Yuk, Nonton “JUMBO” di Bioskop Bareng Keluarga Saat Lebaran

Yuk, Nonton “JUMBO” di Bioskop Bareng Keluarga Saat Lebaran

Untuk Lebaran 2025 mendatang, kami memiliki rencana yang menyenangkan bersama seluruh anggota keluarga. Yap! Kita dapat pergi beramai-ramai ke bioskop untuk melihat film “JUMBO”. Film tersebut tentunya cocok bagi setiap usia; mulai dari adik-adik kita hingga kakek-nenek pun pasti senang. Serius nih, rasanya sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba!

Film Jumbo ini sungguh istimewa sebab menjadi film animasi perdana hasil kreativitas putra-putri tanah air. Diproduksi oleh Visinema, proyek tersebut menggandeng 420 individu dan berlangsung selama bertahun-tahun hingga proses pembuatannya rampung sepenuhnya.

Saya sungguh gembira karena pada hari Selasa, tanggal 18 Maret 2025, saya berkesempatan menjadi perwakilan dari Forum Penulis Bacaan Anak atau PABERLAND guna hadir dalam acara nonton film JUMBO bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di bioskop Cinema XXI Plaza Senayan, Jakarta.

Sampai di tempat tujuan pada pukul setengah tiga lebih delapan menit dan masih sempat bersihkan napas sebab kegiatan baru akan dimulai pada pukul setengah tiga plus sepuluh lima menit. Selepas proses pendaftaran, akhirnya aku memperoleh karcis masuk. Namun sayang sekali, aku hanya hadir sendirian lantaran salah satunya dari dua orang ku tidak dapat ikut alasannya adalah ada urusan lain. Seharusnya jumlah undangan mencakup dua lembar tiket.

Sebelum memasuki acara tersebut, saya bertemu dengan Kak Aryo atau Kak Aio, sang pendongeng ternama yang juga merupakan pendiri Ayo Dongeng. Pertemuan pertama kita terjadi satu tahun silam ketika kita berdua menjadi juri dalam Kompetisi Menulis Karakter Dongeng. Ironisnya, posisi tempat duduk kita terpisah oleh ruangan itu; sementara Kak Aryo duduk di bagian depan, saya mendapat bangku di belakang.

Tidak berapa lama lagi, film Jumbo akan segera ditayangkan. Saya sungguh penasaran dan penuh antusiasme untuk melihat film JUMBO ini. Film anak-anak dari Indonesia telah seringkali saya saksikan. Mulai dari masa 1980an ketika saya masih kecil hingga periode tahun 2000an setelah menjadi orang tua. Namun rasanya seperti inilah pertama kalinya bagi saya menikmati sebuah animasi buatan tanah air.

Kehadiran film JUMBO yang diarahkan oleh Ryan Adriandhy dengan naskah karya Widya Arifianti ini dapat membuka jalan untuk makin banyaknya produksi animasi dalam negeri. Tentunya hal tersebut merupakan kabar baik. Melalui tontonan seperti itu, nilai-nilai moral penting dapat diberikan pada penonton anak-anak secara efektif. Film semacam ini pasti menyenangkan serta tidak memberatkan pikiran penikmatnya. Pesan edukatif yang hendak disosialisasikan pun bakal lebih gampang terserap oleh para remaja penggemarnya.

Film JUMBO bercerita mengenai seorang anak bernama Don beserta kedua teman karinya, yaitu Mae dan Nurman. Mereka berhadapan dengan suatu permasalahan yang juga mencakup Atta serta Merry. Inti dari konflik tersebut berkaitan erat dengan buku cerita Dongeng yang ditulis oleh orang tua Don. Apakah mereka dapat memecahkan masalah ini dengan efektif? Untuk mengetahui akhir ceritanya secara keseluruhan, silakan nonton filmnya.

Dalam perspektif seorang penulis cerita anak, film JUMBO ini luar biasa. Selain saya merasakan kegembiraannya, saya pun mendapatkan wawasan tentang cara membuat narasi anak yang menarik, menyenangkan serta membawa nilai-nilai moral bagi para remaja.

Bukan cuma tampilannya saja yang memukau, tetapi ada banyak nilai positif dalam film tersebut yang dapat menjadi pembelajaran bagi para anak. Dimulai dari tema persahabatan, berani, mandiri, hingga cinta dan kasih sayang. Oleh sebab itu, mengingat topik universal-nya, film ini bakal ditayangkan di 17 negara. Keren banget kan?

Satu contohnya adalah ketika Don perlu menenangkan ego dirinya sendiri dan mengorbankan hal-hal penting bagi tujuan bersama. Meskipun demikian, pada akhirnya Don menerima dengan lapang dada. Ia percaya bahwa meski suatu barang dapat lenyap, maknanya akan tetap tertanam dalam hati. Lagipula, ia telah memiliki kawan-kawannya yang setia di Desa Seruni. Sebagaimana nasihat dari buyutnya, agar menjadi cerdik pandai memberikan inspirasi, pertama-tama Don harus belajar jadi pendengar yang baik.

Daftar nama populer merkuri di pengisi suara untuk film ini. Dimulai dari Ariel Noah dan BCL sebagai Ayah dan Ibu Don, disusul oleh Ratna Riantiarno yang memerankan nenek Don, kemudian ada Achi Resti, Prince Poetiray, hingga Den Bagus Satrio Sasono turut berpartisipasi.

Film Jumbo tak sekadar menyajikan hiburan yang menggugah dan bermanfaat untuk si kecil, tetapi juga untuk sang bunda dan papa. Bagaimana cara kedua orangtua itu mendengarkan putra atau putri mereka dari lubuk hati, bukannya cuma lewat kuping. Mengasihi anak dengan sepenuh jiwa, bukan semata-mata melalui pendengaran fisik.

Menonton film jumbo tersebut menyebabkan emosi saya bercampur aduk. Saya merasakan kegembiraan, kesedihan, dan haru sekaligus. Tentu saja, nantikan menikmati bersama keluarga dapat memperkuat ikatan antar anggota keluarga pula.

Saya sangat menyukai soundtrack “Seperti di Nadimu,” yang dibawakan dalam dua versi berbeda. Versi pertama dipentaskan oleh Bunga Citra Lestari atau biasa disebut BCL, sementara versi keduanya dilantunkan oleh Prince Poetiray bersama Quinn Salman. Selain itu, ada juga soundtrack lain bernama “Kumpul Bocah”, yaitu lagu lama yang awalnya dinyanyikan oleh Vina Panduwinata. Untuk film ini, lagunya diremajakan lagi oleh grup musik Maliq & D’ Essensials.

Mari kita semua pergi menonton film Jumbo dibioskop saat Lebaran nanti. Sambil merayakan kemenangan dengan Don dan sahabat-sahabatnya yang ada di Desa Seruni.

Related posts