Hamas Ancam Pembebasan Sandera Israel Bakal Ditunda Dulu, Ini Alasannya

Hamas Ancam Pembebasan Sandera Israel Bakal Ditunda Dulu, Ini Alasannya

Kelompok Hamas pada Senin (11/2/2025) mengancam untuk menunda pertukaran sandera-tahanan lebih lanjut, dengan mengatakan Israel perlu memenuhi kewajibannya berdasarkan gencatan senjata Gaza.

Juru bicara sayap bersenjata Hamas, Brigade Ezzedine al-Qassam, mengatakan dalam sebuah pernyataan, pembebasan sandera Israel berikutnya yang dijadwalkan Sabtu depan, 15 Februari 2025 akan ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Menurut Juru Bicara Abu Ubaida, dimulainya kembali pertukaran sandera-tahanan menunggu kepatuhan pendudukan (Israel) dan pemenuhan kewajiban beberapa minggu terakhir secara retroaktif.

Kelompok tersebut menuduh Israel gagal melaksanakan komitmennya berdasarkan gencatan senjata tepat waktu dan melanggar gencatan senjata, setelah tewasnya tiga warga Gaza pada Minggu (9/2/2025).

Dalam pernyataan selanjutnya, kelompok Hamas mengatakan pihaknya sengaja membuat pengumuman tersebut lima hari sebelum pertukaran berikutnya untuk memberi waktu yang cukup bagi para mediator guna menekan Israel agar memenuhi kewajibannya.

pada Selasa (11/2/2025).

Diketahui, pernyataan tersebut dikeluarkan saat para negosiator akan bertemu dalam beberapa hari mendatang di Qatar untuk membahas penerapan fase pertama gencatan senjata Gaza selama 42 hari, serta kemungkinan fase berikutnya yang belum diselesaikan.

Pembicaraan tentang fase kedua dimaksudkan untuk memulai hari ke-16 gencatan senjata, tetapi Israel menolak untuk mengirim negosiatornya ke Doha untuk itu.

Kelompok kampanye Forum Sandera dan Keluarga Hilang mengatakan pada Senin, mereka telah meminta bantuan dari negara-negara penengah untuk membantu memulihkan dan menerapkan kesepakatan yang ada secara efektif.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengatakan pengumuman Hamas merupakan pelanggaran total terhadap perjanjian gencatan senjata, yang menandakan bahwa pertempuran dapat dilanjutkan.

“Saya telah menginstruksikan IDF (militer) untuk bersiap pada tingkat kewaspadaan tertinggi untuk setiap kemungkinan skenario di Gaza,” terang Katz dalam sebuah pernyataan.

Militer Israel kemudian mengatakan, mereka telah meningkatkan kesiapannya di sekitar Gaza, dan memutuskan untuk memperkuat wilayah tersebut secara signifikan.

Ketegangan meningkat sejak usulan mengejutkan dari Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Jalur Gaza dan memindahkan lebih dari dua juta penduduknya dari Jalur Gaza.

Related posts