Biodata Lengkap Putri Karlina, Anak dari Kapolda Metro Jaya, yang Memimpin Ormas hingga Sukses dan Haru



– Meneliti lebih jauh tentang figura Putri Karlina, yang merupakan Wakil Bupati Garut.

Umurnya baru menginjak 32 tahun ketika dilantik sebagai wakil bupati.

Ia merupakan putra dari Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Karyoto.

Karlina Putri adalah seorang dokter gigi yang berasal dari sebuah keluarga berkarir di kepolisian.

Dia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan gelar dokter gigi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Bukan hanya sang ayah, Putri Karlina juga diketokohkan oleh seluruh keluarganya yang terdiri dari para jenderal.

Pamanya, Irjen Pol (Purn) Mulyatno, adalah mantan Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Utara.

Pamannya yang lain, Brigjen Pol Suyanto, adalah seorang alumni Akpol dari tahun 1991.

Brigjen Pol Suyanto ditunjuk sebagai pemimpin di Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), mengambil peran sebagai Direktur Penyelenggaraan dan Pemberdayaan untuk Wilayah Asia serta Afrika.

Adik dari Irjen Pol Karyoto yang bernama Tante Putri Karlina berkarir dalam sektor kesehatan.

Dia adalah Rohyatin yang saat ini menjabat sebagai pegawai di RSUP Dr Kariadi Semarang.

Banyak orang tidak menyadari bahwa Putri Karlina merupakan calon mertua dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Diketahui saat ini, wanita kelahiran 14 Maret 1993 tersebut menjalin hubungan dengan Maula Akbar, putra sulung Dedi Mulyadi.


Gertak ormas

Wakil Bupati Garut, Putri Karlina kini ramai jadi perbincangan setelah aksi beraninya menggertak ormas yang melakukan sweeping warung makan.

Aksi Putri Karlina meminta ormas untuk tidak anarkis di Garut itu pun viral di media sosial.

Saat melakukan rapat Forkopimda, Sabtu (8/3/2025), Putri Karlina bahkan sampai berbicara dengan nada tinggi hingga menangis.

Hal itu setelah viral di media sosial aksi oknum ormas yang melakukan sweeping ke warung makan pada siang hari di bulan Ramadhan.

Pada video itu, sejumlah oknum membubarkan warga yang sedang makan dengan cara anarkis.

Mereka membanting barang-barang bahkan diduga menampar seorang warga.

Pada rapat bersama Bupati, perwakilan ormas itu mengeluarkan pernyataan yang membuat Wabup Putri Karlina meradang.

“Jangan memancing umat Islam di Garut untuk bertindak, ” demikian pernyataan yang disampaikan oleh seorang pria bercelana putih dan menggunakan peci putih, seperti dilaporkan melalui akun Instagram @wakilbupatigarut.

Dia menyebutkan bahwa timnya tidak memiliki persoalan dengan warga Non-Muslim.

Bila berbicara tentang orang-orang Non-Muslim, Alhamdulillah, dalam aliansi kami telah bertemu dan bersatu dengan HBB, kemudian juga dengan PBB, sehingga saat ini tidak ada lagi masalah dengan mereka.

“Tetapi masalahnya ada pada paraMuslimsendiri,” ungkapnya.

Putri Karlina menggarisbawahi bahwa tindakan ormas yang membubarkan penduduk dengan metode anarkis adalah suatu kekeliruan.

Hanya fokus utama hari ini adalah mengenai kekerasan, akhirnya hal tersebut menciptakan gambaran negatif terhadap Kabupaten Garut.

Sudah terhubung kesana atau belum? Apakah Ceng Aam sudah terhubung kesini?

Jika contohnya melalui tindakan anarkis, nama baik Garut merosot, bagaimana kedepannya?,” ujar Putri Karlina sambil menunjuk pria berkoko tersebut.

Ia bahkan berani mengecam ormas itu karena tertawaan di pertemuan tersebut.

Tadi saya sebenarnya tidak setuju dengan ungkapan ‘jangan sampai membuat kami bereaksi’.

“Pak, jika saya inginkan, saya dapat mengancam Satpol PP, saya dapat melakukan hal serupa. Namun, bisakah itu mencerminkan citra Wakil Bupati dengan baik?” tanya Putri kembali.

Karena menurutnya, sebagaimana layaknya seorang pemimpin, dirinya harus bisa berkomunikasi dengan bijaksana tanpa menyakitkan siapa pun, betapapun marahnya dia.

“Saya benar-benar kesal dengan Ceng Aam terkait insiden ini, Pak. Saya sangat kebingungan mengapa dia masih bisa tersenyum seperti itu,” tambah Putri Karlina.

Menurut Putri, perbuatan orang gila yang merusak warung makan tidak mencerminkan upaya untuk membuat Kabupaten Garut menjadi lebih baik.

Putri Karlina malah mengusulkan agar organisasi kemasyarakatan tersebut dihapuskan sama sekali.

Biar lebih baik dihentikan saja begitu, Pak. Apalagi kalau memang berniat buruk.

Jika malah digunakan untuk penyalahgunaan dan digunakan sebagai pembenaran untuk tindakan-tindakan yang salah, lalu mengapa kita harus bertahan?” tandasnya.

Dia juga menyebutkan alasannya mengapa sebagian orang melakukannya yaitu karena di Garut terdapat banyak pesantren.

Putri malah menyarankan agar pihak pesantren memberi dampak yang baik dari kedatangannya.

“Bukan hanya karena di Garut memiliki banyak pesantren dan orang-orang yang mengaku berdasarkan agama, begitu juga caranya,” ujarnya.

Putri Karlina bahkan mendorong organisasi kemasyarakatan agar bersama-sama menciptakan gambaran positif yang menunjukkan bahwa semakin bertambahnya pondok pesantren di Garut, semakin berpendidikan pula penduduknya.

“Gunakan metode kreatif, berkolaborasilah dengan pemuda, dan menjadi panutan yang baik,” katanya.

Dia juga mengajukan permohonan maaf kepada Bupati Garut apabila dia sudah melampaui batas tanggung jawab sebagaimana dituntut dari posisi Wakil Bupati.

“Tetapi sayangnya, aku akan pergi dengan banyak rasa sesal jika hal ini tak sampai terdengar,” ujar Putri Karlina.

Namun demikian, dia menyambut positif hasil penemuan oleh organisasi masyarakat dalam hal pengobatan selama operasi pemantauan.

Saya sangat menghargai Bapak telah menemukan obat-obatan ini, penghargaan yang tinggi dari saya. Semoga suatu hari nanti Bapak juga bisa menemukan para mafia tersebut, Alhamdulillah.

Namun pada hari ini, kesalahan ayah sangat fatal. Jika terdapat sepuluh orang yang diajar dan mengerti tentang agama dimintakan penilaian, metode tersebut ternyata keliru,” ucapnya kembali.

Dia juga menginginkan agar organisasi masyarakat di Kabupaten Garut dapat memahami perannya sebagai mekanisme pengawasan sosial.

“Sebagai ormas, Bapak berperan sebagai sarana pengendalian sosial bagi mereka yang membutuhkan pembinaan secara social,” ujarnya.

Di akhir video, Putri Karlina bahkan sampai menitikan air mata bahwa dirinya ingin membuat perubahan untuk Garut.

“Kalau gak bikin perubahan untuk Garut, ngapain saya di sini,” katanya.

(Tribun Trends/Tribun Bogor)

Related posts