Isu Pertamax Oplosan, Moreno Soeprapto: Saya Tak Terima Pertamina Tercoreng

Isu Pertamax Oplosan, Moreno Soeprapto: Saya Tak Terima Pertamina Tercoreng

Anggota Komisi VII DPR RI Moreno Soeprapto, menegaskan bahwa nama baik Pertamina harus tetap dijaga dan tidak boleh tercoreng akibat ulah oknum yang diduga mengoplos BBM jenis Pertamax.

Hal itu disampaikan Moreno sebagai respons atas dugaan korupsi tata kelola minyak di PT Pertamina Patra Niaga, yang diduga dilakukan dengan mengoplos BBM Pertamax dan Pertalite.

“Intinya saya tidak terima label Pertamina itu tercoreng. Saya yakin ini oknum dan ini harus diluruskan,” ujar Moreno dalam rapat kerja bersama PT Pertamina Patra Niaga di Gedung DPR RI, Rabu (26/2/2025).

sekarang, ini sama aja mau merusak pemerintahan yang sekarang. Saya tidak rela,” ujar dia.

Mantan pembalap ini pun mendesak Pertamina memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai dugaan pengoplosan BBM yang terjadi dalam kurun waktu 2018 hingga 2023.

“Ini harus ada penjelasan yang komprehensif, penjelasan yang detail, bagaimana yang disebut pengoplosan itu dari tahun 2018 sampai tahun 2023,” kata Moreno.

Moreno lantas menceritakan pengalamannya yang telah bekerja sama dengan Pertamina sejak 1994 dan mengetahui kualitas dari produknya.

Politikus Partai Gerindra ini menilai produk Pertamina, baik oli maupun BBM, terus mengalami peningkatan, Pertamina bahkan mendapat pengakuan internasional di dunia otomotif.

Moreno juga mengungkapkan pengalamannya tidak menggunakan BBM Pertamina pada 2004.

Hasilnya, terjadi kegagalan pembakaran dalam mesin mobil yang digunakannya.

Dia pun menduga bahwa dugaan pengoplosan BBM tidak hanya terjadi pada produk Pertamina, tetapi juga merek lain yang diperjualbelikan di Indonesia.

dan pada saat pendistribusian seperti apa? Pencampuran dengan RON itu seperti apa? Apakah dari mulai kilang atau saat impor,” tutur Moreno.

Terlepas dari hal itu, lanjut Moreno, PT Pertamina Patra Niaga sebagai wajah terdepan Pertamina harus bisa menjaga kredibilitas perusahaan dengan menjamin kualitas produknya.

Dia juga berharap agar PT Pertamina Patra Niaga segera melakukan pembenahan di internal setelah terungkapnya dugaan kasus korupsi yang membuat kualitas produknya diragukan.

“Bayangkan, saya enggak perlu sebut mereknya, dunia luar itu minyaknya mereka, mereka langsung tahu kalau disebut ini, oh itu Saudi. Disebut ini, oh itu Italia. Disebut ini, oh ini Indonesia. Ini harus dijaga,” tutur Moreno.

“Nah tugas bapak ibu ini di sini adalah selain menjaga itu, harus berbenah di sini. Harus berbenah. Saya tidak rela (Pertamina rusak), karena saya dibesarkan dari dunia otomotif dan saya tahu betul kualitasnya Pertamina seperti apa,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tahun 2018-2023.

Melansir keterangan Kejagung, PT Pertamina Patra Niaga diduga membeli Pertalite untuk kemudian “diblending” menjadi Pertamax.

Namun, pada saat pembelian, Pertalite tersebut dibeli dengan harga Pertamax.

“Dalam pengadaan produk kilang oleh PT Pertamina Patra Niaga, tersangka RS melakukan pembelian (pembayaran) untuk RON 92 (Pertamax), padahal sebenarnya hanya membeli RON 90 (Pertalite) atau lebih rendah kemudian dilakukan blending di Storage/Depo untuk menjadi RON 92,” demikian bunyi keterangan Kejagung, dilansir Selasa (25/2/2025).

“Dan hal tersebut tidak diperbolehkan,” imbuh keterangan itu.

Dalam perkara ini, ada enam tersangka lain yang turut ditetapkan.

Mereka adalah Direktur Utama PT Pertamina International Shipping, Yoki Firnandi (YF); SDS selaku Direktur Feedstock dan Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional; dan AP selaku VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional.

Lalu, MKAR selaku beneficial owner PT Navigator Khatulistiwa; DW selaku Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim; dan GRJ selaku Komisaris PT Jenggala Maritim dan Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak.

Related posts