Misteri Pak Haji: Si Pencar Uang dari Mampang hingga Bekasi

Misteri Pak Haji: Si Pencar Uang dari Mampang hingga Bekasi

Kisah tentang figur dermawan yang misterius diundang oleh Pak Haji, terkenal di antara warga pemandu angkutan tradisional Jakarta. Kebaikan hatinya sudah dikenal luas di Mampang, Tanah Abang, dan hingga ke wilayah Bekasi.

Menemukan segerombolan orang dengan gerobak yang berhenti di dekat Halte Transjakarta Mampang menuju Ragunan pada hari Jumat (28/3). Terdapat Hanifah (36), serta sepasang suami istri yaitu Awang (42) dan Reni (40).

Mereka menyebut cerita tentang figura mulia ini telah menjadi legenda panjang sebelum pandemi COVID-19. Dia memberikan lembaran uang senilai Rp 50ribu bukan saja kepada para pengendara gerobak yang ditemui di tempat tersebut.

Namun, Pak Haji selalu berada di dalam mobil. Tak terlihat oleh publik, hanya aider-nya lah yang kemudian dipanggil sebagai Bogel atau Tato.

Umumnya setelah selesai, Pak Haji beserta asistennya akan menimbun uang lalu membuangnya kepada orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut.

“Cintanya sekitar Rp 50ribu. Untuk dua orang jadi seratus. Uangnya dikocok-dikocok lalu dilemparkan. Ada tiga orang di tempat artinya ada tiga lembar,” kata Reni kepadanya.



Pak Haji dikenal tidak memandang halangan saat memberikan uang. Terlebih lagi, dia mungkin akan mengeluarkan jumlah yang lebih tinggi bagi orang lanjuk.

“Sebagai contoh lain adalah kami [pengendara gerobak] 50 tahun ke atas. Seperti orang istimewa, mereka yang berumur lanjut di atas 50 tahun, bisa jadi 100 atau 200 tahun, dari usia tersebutlah kita mengenalinya sebagai Pak Haji,” ujar Awang.

Namun, Awang menyebut bahwa jika Pak Haji berniat untuk berhenti, mereka dilarang memegang ponsel, merokok, serta diketahui menggunakan sepeda motor secara bersama-sama.

Tetapi iya, hindari bermain dengan ponsel dan merokok. Kalau sedang asyik-asyiknya memainkan ponsel, jangan harap untuk melemparnya begitu saja. Umumnya akan diberi tahu oleh seseorang seperti ‘Pak Haji sebentar lagi akan melintas.’ Oleh karena itu, biasa dipersiapkan jika Pak Haji hendak melalui area tersebut. Informasi ini umumnya didapat dari Gojek atau Uber, sesuai istilah kami di Tim Uber. Ini adalah penjelasan dari Awang, orang yang setiap hari mengumpulkan barang bekas daur ulang di wilayah Mampang.

Berdasarkan kisah mereka, figur Pak Haji merupakan warga dari Blok A. Ia biasanya memulai kebiasaan dermawanannya pada rentang waktu pukul 23.00 WIB hingga 03.00 WIB.

Jadwalnya belum tentu. Mereka hanya menyebut bahwa ia dapat muncul dua kali seminggu, khususnya pada masa Ramadhan.

“Dia tidak hanya memberikan di tempat ini saja, tetapi juga kadang-kadang sampai ke Tanah Abang. Bahkan hingga area dalam kota. Contohnya seperti hari ini dia datang ke sini dan pergi lagi,” jelas Reni.

Awang menyebutkan bahwa dia pernah mendengar cerita yang mengatakan Pak Haji juga pernah berada di Bekasi.

“Katanya sih orang dari Padang. Dia memiliki bisnis batubara di Kalimantan. Tapi tentunya kita tidak pernah tahu ya,” ujar sang istri kepada Awang.

Sebanyak tujuh kali dalam bulan terakhir jelang Lebaran, ketiganya menyatakan telah menerima dana dari Pak Haji. Kehadiran Pak Haji sangat membantu mereka untuk memenuhi keperluan sehari-hari yang hanya didapat dari penjualan barang bekas tersebut.

Sehingga, banyak individu semacam itu berperilaku mirip dengan manusia gerobak yang tidak seimbang saat menanti kehadiran Pak Haji usai menghabiskan hari mereka memetik barang bekas di jalan-jalan.

Related posts