Dua roket diluncurkan dari Lebanon menuju Israel pada hari Jumat (28/3). Menurut milisi Israel, salah satu roket tersebut tidak mencapai target sementara yang lainnya berhasil ditangkal.
“Setelah siren peringatan menyala, dua rudal terdeteksi berasal dari Lebanon, salah satunya ditangkap, dan yang lainnya mendarat di Lebanon,” sebut militer Israel seperti dilaporkan oleh media tersebut.
AFP
.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa serangan roket yang berasal dari Lebanon telah membangkitkan amarahnya. Katz mengancam akan bertindak keras terhadap Lebanon.
“Apabila tak terdapat kedamaian di Distrik Galilea, maka takkan ada pula kedamaian di Beirut,” ujar Katz.
Sebelum menembakkan rudal, Israel pertama-tama melakukan serangan udara ke Lebanon. Enam orang meninggal karena operasi militer di wilayah selatan Lebanon tersebut.
Daerah selatan Lebanon menjadi target serangan dari Israel dalam beberapa hari terakhir.
Operasi Israel tersebut ditempatkan walaupun mereka menyetujui jeda damai dengan Hizbullah di bulan November tahun 2024. Gencatan senjata ini dimulai usai konflik antara Hizbullah dan Israel berlangsung selama satu tahun penuh.
Hizbullah adalah sebuah organisasi politik kuat di Lebanon yang juga memiliki tentara. Dengan dukungan dari Iran, Hizbullah mengambil langkah untuk mempertahankan wilayah Lebanon terhadap serangan Israel yang ingin merebut tanah tersebut.
Meski konflik sedang berlangsung di Gaza, Hizbullah menghujani Israel dengan roket nyaris tiap harinya. Mereka menyatakan tindakan itu sebagai wujud dukungan kepada Hamas yang diserang oleh Israel.







