Presiden Amerika Serikat Donald Trump kian dekat dengan Vladimir Putin serta Rusia. Sepertinya pihak berwenang di AS lebih condong untuk memberikan dukungan kepada Taiwan dan Israel daripada membantu Ukraina.
Perang perdagangan melawan China dan Uni Eropa, sengketa tariff bersama negara-negara jiran seperti Canada dan Mexico, konflik di Gaza, penurunan bursa saham, serta protes atas pemutusan hubungan kerja masal: Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini tengah menghadapi tantangan dari berbagai arah.
Dalam situasi krisis saat ini, muncul pertanyaan tambahan: Bisakah Amerika Serikat biarkan Ukraina terjatuh? Sepertinya jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi ya dalam beberapa waktu. Meskipun telah dilakukan berbagai usaha tanpa hasil untuk menegosiasikan gencatan senjata singkat antara Kiev dan Moscow, banyak elemen yang mendukung kemungkinan tersebut.
Trump baru-baru ini menyinggung topik itu sendiri. Pada sebuah wawancara dengan saluran televisi Amerika Serikat Fox News usai konfrontasinya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di White House pada tanggal 28 Februari kemarin, Trump dimintakan pendapatnya oleh pembawa acara Maria Bartiromo tentang kekhawatirannya mengenai ide yang menyatakan Ukraina “mungkin tidak dapat bertahan hidup”. Dia menjawab untuk Fox News: “Nah, bisa jadi memang seperti itu.”
Ukraina bukan prioritas utama
Mantan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pun menggarisbawahi bahwa Ukraina tidak menjadi fokus utama bagi pemerintahan Trump saat dia memberikan kesaksian dalam sesi tanya jawab di depan Komite Urusan Luar Negeri Senat pada tanggal 15 Januari kemarin.
Rubio menjelaskan bahwa Amerika Serikat bakal tetap membantu sekutunya yang paling dekat, tanpa ragu disebutkan nama Taiwan dan Israel. Terhadap situasi di Ukraine, dia berpendapat telah tiba waktunya untuk bersikap “realistik” serta merekomendasikan agar kedua belah pihak perlu melakukan “pengorbanan”.
Namun demikian, menurut pernyataannya yang dikemukakan saat kepemimpinan Presiden Trump, fokus utama Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat adalah negara mereka sendiri. Uang warga berupa pajak harus dialokasikan secara eksklusif untuk mendukung kepentingan A.S., serta setiap pengeluaran diperiksa dengan cermat guna memverifikasi tingkat ketercapaiannya.
Pada artikel yang dipublikasikan di The Guardian beberapa waktu lalu, Stephen Wertheim, seorang ahli kebijakan luar negeri AS dari Carnegie Endowment for International Peace, menyatakan bahwa tak satupun negara-negara anggota NATO turut serta dalam memberikan perlindungan kepada Ukraina secara langsung. Menurutnya alasannya cukup sederhana: hal tersebut akan memicu konflik dengan Rusia dan meskipun demikian, ancaman perang bisa dihindari selama mungkin melalui pendekatan NATO, tanpa peduli situasi apapun yang berkembang di Ukraina.
“Bila Ukraina serta Eropa tetap menuntut janji perlindungan Amerika Serikat yang solid, kemungkinan mereka meraih kesuksesan amat tipis, selain itu kans mereka dalam menghadirkan retak permanen antara Trump pun bertambah lebar,” imbuhnya.
Apakah Ukraina cuma jadi bahan permainan dalam hubungan antara Rusia dan AS?
Stefan Meister, ahli bidang Eropa Timur, Rusia, dan Asia Tengah dari German Council on Foreign Relations, secara tajam mengkritik sikap Trump yang menolak untuk memberikan jaminan keamanan kepada Ukraina.
Presiden AS telah dengan signifikan melemahkan kedudukan negosinasinya serta posisinya di perundingan bersama Ukraina, ungkapnya pada stasiun televisi Jerman SWR. “Mengapa Moskow akan mau berbuat koncesi saat Presiden AS sudah mengusulkan separuh dari keinginan Rusia?”
Lebih lanjut, Stefan Meister menyampaikan kekhawatirannya bahwa Ukraina bisa dilupakan secara sepihak ketika kembali normalnya hubungan antara Rusia dan AS. Menurutnya, kesan dari tindakan Trump sepertinya sama sekali tak mempedulikan nasib Ukraina. Dia menambahkan bahwa Ukraine mungkin cuma dianggap sebagai ‘bujukan’ yang diserahkan kepada Rusia untuk mendapatkan sesuatu dalam pertukaran tersebut.
Ini bisa berhubungan dengan masalah-masalah yang dibahas oleh Rubio: situasi di Israel serta perdamaian di kawasan Timur Tengah, interaksi dengan Cina, kebijakan mengenai Iran, dan peningkatan hubungan antara Washington dan Moskow.
Robert Kagan dari Amerika Serikat tidak berpura-pura. Ia menyebut ide tentang mempromosikan demokrasi di daerah lain dunia sebagai sesuatu yang bukan milik Trump. “Sepertinya dia tak ragu-ragu dalam merancang ‘kesepakatan’ bersama rezim Vladimir Putin tanpa perlu melibatkan pihak Eropa.”
Diambil dari artikel DW dalam Bahasa Jerman.
Indonesia:
Penulis Konten: Astrid Prange de Oliveira
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







