Laporan dari Jurnalis, Jenderal Louis
AMBON,
Tiga tahun telah berlalu sejak pengumuman hasil wisuda untuk para alumnus Universitas Pattimura (Unpatti) yang terjadi pada bulan April, September, dan Desember tahun 2022, namun mereka masih meratapi nasibnya.
Mereka kehilangan hak atas foto wisuda, yang semestinya menjadi momen membahagiakan, karena terkikiskan oleh birokrasi kampus yang rusak.
Rektor Unpatti, Prof. Fredy Leiwakabessy, memilih untuk diam, seakan-akan permasalahan tersebut tidak ada hubungannya dengannya.
” Ini lebih dari sekedar gambar, ini merupakan suatu bentuk pencemaran nama baik. Kamilah merasa ditraktir seolah-olah menjadi sampah. Biaya telah dibayarkan namun hak-hak kami dilanggar,” ungkap Rusli Tarmuji, alumnus Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Politik (FISIP), yang baru-baru ini wisuda pada bulan September tahun 2022 silam.
Amarah pun terlontar dari Risky Pelu, lulusan FISIP yang wisuda pada Desember 2022.
“Tempat ini adalah untuk belajar, bukan untuk berbohong! Rektor serta timnya perlu bertanggung jawab. Jangan hindar dari persoalan, jangan pula mengelakkannya,” tegasnya.
Alumni mengomentari ketidaksesuaian dalam manajemen dana untuk fotografi wisuda.
Sambut Bulan Suci Ramadhan dengan Semarak Remas Al-Muhajirin Lesane dan Dengarkan Lagu saat Berbuka
Kepala Kepolisian Daerah Maluku Akan Mengambil Tindakan Tegas Terhadap Premanisme Yang Menyamar Sebagai Organisasi Masyarakat Selama Bulan Ramadhan
“Rp150.000 untuk dua gambar, Rp300.000 untuk empat gambar. Uang berjuta-juta tersebut kemudian beralih ke mana? Bisakah ini dimasukkan ke dalam saku individu dari para pemimpin kampus?” tanya Rusli dengan nada menusuk.
Mereka mengharapkan Prof. Fredy Leiwakabessy agar langsung terlibat dan menyampaikan klarifikasi yang logis.
“Gembira di luar dinding kampus, Pak Rektor! Hadapilah kami! Jangan sampai martabat Unpatti musnah hanya gara-gara perilaku sekelompok orang yang tak beretika,” tegaskan Risky.
Sampai berita ini dimuat, sudah beberapa kali kami mencoba untuk menghubungi Rektor Unpatti, Prof. Fredy Leiwakabessy, serta Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Dominggus Malle, namun belum berhasil mendapatkan respons.
Akan tetapi, apa yang terdengar hanya adalah kediaman yang menyumbat pendengaran.
“Kita tak akan menghentikan perjuangan untuk mendapatkan hak kita. Kita bakal tetap bertaruh demi meraih foto kelulusan tersebut ke tangan kita sendiri. Hal ini bukan sekadar soal fotonya saja, melainkan tentang martabat kita selaku lulusan dari Unpatti,” tutup Rusli. (*)
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







