Pengusaha Truk Berencana Mogok pada 21-22 Maret 2025: Inilah Alasannya

Pengusaha Truk Berencana Mogok pada 21-22 Maret 2025: Inilah Alasannya


IKABARI.COM

, JAKARTA – Persatuan Pelaku Usaha Truk (
Aptrindo
Jakarta akan menghentikan semua aktivitasnya pada hari Kamis dan Jumat, tanggal 20-21 Maret 2025, sebagai tindakan penolakan atas batasan tersebut.
angkutan barang
selama Lebaran.

Pemimpin Utama DPD Aprindo untuk Jakarta, Dharmawan Witanto, melalui suratnya yang berisi pemberitahuan menyatakan bahwa 500 pebisnis jasa transportasi barang merencanakan aksi pemogokan secara keseluruhan di area Jakarta.

“Bahwa pihak Aprtrindo tidak setuju dan menentang larangan operasional pengiriman barang yang berlangsung cukup panjang sebanyak 16 hari,” ungkap Dharmawan pada hari Senin, tanggal 17 Maret 2025.


Liburan Idul Adha, Aptrindo: Aliran Pengiriman Barang Terhambat

Selanjutnya, Dharmawan menyebut bahwa batasan itu memberikan dampak pada para pemain industri logistic serta khususnya kepada supir dan pekerja angkut barang yang bergaji per hari.

Dalam kegiatan tersebut, Aptrindo meminta untuk merevisi waktu pembatasan operasional pengangkutan barang saat libur Lebaran tahun 2025.

:

Perpanjangan Pembatasan Pengiriman Barang, Ini Respons Aptrindo

Di sisi lain, Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono mengungkapkan bahwa dampak kerugian ekonomi yang dihadapi oleh Masyarakat dan Negara cukup signifikan.

Dia menambahkan pula bahwa dorongan utama untuk perkembangan ekonomi berasal dari aktivitas transportasi logistik, lebih daripada transportasi penumpang.

:

Nol ODOL 2023, Aptrindo: Biaya Pengiriman Barang Diprediksi Bertambah!

“Oleh karena itu, dampak dari gerakan transportasi barang pada pertumbuhan ekonomi dan pembagian keuntungan ekonomi sangat signifikan,” ujarnya dalam pernyatan formal.

Dia pun mengungkapkan bahwa batasan operasi transportasi barang dari tanggal 24 Maret sampai 8 April 2025 memberikan dampak negatif terhadap sektor industri, seperti pengendapan produk-produk hasil manufaktur serta waktu tinggal yang lebih lama di dermaga. Hal ini justru bertolak belakang dengan usaha pemerintah untuk menyusutkan angka tersebut.

Di samping itu, penundaan dalam pengiriman mengakibatkan biaya demurrage yang meningkat, merusak indeks logistik di Indonesia serta menurunkan kepercayaan dari komunitas global.

Bambang Haryo mementingkan kontribusi pemain industri logistic sebagai kemitraan dengan pemerintahan, karena sistem transportasi darat menyumbang sekitar 90% dari seluruh aktivitas distribusi barang di Indonesia.

Ia menyuarakannya terhadap keputusan-keputusan yang tak memperhitungkan kesejahteraan negara dan menekankan bahawa permintaan Aptrindo bukannya untuk kepentingannya sendiri, tetapi bertujuan untuk melestarikan kelangsungan sektor perindustrian serta perdagangan.

Related posts