Komisi I DPR Menyesali Kematian Prada Lucky, Minta TNI Usut Tuntas dan Beri Hukuman Berat

Komisi I DPR Menyesali Kematian Prada Lucky, Minta TNI Usut Tuntas dan Beri Hukuman Berat

Ikabari-Dugaan kekerasan yang dilakukan oleh senior terhadap junior di asrama TNI menyebabkan seorang prajurit muda bernama Prada Lucky Chepril Saputra Namo meninggal. Komisi I DPR menyampaikan penyesalan atas kematian anggota Batalyon Teritorial Pembangunan 843/Wakanga Mere tersebut.

Anggota Komisi I DPR, Soleh, mengecam tajam kejadian yang menyebabkan kematian Prada Lucky di asrama batalyon yang berada di wilayah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tersebut. Ia meminta TNI melakukan penyelidikan menyeluruh secara terbuka dan memberikan hukuman berat kepada pelaku.

Read More

“Kejadian ini sangat mengkhawatirkan. Tidak boleh ada pengabaian. Pelaku harus dipanggil dan dihukum sesuai dengan perbuatannya. Kekerasan di lingkungan TNI tidak boleh terulang lagi,” ujar Oleh kepada para jurnalis di Jakarta pada Jumat (8/8).

Menurut seorang anggota legislatif yang pernah menjabat di DPRD Jawa Barat, kejadian yang menimpa Prada Lucky tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak reputasi dan martabat institusi TNI. Kematian Prada Lucky benar-benar merusak nama baik Angkatan Darat.

“Angkatan Bersenjata Nasional adalah penjaga kedaulatan negara. Disiplin dan semangat kebersamaan seharusnya menjadi kekuatan positif, bukan digunakan untuk melakukan kekerasan terhadap sesama anggota,” kata Oleh Soleh.

Dengan meminta Polisi Militer yang menangani kasus tersebut segera melakukan penyelidikan dan mengungkap pelaku di balik kejadian tersebut. TNI segera mengumumkan tersangka. Selanjutnya, pelaku dibawa ke pengadilan untuk bertanggung jawab atas tindakannya.

“Anggota keluarga korban berhak menerima keadilan. TNI perlu membuktikan bahwa mereka tegas dalam menindak anggota yang bersalah, tanpa memandang siapa pun,” tegas Oleh Soleh.

Bukan hanya TNI AD, tetapi juga Mabes TNI yang berada di bawah kepemimpinan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto meminta agar budaya kekerasan dalam lingkungan asrama dan satuan TNI dihapus hingga akar. Diperlukan perbaikan sistem pembinaan prajurit, termasuk penerapan hukum internal yang tegas.

Related posts