Pada satu periode tertentu, kompetisi di kalangan pabrik pembuat smartphone benar-benar ditandai oleh pertandingan serangkaian model premium dari setiap merk. Dalam dekadenya tahun 2010-an, perusahaan besar ternama seperti Samsung, Apple, HTC, serta LG berlomba-lomba untuk menduduki posisi teratas dalam ajang itu.
Zaman emas untuk pertempuran kapal terbaik berlangsung cukup panjang.
Pada awal 2010-an
, kita dihadapkan dengan beragam seri ponsel unggulan seperti Samsung Galaxy S dan HTC One. Setelah itu, dari tahun 2014 hingga 2017, banyak penemuan baru muncul pada perangkat premium ini. Termasuk layar lengkung yang ada pada Galaxy S, kemampuan kamera luar biasa dari Google Pixel, serta teknologi pengenalan wajah Face ID yang diperkenalkan oleh iPhone X.
Terakhir, di periode 2018 hingga 2019, kita menonton pertandingan pamungkas sebelum persaingan antara ponsel flagship mereda. Saat itu, kita disuguhkan dengan fitur zoom kamera tanpa preseden, mencapai hingga 50 kali lipang pada Huawei P30. Di samping itu, upaya membalik atau melipat smartphone berbasis Android akhirnya sukses dicapai sepenuhnya oleh Samsung melalui seri-nya.
Galaxy Fold
.
Selama periode emas dalam persaingan smartphone kelas atas, setiap produsen elektronik menginvestasikan teknologi terkini mereka ke dalam satu model ponsel cerdas yang harganya jauh lebih tinggi dibanding varian lain. Pada zaman tersebut, produk unggulan ini mewakili titik tertinggi inovasi dan dengan demikian dapat menunjukkan betapa maju perkembangan industri ini telah bergerak.
progres teknologi suatu merek
Namun, menjelang pertengahan tahun 2020-an, keadaannya sudah berubah secara signifikan.
Saat ini perang produk unggulan di dunia smartphone tampak berbeda dari sebelumnya. Kekhasannya telah menurun dengan signifikan dibanding masa lalu. Sampai akhirnya, muncul suatu pertanyaan: apakah smartphone unggulan masih penting dalam industri saat ini?
Kesenjangan Performa Makin Tipis
Smartphone kelas atas tidak banyak bedanya dengan sepeda motor yang digunakan dalam ajang MotoGP. Itulah tempat dimana teknologi terkini diperkenalkan dan dicoba secara perdana. Meski demikian, perlahan-lahan, kreasi tersebut akan disebarkan juga ke varian-varian dibawahnya.
Teknologi kopling
Assist and Slipper
(A&S), contohnya, yang tadinya dirancang untuk lomba motor seperti MotoGP, saat ini sudah disesuaikan untuk sepeda motor biasa. Salah satu produk tersebut dapat Anda temui dalam berbagai kendaraan bermotor harian.
Yamaha seri YZF-R9
.
Peristiwa serupa juga dialami oleh ponsel pintar. Fitur-fitur yang sebelumnya hanya ada pada model high-end, misalnya layar dengan kecepatan refresh tinggi, pengisian baterai yang cepat, serta kamera berbasis teknologi AI, saat ini sudah dapat ditemukan dalam rentang harga yang lebih murah. Belum lagi perbedaan spesifikasi keras antara seri-seri produk pun semakin lama menjadi tidak begitu mencolok.
Mantannya, gadget premium adalah satu-satunya opsi untuk orang-orang yang membutuhkan kemampuan optimal bersama dengan chipset terkini, setup RAM tertinggi, serta kecepatan storage terunggul. Di sisi lain, smartphone mid-range kerap kali menjadi kurang responsif seiring berjalannya waktu, biasanya dalam rentang satu sampai dua tahun penggunaan.
Kini, semuanya berbeda.
Prosesor tingkat sedang telah sangat powerful.
Dengan demikian, kebanyakan tugas (task) bisa diselesaikan dengan lancar. Smartphone yang diperkuat oleh varian Snapdragon 7 Gen ataupun prosesor A-Series versi terdahulu dari Apple akan mencukupi untuk mengoperasikan aplikasi berat, memainkan game kelas atas, serta mendukung pekerjaan yang melibatkan teknologi AI.
Perbedaan antara chipset flagship dan kelas menengah masih ada. Akan tetapi, bagi kebanyakan pengguna, hal itu tidak lagi terasa dalam penggunaan sehari-hari.
Ternyata, kualitas layar yang dahulunya merupakan kelebihan signifikan pada perangkat premium, sekarang bukan lagi suatu istimewaan. Kecepatan refresh tinggi, panel OLED, serta ketepatan warna yang meningkat, saat ini telah menjadi norma dalam smartphone segmen tengah. Meskipun demikian, tetap ada variasi “premium” dari elemen-elemen tersebut seperti panel LTPO berkecepatan 144Hz. Akan tetapi, permintaannya tak begitu besar hingga membuat layar tipe menengah juga sudah sangat memadai untuk pengguna umum.
Durasi Penggunaan yang Panjang Bersama Dukungan dari Perangkat Lunak
Hingga beberapa tahun silam, salah satu masalah utama ketika membeli telepon seluler cerdas dengan harga standar adalah seputar dukungan perangkat lunaknya. Tradisionilanya, smartphone berkualitas tinggi menerima lebih banyak dukungan melalui beragam pembaharuan pada sistem operasinya. Di sisi lain, varian yang lebih ekonomis kerap kali diabaikan dan jarang mendapatkan pembaharuan setelah kurun waktu dua hingga tiga tahun penggunaannya.
Akan tetapi, situasi tersebut saat ini sudah berbeda. Merk terkenal seperti Samsung, Google, dan Apple, telah mengembangkan dukungan untuk perangkat lunaknya ke seluruh seri ponsel pintar yang mereka miliki.
Samsung menyediakan
Pembaharuan sistem operasi serta pembaruan keamanan
Selama enam tahun, termasuk bagi perangkat Galaxy A-Series. Google memberikan masa dukungan perangkat lunak yang sama melalui seri Pixel-nya. Sementara itu, Apple pun demikian, tetap menghadirkan pembaruan perangkat lunak untuk iPhone hingga lima tahun atau lebih, meski untuk versi lawas sekalipun.
Ini berarti bahwa seseorang tidak harus membeli seri flagship agar perangkat dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.
Faktor penting lainnya yang harus diperhatikan adalah peningkatan performa software. Seiring waktu, masalah lag pada sistem Android sudah banyak teratasi. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan sumber daya yang lebih efektif serta optimasi menggunakan teknologi AI, sehingga meskipun perangkat cukup tua, mereka masih bisa beroperasi dengan mulus saat mendapatkan update baru. Karena alasan tersebut, permintaan untuk hardware high-end semakin menurun.
Fitur Premium Kini Tidak Lagi Terbatas
Pada masa lalu, smartphone kelas atas dikenal karena menyertakan fitur unggulan yang belum ada pada perangkat lainnya. Fitur-fiturnya meliputi kamera berkualitas tertinggi, charging cepat, serta desain mewah. Tetapi saat ini, sebagian besar fitur tersebut sudah tersedia dalam smartphone dengan harga lebih terjangkau.
Kamera menjadi teladan utama. Teknologi fotografi komputasional telah memperbaiki mutu gambarnya dengan pesat, sehingga perangkat smartphone tingkatan tengah bisa mencapture foto-foto berkualitas luar biasa di bermacam-macam situasi.
Banyak smartphone berharga terjangkau saat ini sudah dibekali dengan beberapa kameranya, sistem stabilisasi gambar optik, serta fitur mode malam yang canggih. Walaupun perangkat flagships tetap memberikan kualitas foto terunggul di pasaran, gap antara kedua jenis tersebut semakin sempit sehingga banyak pengguna biasa sulit membedakannya, kecuali bagi para fotografer profesional ataupun creator konten.
Daya tahan baterai dan kecepatan pengisian daya juga telah meningkat di semua kategori harga. Beberapa ponsel kelas menengah kini menawarkan
pengisian daya cepat
hingga 100W hingga 120W, yang membolehkan pengisian daya baterai mencapai penuh dalam jangka waktu kurang dari setengah jam.
Kapasitas baterainya pun sama. Bahkan tanpa membutuhkan energi ekstra dari layar dengan resolusi sangat tinggi atau prosesor high-end, banyak perangkat tipe mid-range malah bisa bertahan lebih lama pada satu kali pengisian daya jika dibandingkan dengan varian flagshiptenannya.
Dalam hal desain dan ketahanan, smartphone high-end mengadopsi bahan-bahan premium seperti pelapis keramik, titanium, serta aluminium berkaliber tinggi. Tetapi, telepon pintar kelas tengah saat ini semakin tangguh. Banyak dari mereka telah mendapatkan sertifikat kedap air, proteksi Corning Gorilla Glass, dan peningkatan mutu komponennya secara menyeluruh. Meskipun perangkat high-end tampak lebih elegan dalam genggaman Anda, bukan berarti mereka pasti memiliki durabilitas atau fungsi yang superior.
Smartphone kelas atas saat ini tak hanya sekadar untuk keperluan, tetapi lebih kepada citra dan kemewahan. Dapat dikatakan, seri flagship terbaru belum tentu memberikan perbaikan besar-besaran; mereka cenderung mengoptimalkan fitur yang juga tersedia pada varian menengah. Maka pertanyaannya, apakah masih rasional membeli smartphone premium tersebut?
Well, bagi sebagian orang, membeli seri flagship memang masih masuk akal. Jika seseorang membutuhkan kualitas kamera terbaik, performa tertinggi untuk bermain gim, atau tool AI paling canggih, flagship tetap selayaknya jadi pilihan utama. Akan tetapi, sebagian besar pengguna tidak membutuhkan itu semua karena ponsel kelas menengah pun
sudah dapat memenuhi keperluan mereka
.
Di luar mereka yang membutuhkan fitur canggih, konsumen dari telepon pintar kelas atas lebih menekankan pada aspek status daripada fungsionalitas. Meski demikian, hal tersebut tidak menjadikan arti dari smartphone premium menjadi hilang dengan sendirinya. Apa pun itu, produk ini mencerminkan inovasi di industri gadget. Setiap kali ada perkembangan besar lainnya, kami pasti akan melihat dampak pertamanya muncul di model terkini dari seri flagship, suatu saat nanti.







