Semangat Peternak Puyuh di Desa Tegal Rejo
Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan keterbatasan akses usaha, seorang warga dari Desa Tegal Rejo, Kecamatan Belitang, Kabupaten OKU Timur, membuktikan bahwa semangat pantang menyerah bisa menjadi kunci untuk bangkit. Ahmad Hisbul Amin, seorang peternak puyuh petelur, berhasil menghidupkan kembali usahanya yang sempat terhenti akibat kendala distribusi pakan dan biaya operasional.
Kandang sederhana berdiri di sudut halaman rumah Ahmad. Di balik kerangkanya yang sederhana, ratusan burung puyuh bersuara pelan dengan ritme kehidupan yang kini menjadi sumber harapan bagi keluarganya. Ahmad bukan pengusaha besar, hanya seorang warga desa yang mencoba mencari celah penghidupan di tengah tekanan ekonomi yang tidak menentu. Namun, dari kandang puyuh itulah ia membangun kembali asa yang sempat runtuh.
Memulai peternakan sejak tahun 2023, Ahmad harus menghentikan kegiatan usahanya karena pasokan pakan yang tidak stabil dan tingginya biaya operasional. Namun, bukannya menyerah, ia justru memanfaatkan waktu untuk memperbaiki sistem dan kembali merintis peternakan puyuh dengan semangat baru.
Motivasi sederhana Ahmad adalah untuk menambah penghasilan keluarga. Ia menyatakan bahwa ternak puyuh ini menjanjikan karena setiap hari bisa menghasilkan telur yang langsung dijual. Menariknya, Ahmad tidak membutuhkan lahan luas atau fasilitas mahal untuk menjalankan usahanya. Kandang puyuh dibangun di lahan kosong miliknya dengan ventilasi yang cukup, menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan halangan jika dihadapi dengan kreativitas.
Telur-telur puyuh hasil ternaknya dijual ke pasar-pasar tradisional dan pelanggan tetap di sekitar Belitang. Ahmad menyebut permintaan telur puyuh terus meningkat, sementara jumlah peternak yang mampu memenuhi kebutuhan pasar masih terbatas. Ia menyatakan bahwa pasar luas, tapi pasokan masih kurang. Ini peluang besar kalau bisa dimanfaatkan dengan serius.
Meski peluang terbuka lebar, tantangan tetap ada. Ketersediaan pakan menjadi persoalan utama. Minimnya distributor pakan unggas di wilayah tersebut membuat harga sering kali tidak stabil dan pilihan terbatas. Ahmad mengeluh bahwa pakan itu masalah utama. Kadang harus cari ke luar daerah, dan kalaupun ada di sini, harganya mahal. Ini yang bikin usaha kadang terhambat.
Ahmad berharap ada peran aktif dari pemerintah daerah maupun pihak swasta untuk memberikan dukungan, baik dalam bentuk kemudahan akses pakan, pembinaan, maupun pembiayaan. Menurutnya, usaha ternak kecil seperti ini punya peran strategis dalam memperkuat ekonomi desa, apalagi di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian.
Peternakan puyuh bukan hanya soal bertahan hidup, tapi juga membuka lapangan kerja dan menciptakan ketahanan pangan lokal. Apa yang dilakukan Ahmad Hisbul Amin mencerminkan ketahanan ekonomi berbasis rakyat. Usaha sederhana dengan dampak besar sebuah pelajaran tentang bagaimana desa bisa mandiri, jika diberi ruang dan dukungan yang cukup.
Kini, setiap butir telur yang keluar dari kandang puyuh Ahmad bukan hanya soal angka dan rupiah. Itu adalah simbol ketekunan, keyakinan, dan ketahanan warga desa dalam menghadapi kerasnya hidup. Dari kandang yang sederhana, Ahmad menunjukkan bahwa membangun masa depan tak selalu harus dengan modal besar. Cukup dengan tekad kuat dan kemauan untuk terus mencoba.






