Perselisihan Seputar Akses Jalan: Rumah Lansia di Teluknaga Ditutup Tembok Tetangga

Perselisihan Seputar Akses Jalan: Rumah Lansia di Teluknaga Ditutup Tembok Tetangga


TANGERANG, IKABARI.COM

Kesempatan masuk dan keluar rumah pasangan lansia Afon Hendrik (73) serta Ripuh (57) di Jalan Gang Lemo 2/21, Teluknaga, Kabupaten Tangerang, pernah terhalangi karena ada tembok bertinggi dua meter sepanjang sepuluh meter yang dibuat oleh salah satu tetangga mereka.

Kejadian tersebut mendapat perhatian besar setelah video permohonan bantuan Ripuh menyebar luas di platform-media sosial. Dalam kesedihannya, Ripuh berharap presiden dan pihak kepolisian dapat membantu dengan meruntuhkan dinding yang menjebak dirinya bersama suaminya.

Akses jalannya rumah Afon dan Ripuh diblokir oleh tetangganya mereka sendiri setelah terjadi perbedaan pendapat antara kedua pihak.

Bermula dari gerbang papan rumah yang tidak berpenghuni

Pertaruhan awal dari konflik terjadi di hari Minggu (9/3/2025).

Saat itu pula, cucu Ripuh berencana untuk melintasi rumah tidak terpakai yang ada di sebrangan rumahnya.


Akan tetapi, Rumah itu telah dikayu pagar oleh Ripuh sebab sudah cukup lama tak ditempati.

“Rumah saudara ipar saya itu. Sudah satu tahun tidak ada yang mengunjunginya. Karena sudah lama ditinggal sendirian, rumah tersebut dikunci dan dibuat tertutup dengan tali rafia,” jelas Afon ketika dihubungi.

IKABARI.COM

, Senin (17/3/2025).


Menurut Afon, ketika cucunya Ripuh berusaha membuka pintu itu, dia menemukan bahwa pintu tersebut telah dikunci dan terkait dengan tali pengikat.


“Karena memang sudah lama tidak digunakan. Jadi saya tinggal pasangi pagar dan kaitkan dengan tali rafia,” jelas Afon.


Kemudian, Usin mengunjungi Ripuh dan menuntut untuk membuka gerbang yang tertutup.



“Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja Usin muncul. Datang ke arah istrinya sambil berkata, ‘Dia ingin masuk, mengapa pintunya dikunci? Biarkan dia membuka kuncinya,'” jelas Afon.


Ripuh yang merasa jengah, menegaskan pada Usin agar tak usah mencampuri urusannya, sebab dirinya sendiri tidak mengunci pintunya itu.


“Tadi anak saudaranya sudah datang, pintunya sudah terbuka, tidak dikunci, kenapa kamu ikut campur sih,” ujar Afon.


Selanjutnya Usin mengancam akan mendirikan dinding di area sekeliling rumah Afon.


“Gaduh-gaduh begitu, lalu dia mengatakan bahwa dia ingin memasang pagar. Istriku menyahuti, ‘Silakan pasang pagar, terserah kau mau apa saja dengan itu, aku sudah lelah dengan situasimu,’ ” jelasnya.

Dinding diproyeksikan, sementara jalannya ditutup sepenuhnya.

Barulah berlalu dua hari semenjak pertengkaran itu, Usin langsung memulai pembangunan tembok tetap di depan rumah Afon.

Prosesnya berawal dari penempatan pagar pada hari Senin (10/3/2025), diikuti oleh konstruksi dinding pada hari Selasa, dan kemudian pekerjaan tersebut diselesaikan pada hari Rabu (12/3/2025).

Karena penutupan jalannya ini, Afon dan familiya menjadi sangat terasing. Mereka tidak dapat meninggalkan tempat tinggal mereka, meski untuk hal-hal yang urgent.

Segera setelah itu, petugas dari kelurahan, kecamatan, serta anggota Kodim pun tiba di tempat kejadian dan mengambil tindakan berdasarkan laporannya.

“Mantan saya segera bergabung dengan teman-temannya menuju kantor polisi, kemudian tiba-tiba pihak kelurahan, kecamatan, hingga Kodim mendatangi rumah saya. Semua akhirnya terbuka,” katanya.

Bersama-sama mengampuni dan menyetujui perdamaian

Perselisihan yang pernah memunculkan ketegangan pada akhirnya diresolusi dengan cara musyawarah. Afon bertemu dengan Usin dalam sebuah perdamaian yang dimediasi oleh kelompok dari Kelurahan Lemo, Polsek Teluknaga, serta TNI.

Kepala Desa Lemo, Satria, mengatakan bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh salah paham di antara warganya dan sudah beres dengan baik.

“Oleh karena itu, adanya masalah pribadi. Tetapi, keduapihak sudah saling mengampuni,” ujarnya.

Ke dua belah pihak menyetujui dan menanda-tangani perjanjian tertulis yang membawa komitmen mereka untuk tidak mengulangi perilaku tersebut lagi, dengan latar belakang kontras antara hitam dan putih dalam dokumen itu sebagai simbol keseriusan janji mereka.

Biaya bahan bangunan untuk membangun dinding diprediksi akan di-cover oleh pihak lingkungan setempat.

Saat ini, dinding itu telah dihancurkan dan jalannya kini bisa dilewati oleh si pemilik rumah.

“Alhamdulillah, permasalahan ini telah terselesaikan dan saat ini tidak ada dinding yang menghalangi jalannya,” ujarnya.

Related posts