ke makam para auliya, ulama, atau wali terkenal.
Salah satu lokasi favorit ziarah adalah makam Syekh Abdul Muhyi di Kampung Panyalahan, Desa Pamijahan, Kecamatan Bantar Kalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Nama desa tersemat dengan nama besar Syekh Abdul Muhyi, yang lebih dikenal sebagai Syekh Pamijahan, murid Abdul Rauf as-Singkili, Aceh, dengan sanad keguruan ke Syekh Abdul Qodir Djaelani, ulama masyur tanah Arab kala itu.
Dekat areal pemakaman penyiar Islam di Tasikmalaya itu terdapat Goa Safarwadi, yang viral di media sosial dan disebut-sebut “memiliki jalan” ke Mekkah beberapa hari lalu.
Santri Cermin Hati, Cimaung, Purwakarta, Aba Farhan, mengaku memaknai kejadian ini secara literal karena mengundang berbagai spekulasi pro-kontra terkait kebenaran cerita itu secara logika.
Menurut dia, dalam buku sejarah Syekh Abdul Muhyi yang dijual bebas di sekitar tempat ziarah, disebutkan cerita itu lengkap dengan denah goa dan keterangan denah yang menunjukkan lokasi persis jalan menuju tempat-tempat tersebut.
“Saya memandang fenomena pro-kontra netizen ini sebagai urgensi kebutuhan literasi rohani, yakni memaknai sesuatu, termasuk sebuah tempat secara rohani atau karakter, sehingga orang awam tidak disibukkan dengan pro-kontra perebutan makna secara literal fisik. Hal ini karena pemaknaan seperti itu sangat rentan terhadap perdebatan,” kata dia kepada lewat telepon, Sabtu (15/2/2025).
Farhan menyebut, setelah viralnya narasi video jalan ke Mekkah di goa lewat media sosial, netizen Indonesia mengalami pro-kontra dalam komentarnya.
Padahal, Syekh Abdul Muhyi merupakan ulama dan seorang sufi yang sedang menjalankan ibadah riyadhoh zikir sehingga akan mendapatkan pengalaman rohani pada zaman itu.
“Tentu saja karena kebanyakan para netizen tidak memiliki alas logika yang cukup untuk memaknai itu semua. Andai saja mereka memahami logika Syekh Abdul Muhyi saat itu, pastilah tidak akan ada perdebatan karena beliau seorang Sufi,” kata dia.
Pada zaman itu, lanjut Farhan, keadaan sepi dalam Goa Safarwadi membuat Syekh Abdul Muhyi dan para muridnya mampu merasakan keramaian hati dan perasaan.
Akalnya berkecamuk antara unsur kebaikan dan keburukan karena memang begitulah sifat hati manusia.
Namun, bimbingan berkah guru mengaji akan membuat akal berketetapan untuk memilih unsur kebaikan.
“Sementara, Cirebon, Banten, dan Ampel Denta memang dikenal sebagai tempat berkumpul para auliya (wali) sehingga jika ada pernyataan bahwa Syekh Abdul Muhyi dan para muridnya saat di Goa Safarwadi itu sampai ke Cirebon, Banten, dan Ampeldenta, maka itu harus dimaknai secara karakter, yakni karakter para beliau sudah mencapai karakter para auliya, bukan tempat secara fisik,” ucap dia.
Seperti diketahui, salah satu karakter para wali atau auliya adalah tidak sedih atas masa lalu dan tidak merasa takut menghadapi masa depan.
Jika dikaitkan dengan keadaan masa itu, Tasikmalaya merupakan salah satu target wilayah penguasaan penjajah.
“Sehingga, amaliah para beliau dalam Goa Safarwadi membangkitkan keberanian para pejuang melawan penjajah,” tuturnya.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







