Kiper tim nasional Indonesia, Maarten Paes menceritakan hubungan dekatnya dengan sang nenek yang berperan dalam keputusannya untuk bergabung dan bersaing di level internasional demi membela Tim Nasional Indonesia atau Garuda.
Tidak ada kerahasiaan lagi bahwa Maarten Paes mempunyai akar Indonesia melalui neneknya yang berasal dari Kediri, Jawa Timur.
Tapi bagaimana mungkin seorang penjaga gawang berusia 27 tahun tersebut dapat memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan sang nenek yang masih menjadi teka-teki hingga saat ini?
Terakhir, Paes memutuskan untuk membela negeri tempat lahir kakek buyunya yaitu Indonesia dalam perjalanan karir internasionalnya.
Kiper dari FC Dallas mengisahkan hal tersebut di saluran YouTube SEG Stories yang dirilis pada Rabu (26/3/2025).
Hubungan dekat Paes dimulai karena sang nenek dan kakek yang bertindak sebagai wali baptisnya.
“Ketika berbicara tentang asal-usul nenek saya yang berasal dari sana (Indonesia), perjalanan ini dimulai sekitar tiga tahun silam,” demikian ungkap Paes seperti dikutip dari YouTube SEG Stories.
Waktu luangku setiap minggu kusempatkan untuk berkumpul bersama nenek, sehingga ikatan kami menjadi istimewa.
Kakek saya sekaligus menjadi wali baptisku, dan ketika Anda memiliki wali baptis serta orang tua yang sama dalam sebuah keluarga, kalian akan melakukan berbagai macam kegiatan bersama.
“Misalkan saat liburan akhir pekan, di situ saya mempelajari tentang Indonesia dan masakannya dari nenek saya, seperti masakan Indonesia,” jelasnya.
Di luar sebagai wali baptis, Maarten Paes mengambil pelajaran sejarah berkat pendidikannya saat ia mendaftar di jurusan Ekonomi.
Nenek Paes merupakan seorang pengajar sejarah, oleh karena itu si cucu pun belajarnya langsung dari dirinya.
Dari sana, ikatan antara Maarten Paes dan neneknya makin erat sampai akhirnya mereka berbagi cerita tentang kehidupan sang nenek di Indonesia.
“Saat di sekolah menengah atas, saya memodifikasi pilihan jurusan saya dan mulai belajar ekonomi untuk persiapan perguruan tinggi, serta juga mendalami ilmu sejarah,” jelas Paes.
Saya perlu mempelajari sejarah, saya harus mengulang hafalan lagi.
Kakek saya merupakan seorang pengajar sejarah, oleh karena itu di kediaman kakek, saya mendapatkan bimbingannya.
Pada waktu tersebut setiap hari Selasa dan Kamis kami belajar bersama, sementara nenek senantiasa menyajikan hidangan khas Indonesia.
Nenek tersebut menceritakan bahwa beliau pernah berada di kamp konsentrasi dan menjadi anak yatim piatu.
“Ia pun mulai merasa ingin tahu tentang hal tersebut karena nenek selalu menceritakan kisah-kisahnya,” katanya.







