WASHINGTON DC,
– Iran menyampaikan keberatan formal kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Senin (17 Maret 2025), dengan tuduhan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta beberapa petinggi AS lainnya sudah membuat pengumuman yang dianggap “terburu-buru dan memprovokasi.”
Iran juga menyangkal tudingan dari Washington tentang klaim pelanggaran sanksi senjata yang berlaku di Yaman.
Pada surat yang diobservasi oleh kantor berita
Reuters
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, menyatakan tegas bahwa negerinya tidak setuju dengan seluruh tuduhan Amerika Serikat yang memposisikan Teheran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan yang dapat menciderai ketentraman regional.
“Iran dengan tegas dan absolut menyangkal seluruh dugaan pelanggaran mengenai keputusan Majelis Keamanan terkait larangan senjata di Yemen atau partisipasi dalam perilaku yang dapat menciderai ketentraman di wilayah tersebut,” demikian tertulis dalam surat Iravani.
Serangan Amerika Serikat dan Ancaman dari Trump
Klaim Iran tersebut muncul usai Trump menginstruksikan serangan militer skala luas terhadap pemberontak Houthi di Yemen, yang menjadi sekutu Iran, pada hari Sabtu (15 Maret 2025).
Serangan itu dikatakan sebagai tanggapan atas serangan oleh kelompok Houthi terhadap kapal-kapal yang berlayar di Laut Merah. Dilaporkan setidaknya ada 31 orang meninggal karena serangan Amerika Serikat tersebut.
Trump juga memberikan ultimatum tegas kepada Iran untuk berhenti mendukung kelompok Houthi. Dia menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak akan main-main apabila diancam oleh Iran karena dapat mencemarkan kepentingan negara tersebut.
“AS akan menuntut tanggung jawab lengkap dari Anda, dan kami tidak akan mengasihani!” kata Trump.
Bahkan, melalui unggahan di platform Truth Social pada Sabtu, Trump mengeluarkan ancaman yang lebih keras kepada kelompok Houthi.
”
Untuk seluruh anggota kelompok Houthi, waktu kalian sudah habis dan serangan harus dihentikan mulai hari ini. Bila tidak, kalian akan menghadapi balasan yang belum pernah terjadi sebelumnya!
” tulis Trump.
Iran juga memberikan respons yang tak kalah tegas. Kepala Komando Tertinggi Pasukan Pengawal Revolusi Islam di Iran, Hossein Salami, mengungkapkan bahwa gerakan Houthi merupakan sebuah entitas mandiri yang menentukan kebijakannya sendiri terkait strategi dan operasional militer mereka.
” Kami memberitahu lawan-lawan kita bahwa Iran akan mengambil tindakan keras dan merusak apabila ancaman mereka menjadi kenyataan, ” ujar Salami ketika berbicara dengan media pemerintah Iran hari Minggu ini.
Serangan Amerika Serikat terhadap pihak Houthis, seperti dilansir dari seorang pejabat Amerika Serikat tersebut.
Reuters
, diperkirakan akan berlangsung untuk beberapa minggu ke depan. Hal ini dinamai sebagai operasi militer Amerika Serikat yang paling besar di Timur Tengah sejak pemegang jabatan presiden Donald Trump dilantik pada bulan Januari tahun ini.
Di luar langkah-langkah militer, Washington pun menaikkan intensitas sanksi terhadap Teheran guna mendorong negara itu duduk di meja perunding mengenai proyek senjata nuklidernya. Akan tetapi, sampai saat ini, Iran masih teguh pada pendiriannya untuk tidak mentaatinya tekanan dari pihak Amerika Serikat.
Tension between the US and Iran continues to rise, triggering concerns about potential conflict escalation in the Middle East region.
UN dan masyarakat dunia diminta pula untuk melakukan pendekatan diplomatis dalam upaya mencegah kondisi yang kian memburuk.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







