Berikut adalah beberapa cerita menginspirasi yang mencerminkan sifat baik almarhum paman kita, Wira. Dia selalu positif, murah hati, lugas, peka, serta senantiasa bergembira. Tempatnya dipenuhi oleh lagu-lagunya dan tawanya. Sangat tidak mungkin untuk dilupakan.
Cerita 1. Mengangkat Orang Lain Ke Bumi Suci
“Aku tidak jadi berangkat naik Haji Besar ke Mekkah,” ucap Paman Wira dengan napas agak tersengal.
“Mengapa? Bukankah uang sudah cukup? Persyaratannya sulit?” tanya Mama sembari menyuapi Dani, adikku yang masih berusia balita. Sup ayam favorit bocah cilik tersebut.
“Iya, uang sudah cukup. Semua persyaratan terpenuhi.”
“Alasan pembatalannya bukan karena aku tak bisa mendampingimu naik Haji Besar, kan? Dani sakit-sakitan. Sekarang saja ia masih demam.”
Saya tidak mampu pergi ke Tanah Suci sendiri.
Anda bisa menggunakan keuntungan dari usaha pertanian kita untuk pergi haji. Bukankah lebih baik jika Anda tidak pergi dan mengirim salah satu anggota keluarga Anda sebagai gantinya?
Namun, saya telah menerima keadaan persahabatan kami, Pak dan Bu Endin ( nama diganti ), yang pergi menggunakan dana itu. Sebenarnya harusnya kita berdua yang melaksanakan perjalanan itu. Saya butuh pertolongannya untuk merawat saya akibat kondisi jantung bawaan yang diderita sejak bayi. Namun, detak jantungku tidak nyaman dalam satu minggu belakangan. Detak jantungnya menjadi sangat acak-acakan sehingga membuat saya sulit tidur. Ditambah lagi diabetes tipe 2 yang menyebabkan saya harus menjalani diet ketat.
“Ya sudah. Sebaiknya, kau banyak beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhmu.”
Paman Wira terdiam dalam pemikiran. Dia menatapku yang waktu itu baru berumur enam tahun dan asyik bermain kereta api mainan. “Apabila saya meninggalkan dunia di tempat itu, tujuh anakku masih sangat muda. Sedangkan keenam anak Anda pun sama-sama masih kecil. Beribadah ke Mekkah adalah mimpi sejak masa kanak-kanak saya. Selain itu, hal ini telah jadi kewajiban bagi umat Muslim bila memiliki kemampuan. Namun, saya tidak dapat menjalaninya dengan damai di Mekkah apabila segala sesuatunya untuk keluargaku disini belum siap.”
Masih ada kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji pada waktu yang akan datang. Saya dengan senang hati mengizinkan pasangan Endin pergi. Keduanya sungguh telah siap secara fisik maupun mental untuk melakukan perjalanan besar tersebut.
Iya, mereka begitu bersyukur kepada kami berdua sampai membuatku agak kesal. Harta hanyalah titipan dari Allah Swt.
“Semoga mereka berdua menjadi Haji Mabrur, amal ibadahnya diterima oleh Allah Swt,” ujar Mama.
“Aamiin Ya Robbal Alamin.”
Setelah menjalani ibadah selama 40 hari di Tanah Suci, Pak dan Bu Endin diberkahi dengan sambutan hangat dari para kerabat. Kedua belas muka mereka terlihat sangat mempesona dan berseri-seri. Sikap jujur serta rendah hati mereka tetap utuh meskipun saat ini telah mendapat gelar Haji. Sepertinya perjalanan haji mereka benar-benar diterima dengan baik.
Mantan pamannya, Wira, adalah kerabat dari sisi keluarga ibunya. Dia sangat berhubungan erat baik dengan ibumu maupun diriku. Sampai detik terakhir hayatnya, dia menginginkan untuk bertemu kembali dengan ibu dan saya. Ironisnya, meskipun sudah lama menderita penyakit, beliau tidak dapat melaksanakan ibadah Haji di tanah suci tersebut. Akan tetapi, dalam semua aspek kehidupannya, beliau senantiasa bersifat murah hati kepada setiap individu.
Cerita 2. Kado Pernikahan Istimewa di Bulan Ramadhan
“Wah, bagaimana ini? Mang Endin akan menikahkan putri sulungnya minggu depan. Namun, masih belum ada apa-apanya. Sedangkan saya telah berusaha mencari uang sejak subuh tadi, namun hasilnya nihil,” keluhan Paman Wira sambil menyeka keringat yang membasahi pipinya.
“Kenapa tiba-tiba begitu? Kalau minggu depan, nanti saya bisa menolong,” kata Mama sambil merajuk.
Saya tidak tahu ya. Sepertinya kurang pantas jika langsung bertanya tentang alasan pernikahan yang terjadi dengan cepat. Yang pasti, mereka belum mempunyai cukup dana untuk mengurus pesta pernikahan. Namun, sudah disiapkan anggarannya untuk keperluan di kantor urusan agama dan makeup pengantin.
Ya begitu,” kata Mama. Dia mengambil waktu sebentar untuk memikirkannya lalu berkata, “Apa kita bisa menagih hutang kepada Pak Tatang?
Ya, betul. Dia bersikeras akan membayar kembali hutang bisnisnya. Dan dia tidak memiliki nomor telepon, kan?
“Tak punya.”
“Bagaimana kalau kita berdua mengumpulkan hutang di Cipelang sekarang?” saran Paman Wira.
“Baiklah.”
Sampai di rumah Pak Tatang, Paman Wira dan Mama ditemui dengan hangat. Sejumlah hidangan khas Bogor segera ditampilkan.
“Neng Iya, Neng Ati, mohon izin meminum teh manis ini. Cuma yang tersedia saat ini. Ada saja buras oncom bersama singkong rebus. Itu pun biasa di desa,” kata Pak Tatang dengan penuh semangat.
(Ya, itu adalah sapaan favorit Pamanku Wira. Sedangkan Neng adalah ungkapan lembut dalam kalangan keluarga suku Sunda, yang digunakan baik untuk laki-laki maupun perempuan.)
“Punten, abdi haturuneunan minta bantuan. Kalau Pak Tatang sedang hadir, diperlukan berapapun jumlahnya agar bisa membantu Paman sy yang bakal menggelar perkawinan bagi putrinya dua hari lagi,” terangkan Paman Wira.
Saya hanya punya 200 ribu Rupiah. Apa boleh buat?
Paman Wira menatap Mama dan dia pun mengangguk setuju. Lalu, beliau berucap, “Kalau Pak Tatang bersedia, aku sepakat. Suksma banget atas bantuannane.”
“Terima kasih banyak,” kata Mama.
***
HOSH! HOSH! HOSH!
Neng Iya, itu apa nih? Kayak bunyi ular begitu?” tanya Mang Endin dengan ekspresi waspada saat mendapat dua karung besar penuh dengan binatang peliharaan yang mengeluarkan suara ribut-ribut.
HOOOOOSH!
Mang Endin tersandung dan jatuh karena ketakutan yang hebat. Dua buah buntelan karung itu juga ikut jatuh ke tanah. Segera setelah itu, seperti suara koor angsa terdengar. HOSH! HOSH! HOSH!
“Heulah sieun! Bukan ular. Itu malah bebek Manila,” ujar Paman Wira sambil menyala dengan gembira. Dia lalu menolong Mang Endin untuk bangkit.
“Saur tujuan saya adalah mencari daging entok yang lezat. Tekstur dagingnya tebal dan empuk. Satu ekor entok memiliki berat antara 3 sampai 5 kilogram. Sangat cocok untuk acara besar,” kata Mama sambil tertawa kecil. Benar-benar kocak, pikir Wira. Meskipun dia hanya membawa uang sebesar 200 ribu rupiah, tetapi dia masih sangat yakin dengan pembelian bebek manila yang dipasarkan di pinggiran jalanan Cipelang tersebut.
“Oh, gitu ya. Nuhun banyak atas bantuanmu,” kata Mang Endin dengan ekspresi yang terlihat lebih tenang.
“Karung harus segera dibuka. Sayang sekali. Tidak ada kandang karena tiba-tiba mengantarkan bebek,” kata Paman Wira.
Mang Endin langsung melepaskan bebek-bebek Manila itu dari rumah Donal Bebek menuju area terbuka di bagian belakang yang dilindungi pagar. Terdapat 25 ekor bebek Manila yang sangat gemuk dan lucu dengan bulu putihnya. Bila saja bebek-manila mampu berkata-kata, mereka pasti akan merengek, “Sangat tidak berperikemanusiaan membawa kita menggunakan karung seperti ini? Sangat sesak! Benarkah begitu buruk?”
***
Sejak pernikahan digelar pada bulan Ramadhan, jamuan makan diselenggarakan ketika buka puasa. Ibuku tidak dapat hadir lantaran jaraknya sangat jauh. Sebagai hasilnya, hanya Pamanku bernama Wira yang tiba dengan penampilan mencolok. Ia mengenakan seragam safari serta kacamata gelap. Dia bertanya, “Kumaha entog teh? Dimasak naon? (Bagaimana bebek tersebut? Dihidangkan seperti apa?)”
Mang Endin tertawa kecil. “Hidup. Ada di halaman belakang.”
“Kunaon teu dipasak? (Mengapa tak dimasak?)”
Saya sangat menyayangi bebek itu karena lucunya. Bahkan pengantin tersebut berencana merawat bebek sebagai kenang-kenangan dari hadiah pernikahan mereka. Sesudah memiliki bebek, tetangga pun menghadiahi daging ayam sebanyak 100 kilogram serta kue-kue lezat. Semua ini menjadi berkah di bulan Ramadhan.
“Oh seperti itu, ya?” kata Paman Wira sambil terkekeh lepas.
Cerita 3. Jangan Biarkan Rasa takut Hadapi Penindasan
Sejak umur 2 tahun, saya sering diasuh oleh Pamanku yang telah meninggal dunia. Tidak mengherankan bila Sahrul, teman karibku berkomentar, “Engkau ini acuh seperti bebek. Memiliki jiwa seorang laki-laki. Bagaimana mungkin aku lebih peka dibandingkan denganmu? Engkau bahkan jauh lebih gagah daripada diriku sebagai seorang petugas polisi.”
“Bang, apa itu pujian?” bertanya aku dengan langsung.
tentu,” jawab sahrul sambil tersenyum lebar. “sekarang ceritakan kepada saya. waktu masih kecil, apakah kamu dirawat oleh penjaga?
Saya menggelengkan kepalanya. “Pengasuhan hanya terjadi waktu saya masih bayi. Mulai setelah itu, saya dirawat oleh Mama dan Pam yang sudah meninggal. Adik-adikku lah yang kemudian diurus oleh pengasuh.”
Baru kali ini aku mendengar ada anak perempuan yang dididik oleh pamananya. Kenapa kamu tidak diasuh oleh penjaga lain?
Makanya lebih baik diasuh oleh Almarhum.
“Maksudmu?”
Wali yang tegas. Sementara itu, almarhom ayah selalu sabar dan riang gembira. Tidak hanya menyediakan uang saku, dia juga membawakan dua batang coklat Silverqueen, dua kotak susu UHT, serta keripik untuk saya setiap harinya. Apabila kami pergi ke Gramedia, jika saya menginginkan lima buku petualangan anak-anak saja, beliau malah membelikan sebanyak tiga puluh buku. Begitu pula ketika saya menanyakan sepuluh komik dari Elexmedia, hasilnya menjadi lima puluh komik lebih banyak lagi. Dia sangat tekun dalam pembelian buku-buku pelajaran di sekolah.
Tidak heran,” kata Sahrul sambil tertawa. “Ini adalah dambaan setiap anak kecil. Prinsip apa yang diajarkan oleh Almarhum ketika kamu masih kecil?
Bila kamu direndahkan oleh teman sekelas, harus berani menegur mereka. Sebab sebagai keturunan dari suatu etnis asing, pastinya akan terlihat beda. Ayah sudah melihat saya kerap kali ditekan dan dicemooh hanya gara-gara seragam atasanku yang rusak akibat dilempar sepatu.
“Lalu?”
Pisau-pisaunya dibelikan supaya saya bisa lebih gesit dalam menghindar dari tendangan teman sekelas. Sementara itu, pisau-pisaunyalah tidak pernah saya bawa ke sekolah. Saya bukan tipikal orang yang suka dengan pertikaian fisik.
“Seraaam… Aku takut menjadi musuhmu,” goda Sahrul. Aku pun merespon dengan menjulurkan lidah. Weee!
“Almarhum juga mengajarkan tak boleh takut menolong orang lain. Apalagi saat bulan Ramadan, pahalanya berlipat ganda. Ia sudah ridho lillahi ta’ala ketika teman-temannya tak sanggup membayar utang.”
“Luar biasa. Semoga Almarhum memperoleh tempat terbaik di sisi Allah Swt.”
Aamiin Ya Robbal Alamin. Beliau adalah paman yang sangat penting dalam hidup saya. meninggalnya hanya satu minggu sebelum kelulusan Sarjana pertama saya. Dia tidak dapat memenuhi janjiannya untuk tetap bertahan lama di dunia. Di bulan Ramadhan seperti saat ini, pikiran saya selalu kembali kepada beliau.
Al-Fatihah bagi dia. Jangan sedih! Dia pasti bahagia melihatmu mengingatkannya sambil tersenyum.
Anda benar. Sepanjang hayatnya dia hampir tidak pernah sedih.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







