Saham yang Akan Jadi Blue Chip BEI Agustus 2025, Ini Pilihan Terbaik!

Saham yang Akan Jadi Blue Chip BEI Agustus 2025, Ini Pilihan Terbaik!

Perubahan Konstituen Indeks Saham di BEI Mulai 1 Agustus 2025

Pada bulan Agustus 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melakukan perubahan pada konstituen saham yang masuk ke dalam indeks utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80. Perubahan ini menjadi penting bagi para investor yang ingin memantau perkembangan pasar modal dan menentukan strategi investasi terbaik.

Saham blue chip adalah saham dari perusahaan yang memiliki kinerja fundamental kuat dan kapitalisasi pasar besar. Biasanya, saham-saham ini menjadi bagian dari indeks utama karena reputasinya yang stabil dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Di BEI, saham blue chip sering kali menjadi indikator kesehatan pasar modal secara keseluruhan.

Read More

Daftar Saham Baru dan Lama di Indeks Utama

Sejumlah saham baru resmi masuk ke dalam indeks LQ45, antara lain PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Sementara itu, dua saham lama yaitu PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dikeluarkan dari indeks tersebut. Perubahan ini mencerminkan dinamika pasar dan penyesuaian terhadap kinerja perusahaan-perusahaan terkait.

Di indeks IDX30, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) resmi masuk, sedangkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dikeluarkan. Sementara itu, untuk indeks IDX80, tiga saham baru yakni AADI, PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menggantikan Gudang Garam Tbk (GGRM), Gajah Tunggal Tbk (GJTL), dan Bank OCBC NISP Tbk (NISP).

Analisis Saham Blue Chip yang Layak Dibeli

Analis Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menjelaskan bahwa saham yang masuk ke dalam indeks biasanya memiliki peluang menarik bagi investor, terutama jika valuasinya masih relatif murah. Contohnya, AADI yang saat ini sedang fokus pada proyek energi hijau, bisa menjadi pilihan yang menarik untuk investasi jangka panjang.

Untuk ITMG, investor perlu memperhatikan tren harga batu bara serta proyeksi pendapatan dan laba perusahaan di masa depan. Menurut Indy, kinerja keuangan perusahaan menjadi faktor penting dalam menentukan waktu masuk dan prospek jangka panjang.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa saham-saham yang masuk ke dalam indeks utama biasanya memiliki kenaikan harga yang konsisten. Hal ini tidak hanya didorong oleh harga, tetapi juga oleh tata kelola perusahaan yang baik dan kinerja fundamental yang solid.

Menurut Nafan, emiten yang dikeluarkan dari indeks bukan berarti memiliki kinerja buruk, tetapi pergerakan harga sahamnya kurang likuid dibandingkan saham-saham yang masuk. Oleh karena itu, investor perlu memperhatikan aspek-aspek ini dalam pengambilan keputusan investasi.

Kinerja Indeks Saham yang Masih Tertekan

Dari sisi pergerakan harga, indeks LQ45, IDX30, dan IDX80 mengalami penurunan sejak awal tahun. Hingga penutupan perdagangan Jumat (25/7), indeks LQ45 turun 3,89% menjadi 794,511, IDX30 turun 3% menjadi 410,761, dan IDX80 turun 1,74% menjadi 118,332.

Kinerja ketiga indeks ini masih tertinggal jauh dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 6,55% menjadi 7.543,50. Nafan menjelaskan bahwa penguatan IHSG disebabkan oleh kontribusi saham-saham konglomerasi serta emiten mid dan small cap yang mengalami penguatan harga.

Indy merekomendasikan akumulasi saham ITMG dengan target harga Rp 25.700 per saham. Investor dapat memantau grafik saham ITMG melalui platform TradingView untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Related posts