naik 4,85% dari target tahun 2024 yang sebesar Rp 86 triliun.
Rinciannya adalah pendapatan bagian laba BUMN di bawah Kementerian BUMN sebesar Rp 89,17 triliun dan pendapatan bagian laba BUMN/lembaga di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebesar Rp 828,45 miliar. Untuk pendapatan bagian laba BUMN di bawah Kementerian BUMN sebesar Rp 89,17 triliun, ini terdiri dari BUMN Perbankan sebesar Rp 48,87 Triliun dan BUMN non perbankan sebesar Rp 40,29 triliun.
Per akhir November 2024, perusahaan BUMN juga sudah menyetorkan dividen ke kas negara sebesar Rp 86,4 triliun atau sekitar 100,6% dari target tahun lalu.
Selain itu, progres pembentukan Danantara dan peleburan emiten BUMN Karya juga menjadi perhatian lantaran melibatkan konstituen indeks BUMN20.
Di sisi lain, kinerja IDX BUMN20 per 24 Januari 2024 sudah berhasil naik 2,13% sejak awal tahun alias
year to date
(YTD). Kenaikan kinerja indeks ini melebihi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya tumbuh 1,22% YTD. Padahal, kinerja indeks BUMN20 sebelumnya turun 15,12% sepanjang tahun lalu.
TLKM
BBTN
Dikarenakan bobot terbesar ada di sektor perbankan, indeks BUMN20 ini memiliki korelasi yang sangat erat dengan berbagai sentimen yang dapat memberikan imbas pada sektor perbankan. Terutama, dari tiga bank terbesar.
“Selain itu juga perubahan dinamika dari
inflow
maupun
outflow
dari investor asing yang memiliki preferensi di saham perbankan juga memberikan imbas yang cukup signifikan terhadap indeks tersebut,” ungkapnya.
Senior Market Analyst
Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, kinerja kenaikan IDX BUMN20 sejak awal tahun didorong oleh meningkatnya harga saham emiten perbankan pelat merah secara YTD.
Ke depannya, Nafan menjagokan sektor perbankan yang dilihat bisa menopang kinerja IDX BUMN20. Hal ini juga didorong oleh emiten perbankan yang memang rajin melakukan pembagian dividen.
Di sisi lain, ada juga tren penurunan suku bunga acuan bank sentral yang bisa memberikan sentimen positif ke kinerja sektor perbankan BUMN. Efek utamanya dari sentimen ini adalah bisa meningkatkan kinerja pertumbuhan kredit perbankan.
“Komitmen rajin bagi dividen itu juga meningkatkan kepercayaan investor, sehingga ada faktor peningkatan likuiditas juga,” ungkapnya.
Selain perbankan, sektor yang dinilai bakal menopang kinerja IDX BUMN20 adalah sektor energi, basic material, dan infrastruktur.
TLKM
VP Marketing, Strategy and Planning
Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menilai, IDX BUMN20 mencatatkan performa positif lantaran didorong memulihnya saham konstituen perbankan pelat merah.
BJBR
Audi berpandangan, proyek Danantara dari pemerintah akan memberikan sentimen positif untuk konstitiuen BUMN20.
Di antaranya, berpotensi mengurangi redudansi dan memaksimalkan sinergi antarlembaga, meningkatkan fokus investasi dan diversifikasi untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan aset, serta meningkatkan dividen atau pendapatan dari investasi.
Danantara dinilai akan menjadi megaproyek dengan pengelolaan aset berpotensi mencapai US$ 600 miliar, atau lebih besar dari Temasek yang sebesar US$ 382 miliar. Meski demikian, investor perlu mewaspadai terkait transparansi serta kredibilitas pihak pengelola dana yang sangat besar.
“Karena jika ada penyelewengan maka potensi untuk menggaet investor asing akan cenderung alami kendala ke depannya,” paparnya.
Menurut Audi, sentimen relaksasi kebijakan suku bunga juga diperkirakan akan mendorong kinerja konstituen BUMN20, khususnya perbankan. Sebab, ada potensi normalisasi dari
cost of credit
(coc) yang saat ini tengah alami kenaikan.
Alhasil, konstituen IDX BUMN20 dari sektor perbankan, infrastruktur telekomunikasi, dan utilitas akan menjadi yang menarik di tahun ini.
“Ketiga sektor itu berpotensi masih menjadi penyumbang dividen terbesar ke negara,” ungkapnya.
BBRI
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







