Perjalanan Pulang Kampung dari Malang ke Tangerang: Menjelajahi Nasi Uduk dan Semurnya

Perjalanan Pulang Kampung dari Malang ke Tangerang: Menjelajahi Nasi Uduk dan Semurnya


MALANG,

Tiap tahun, banyak pemudik di Indonesia melakukan perjalanan jauh guna menyambut hari raya Idul Fitri dan berkumpul dengan kerabat di desanya.

Untuk As’ad Arifin (35) dan Wilda Fizriyani (35), pulang kampung tidak hanya merupakan suatu kebiasaan, tetapi juga saat istimewa untuk mempererat ikatan lagi dengan kerabat mereka.

Sebagai sebuah keluarga kecil tinggal di Wagir, Malang, sepasang suami istri ini senantiasa merencanakan pulang kampung mereka dengan hati-hati dan teliti.

Pada tahun ini, mereka menetapkan Tangerang Selatan sebagai destinasi berikutnya setelah sebelumnya kembali ke Bojonegoro.

Kegiatan pulang kampung ini merupakan suatu adat istiadat yang tidak bisa diganti, menghadirkan cerita serta petualangan segar pada tiap perjalanannya.

Sejak pembelian tiket dimulai, As’ad dan Wilda segera menyiapkan diri mereka di depan layar ponsel.

Pembelian tiket secara daring telah menjadi prioritas bagi banyak orang demi meningkatkan efisiensinya, sehingga tak perlu mengantri di stasiun lagi. “Kira-kira sebulan sebelum berpergian, kita mulai ‘ngebut beli tiket’ pada tengah malam. Beli tiket online jauh lebih mudah dan gak perlu repot dateng ke stasiun,” ungkap As’ad Arifin kepada , Jumat (28/3/2025) malam.

Tidak sekadar tentang mendapatkannya tiket, mereka juga menentukan jenis transportasi yang terbaik untuk sang anak tunggalnya.

Kereta api menjadi prioritas utama dikarenakan biayanya yang lebih murah dan menawarkan area bergerak yang lebih leluasa untuk anak Anda.

“Bila bepergian menggunakan kereta, si anak dapat berjalan-jalan ke gerbong lain ataupun menuju gerbong makan apabila sudah merasa bosan. Meskipun petualangan dari Malang hingga Stasiun Jatinegara memerlukan waktu kira-kira 12 jam, saat ini keretanya telah menjadi lebih bersih dengan kursi yang semakin nyaman,” tambahnya.

Wilda Fizriyani, yang sudah berkarier di Malang sejak tahun 2017, mengalami rasa bahagia khusus ketika pulang kampung.

Menurutnya, perjalanan panjang ini tidak sekadar tentang kepulangan, melainkan juga menghadirkan kembali kerumahannya yang telah lama terabaikan.

“Sangat gembira dapat mudik kali ini, sebab kembali ke Tangerang Selatan cukup langka terjadi akibat jarak tempuh yang begitu jauh,” ungkapnya.

Sekarang, perjalanannya terasa lebih enteng sebab sang buah hati telah bersekolah di tingkat Taman Kanak-kanak.

“Kini menjadi lebih simpel, cukup sediakan peralatan mandi serta camilan agar ia tak merasa jenuh,” lanjutnya.

Di luar bertemu dengan kerabat, perjalanan pulang kampung pun senantiasa membawa cerita menarik.

Berada di dalam gerbong untuk waktu yang lama seringkali menjadi kesempatan bagi para pemudik untuk menukar kisah-kisah mereka satu sama lain.

“Pada saat bepergian, kita kerap kali menemui orang-orang baru dan saling mengenal. Terkadang mereka menceritakan kisah-kisahnya, sehingga rasanya seperti memperoleh pengalaman-pengalaman segar di setiap tempat yang dilintasi,” katanya.

Untuk As’ad dan Wilda, mudik tidak sekadar perjalan fisik, melainkan juga petualangan batin yang membangkak hubungan mereka dengan asal-usul hidupnya.

Dalam hiruk-pikuk rutinitas harian, saat ini memberikan peluang bagi kita untuk memperkuat lagi tali persaudaraan yang mungkin telah longgar akibat jarak dan waktu.

“Keluarga kami anak-anak jarang jumpai kakek neneknya di Tangerang Selatan. Kunjungan pulang kampung kali ini jadi peluang buat menguatkan ikatan mereka berdua. Sama halnya dengan kerabat besar, yang cuma sempat ketemuan pada acara-acara spesial saja,” ungkap Wilda.

Tentu saja, pulang kampung tidak akan terasa lengkap tanpa merasakan kenangan manisnya tempat kelahiran.

As’ad telah memikirkan kembali kesegaran dari satu piring nasi uduk beserta lauk semurnya yang menjadi Favoritnya dan terus dirindukan tiap tahun.

“Saya juga rindu nasi uduk beserta lauk semurnya di Tangsel,” tutup As’ad Arifin.

Untuk mereka, mudik tidak hanya berarti kembali pulang, tapi adalah perjalanannya menuju tempat di mana terdapat kasih sayang, kenangan, serta hangatnya kebersamaan keluarga.

Related posts