Tiap individu punya ketertarikan unik masing-masing; beberapa menyukai memancing, sepak bola, tulis-menulis, baca buku, renang, dan sebagainya. Variasi ini dipengaruhi oleh rasa suka mereka. Orang tertentu menjadi gembira saat melakukan hal tersebut, sehingga dia kerapkali mengulangi aktivitasnya sampai akhirnya jadi rutinitas, yang selanjutnya tumbuh menjadi kasih sayang. Kasih sayang itu sendiri menciptakan perasaan bahagia dalam hidup seseorang.
Orang yang tak gemar melakukan hal-hal di luar minat mereka sendiri akan merengek dan mengeluh. Karena hobi muncul berkat rasa sukacita, maka sudah seharusnya apabila individu itu cepat jenuh ketika harus melibatkan diri pada sesuatu yang kurang disenangi. Diperlukan proses penyesuaian untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai sesuatu yang membangkitkan gairah dan nantinya dapat diterima sebagai sebuah hobi. Mengubah perilaku menjadi rutinitas bukanlah perkara mudah yang hanya bisa dicapai dalam hitungan beberapa hari saja; dibutuhkan masa panjang sampai akhirnya aktivitas ini betul-betul menimbulkan kesukaan serta memberikan jawaban bagi permasalahan tertentu.
Untuk menjadi seorang penulis dibutuhkan rutinitas serta berbagai macam inspirasi dari proses pembacaan. Tipe bahan bacaan ini nantinya akan menentukan bagaimana gaya bahasa yang dipakai. Contohnya, jika seseorang seringkali membaca literatur saintifik, jurnal, ataupun pemikiran filosofis, maka dia cenderung menggunakan cara penyampaian yang lebih resmi. Sementara itu, apabila mereka biasanya menyimak fiksi maupun puisi, hasil tulisan mereka bisa terdengar lebih santai, puitis, dan memiliki sentuhan seni yang mendalam.
Oleh karena itu, seorang penulis perlu melakukan banyak pembelajaran melalui bacaan. Buku apa saja jangan dibatasi, silakan pelajari semuanya! Melalui proses membaca yang intensif ini, maka inspirasi serta kreativitas bisa didapatkan lebih banyak sebagai modal dalam berkarya. Saya dengan tegas menyebutkan bahwa seseorang yang jarang merujuk pada literatur tidak akan mampu menjadikan dirinya penulis handal. Proses membaca merupakan fondasi utama guna mendalamnya analisa dan penciptaan cerita yang menawan serta bernilai. Penulisan dan pemahaman lewat bacaan adalah dua hal yang saling bergandeng tali tanpa ada celah memisirkannya.
Sungguh disesalkan, banyak individu, khususnya pelajar universitas, cenderung lebih memilih untuk asyik dengan ponsel pintar mereka dibandingkan membaca buku atau artikel. Aktivitas seperti media sosial, kliping video singkat dari platform seperti TikTok serta Instagram sering kali mengubah cara kerja pikiran mereka menjadi statis dan kurang memiliki persediaan ide maupun metode tulisan yang efektif. Hal ini sangat ironis apabila seorang siswa pernah merasa kesulitan dalam hal menulis, sedangkan skill tersebut merupakan komponen esensial bagi setiap mahasiswa baik dalam penyajian argumen ataupun analisa.
Ada berbagai metode untuk menulis secara efektif dan akurat, namun terkadang kita mengabaikan kebutuhan untuk belajar lebih lanjut tentang hal tersebut. Meskipun demikian, mendapatkan pemahaman dalam teknis penulisan sangatlah krusial. Tak harus selalu mencari jawaban pada konsep-konsep fundamental yang telah diajarkan saat sekolah menengah atau perguruan tinggi level pertama. Mahasiswa pascasarjan seharusnya sudah dapat menyusun tulisan dengan baik.
Pada masa ketika teknologi telah sangat maju, ada berbagai macam peralatan untuk membantu proses menulis, misalnya saja AI (seperti ChatGPT). Hal ini tentunya menjadi sebuah ujian tersendiri bagi para penulis baru; gairah mereka dalam berkaryalah kadang-kadang bisa terombang-ambing. Tulisan-tulisan tersebut kerap kali diragukan keasliannya, apakah benar-benar merupakan hasil kreasi pribadi atau justru produk dari asisten AI. Inilah salah satu risiko yang mesti ditanggung oleh siapa pun yang menggunakan aplikasi semacam itu – bahwa pekerjaan mereka dapat dipertanyakan validitasnya akibat adanya kemampuan mudah membuat konten melalui tools seperti ChatGPT.
Apakah kesulitan ini mencegah kita untuk terus menulis? Bila kita berhenti, siapakah yang akan merealisasikan pemikiran luar biasa kita ke dalam bentuk cerita? ChatGPT tak dapat memunculkan gagasan baru; ia hanyalah sebuah program komputer. Akan tetapi, jeniusnya dalam mensimulasikan konten patut diperhitungkan. Karena alasan tersebut, perlu ada modifikasi pada model seperti ChatGPT — satu yang memiliki ciri-ciri asli dan imajinatif. Mengenai pandangan publik bahwa hasil kerja kita datang dari AI, mari izinkan demikian; hal itu merupakan bagian dari era digital saat ini.
Catatlah semua ide yang muncul di benak Anda. Konsep-konsep luar biasa dan unik sebaiknya tidak terus mengendap di kepala saja karena bisa jadi akan sirna perlahan-lahan. Tingkatkan kemampuan komunikasi Anda, pelajari serta ciptakan cerita yang menawan bagi para pembaca. Ungkapan kata dan wawasan yang diberikan melalui narasi tersebut akan menjadi nyata, sehingga jiwa kita juga ikut merasakan kedamaian. Saya yakin bahwa hasil tulisan yang kurang dimaksimalkan dengan kerja keras tak akan memberikan rasa puas kepada penciptanya.







