,
Palembang
– Lebaran bukan saja merupakan waktu yang dipakai untuk silaturahmi, melainkan juga kesempatan menyantap sajian istimewa dari berbagai wilayah. Di Sumatera Selatan terdapat sejumlah masakan adat masa Kesultanan.
Palembang
Yang dulu merupakan hidangan khusus. Masakan ini masih bertahan hingga sekarang dan menjadi bagian integral dari perayaan Idul Fitri di kalangan masyarakat Palembang.
Berikut berbagai masakan tradisional warisan Kesultanan Palembang yang dihidangkan pada hari Lebaran.
1. Nasi Minyak
Satu sajian yang senantiasa muncul ialalah
nasi minyak
Makanan ini dikatakan pertama kali dikenalkan oleh para pedagang Arab yang berkunjung ke Palembang pada masa itu, tepatnya di abad ke-17. Rasa nasi ini terbentuk dari bumbu-bumbu seperti kapulaga, cengkih, serta minyak samin.
Umumnya, nasi minyak disajikan bersama hidangan seperti malbi yang juga merupakan kuliner tradisional dari Kesultanan Palembang. Selain itu, nasi minyak dapat dinikmati dengan tambahan ayam bakar. Makanan ini sering dipilih sebagai menu favorit pada hari Lebaran berkat aroma sedapnya serta tekstur yang lembut.
Hidangan ini biasanya dapat ditemukan di setiap rumah penduduk asli Palembang. Cara mengonsumsinya pun menarik, yakni dengan meletakkannya pada sebuah nampan dan disajikan dalam porsi untuk 2 sampai 3 orang. Kemudian, hidangan tersebut dikonsumsi secara bersamaan sambil berbaris melingkar. Tradisi ini dinamakan “ngidang”, yang telah ada sejak masa Kesultanan Palembang.
2. Malbi
Malbi
Sering dikombinasikan dengan nasi minyak, malbi adalah hidangan daging khas dari Palembang. Warisan dari Kesultanan Palembang, malbi mulai berkembang antara abad ke-17 sampai ke-19. Hidangan ini umumnya dinikmati oleh kalangan bangsawan serta keluarga kesultanan di Palembang.
Malbi terinspirasi oleh kebudayaan Melayu, Arab, India, dan Belandanya. Tiap campuran bumbunya mencerminkan rasa dari ketiga empat budaya itu, menggunakan santan serta rempah-rempah unik seperti kayu manis, cengkih, dan adas pala.
Di India dan Timur Tengah, terdapat dampak penggunaan rempah-rempah kental serta metode memasak daging sampai lembut. Sementara itu, dari Belanda, elemen kecap manis pun ikut dimasukkan, sebab selama periode penjajahan, kecap manis mulai naik daun menjadi salah satu bumbu utama dalam aneka hidangan nusantara.
Mempersiapkan masakan malabi memerlukan waktu yang cukup lama supaya dagingnya menjadi lembut serta rempah-rempah dapat menyerap secara optimal. Sajian ini biasanya dipadankan dengan ketupat ataupun nasi minyak guna menyempurnakan hidangan Idul Fitri.
3. Kue Maksuba
Pada meja saji yang manis, terdapat kue tersebut.
maksuba
Menjadi bintang utama. Maksuba adalah kue lapis yang diolah menggunakan berbagai telur bebek serta susu kental manis tanpa tambahan terigu, menghasilkan tekstur halus dan cita rasa manis yang pas.
Kue ini dipercaya berasal dari dapur istana Kesultanan Palembang antara abad ke-17 sampai ke-19. Istilah Maksuba berasal dari kata dalam bahasa Arab yang memiliki arti tinggi atau mulia, mewakili posisi sosial terhormat bagi mereka yang menyantapnya.
Akan tetapi sekarang maksuba dapat di nikmati oleh siapa saja. Pembuatan kue ini mengharuskan adanya kehatihatian karena perlu dipanggang secara bertahap lapis demi lapis sampai mendapatkan ketebalan yang ideal.
4. Kue Delapan Jam
Seperti namanya, kue delapan jam diproses dengan pengukusan selama delapan jam penuh, menciptakan tekstur yang padat serta cita rasa unik dan aromanya yang mengundang. Durasi proses masak yang lama ini melambangkan nilai penting dari makanan ini dalam budaya kuliner Sumatera Selatan, terutamanya pada masa Kesultanan Palembang.
Menurut kebiasaan di Palembang, proses membuat kue tersebut sebaiknya tidak terburu-buru atau dipendekkan agar jangan sampai mengubah struktur serta rasa dari makanan itu. Ritual memasak yang lama ini pun mencerminkan sifat sabar dan teliti, kedua nilai penting yang amat diagung-agungkan dalam warisan budaya Kesultanan Palembang.
Sampai sekarang, kue delapan jam tetap menjadi makanan wajib pada acara perayaan Hari Raya Idul Fitri di Palembang. Kue tersebut kerap diberikan sebagai hidangan istimewa untuk para tamu yang berkunjung selama perayaan-perayaan penting seperti Maulid Nabi ataupun pesta diraja.
5. Kue Engkak Ketan
Di samping dua jenis kudapan itu, masih ada satu camilan lainnya yang populer pada masa Kesultanan Palembang, yakni engkak ketan. Makanan berbahan dasar ketan, santan, telur, mentega, serta gula ini pun turut hadir saat perayaan Idulfitri.
Proses pembuatannya yang kompleks dan memerlukan kehati-hatian membuat kue ini menjadi hidangan spesial di Palembang. Kata “engkak” datang dari bahasa daerah setempat di Palembang yang artinya lapisan, hal ini berkaitan dengan cara pembuatan kuenya yang bertingkat-tingkat. Di sisi lain, “ketan” menunjukkan bahan dasar kue tersebut adalah tepung ketan, yang memberikan teksturnya yang kenyal serta manis dan gurih.
Selama periode Kesultanan Palembang, engkak ketan dikenal sebagai sajian istimewa berkat bahannya yang langka serta proses pembuatannya yang rumit. Karena alasan tersebut, camilan ini biasanya hanya ditampilkan pada momen-momen tertentu misalnya pernikahan kerajaan atau hari raya seperti Lebaran dan Maulid Nabi.
Hidangan tradisional Kesultanan Palembang yang dihidangkan pada perayaan Lebaran tidak semata-mata berfungsi sebagai santapan, tetapi juga membawa makna historis dan kebudayaan yang mendalam untuk penduduk setempat. Sejak era kerajaan hingga saat ini, penganekaragaman kuliner tersebut sudah turut menyusun jati diri warga Bumi Sriwijaya.



