5 Film PFN yang Mengubah Propaganda menjadi Hiburan: Karya Populer Yang Wajib Dilihat

5 Film PFN yang Mengubah Propaganda menjadi Hiburan: Karya Populer Yang Wajib Dilihat

Produksi Film Negara (PFN) mempunyai jejak panjang di bidang perfilman Indonesia. Sebagai sebuah perusahaan film yang berasal dari era penjajahan Belanda, PFN telah berkembangan hingga saat ini.


PFN


Telah melalui banyak perubahan sampai akhirnya berkembang menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti yang kita ketahui saat ini. Sepanjang sejarahnya, PFN sudah menciptakan beragam karya film dokumenter, fiksi, serta seri televisi yang terkenal.


Film Dokumenter Awal Kemerdekaan

Menurut laman Ensiklopedia, produksinya adalah sebagai berikut:


Film


Perusahaan Film Nasional (PFN), sebagai salah satu BUMN dalam industri perfilman, menawarkan jejak historisnya yang mengesankan mulai dari permulaan abad kedua puluh ketika film perdana ditayangkan di Indonesia pada tahun 1900. Selain itu, produksi film fiksi pertamanya berjudul “Loetoeng Kasaroeng” tercipta pada tahun 1926.

Terlahir dari perusahaan film kolonial Belanda yang dikenal sebagai Java Pacific Film di tahun 1934, PFN telah melewati serangkaian pergantian nama dan fungsinya. Pada era penjajahan Jepang, ia berganti nama menjadi ANIF dan difungsikan sebagai alat propagandanya. Setelah proklamasi kemerdekaan, organisasi tersebut kemudian berubah lagi namanya menjadi BeritaFilmIndonesia (BFI), bertugas untuk merekam momen-momen signifikan negara. Selanjutnya, entitas ini tetap maju, menerima beberapa reformulasi struktural serta modifikasi status sebelum akhirnya terevolusi jadi Perum PFN pada tahun ’88. Tujuannya adalah menjadikannya sebuah badan usaha yang efektif dan otonom guna memfasilitasi pengembangan nasional lewat bidang perfilman.


1. Si Unyil

Dilansir dari



IMDb



Serial televisi Si Unyil merupakan salah satu produksi terbaik dari PFN yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Pertunjukan pertamanya di TVRI pada tahun 1981 menjadikan Si Unyil sebagai acara wajib bagi kalangan anak-anak saat itu. Menggunakan boneka sebagai tokoh utama, seri tersebut bukan saja hiburan semata, namun juga membawa pesan pendidikan serta nilai-nilai baik kepada penontonnya.


2. Pemberantasan Penyimpangan G 30 S PKI (1984)

Film Pembongkaran Pemberontakan G 30 S PKI merupakan salah satu karya kontroversial yang dihasilkan oleh PFN. Berdasarkan laporan,



IMDb



Film garapan Arifin C. Noor ini menyajikan cerita tentang Peristiwa G30S/PKI berdasarkan pandangan Pemerintahan Orde Baru. Menurut data dari IMDb, dulu film tersebut rutin ditayangkan tiap tahun di TV Indonesia. Tetapi, pasca runtuhnya Orde Baru, produksi cinéastis ini mendapat sorotan negatif akibat dinilai telah merubah fakta historis serta membentuk semacam kekaguman berlebihan kepada Soeharto.


3. Serangan Fajar

Serangan Fajar (1982) merupakan sebuah film semi-dokumenter tentang perang yang diarahkan oleh Arifin C. Noer. Berdasarkan informasi tersebut,



IMDb



Film ini menempatkan setting historis namun disajikan melalui cerita fiksi tentang seorang bocah bernama Temon. Ceritanya berkisar pada upaya rakyat Indonesia untuk menjaga kedaulatan negara mereka antara tahun 1945 hingga 1947 di wilayah Yogyakarta. Lewat karakter Temon, pembuatan film tersebut mencerminkan jiwa pahlawan serta dedikasi masyarakat dalam merebut kemerdekaannya. Seperti halnya film G30S, produksi ini pun ikut terpengaruh oleh aturan larangan penayangan film-film tertentu selama masa Orde Baru.


4. Djakarta 1966

Jakarta 1966 (1989) merupakan sebuah film dokumenter bergenre dramatis yang diarahkan oleh Arifin C. Noer serta diproduseri melalui PFN. Berdasarkan informasi dari



IMDb



Film ini adalah lanjutan dari “Penumpasan Pengkhianatan Coup September 30” dan menceritakan tentang kelahiran Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966. Kendati demikian, karya tersebut mendapat banyak penolakan akibar diduga merubah fakta historis serta menyajikan sudut pandang yang menguntungkan masa pemerintahan Orde Baru.


5. Kepanikan di Akhir Kereta (1981)

Dilansir dari laman



Film Indonesia



Film terakhir kereta api merupakan hasil pengarahsian Mochtar Soemodimedjo berdasarkan naskah asli karangan Pandir Kelana. Latar ceritanya berkisar pada kegagalan Perjanjian Linggarjati serta menceritakan pertempuran pasukan Indonesia dalam upaya mempertahankannya.

kereta api

Sebagai sarana transportasi vital, film ini menyajikan nuansa romantis yang mencerminkan heroik serta cerita cinta dalam konteks pertempuran untuk memelihara kemerdekaan.

Related posts