Polda Metro Hormati Pernyataan Keluarga Diplomat Arya Daru

Polda Metro Hormati Pernyataan Keluarga Diplomat Arya Daru

Ikabari, SEMANGGI– Polisi merespons pernyataan keluarga diplomat Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan (ADP), yang mempertanyakan kematian korban sebagai tindakan bunuh diri.

Read More

Arya Daru ditemukan meninggal dunia dengan kepala dibungkus lakban di kamar kosnya di wilayah Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (8/7/2025).

Kasubbid Penmas Bid Humas Polda Metro Jaya AKBP Reonald Simanjuntak mengatakan pihaknya menghargai pernyataan dari keluarga korban.

“Kami menghargai apa yang telah terjadi, serta pesan yang disampaikan oleh pihak keluarga ADP. Silakan,” kata Reonald saat diwawancara di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, dilaporkan Minggu (3/8/2025).

Namun, Reonald menegaskan bahwa sampai saat ini, Polda Metro Jaya tetap mempertahankan kesimpulan awal.

Berdasarkan hasil penyelidikan, tidak ditemukan adanya unsur tindak pidana maupun keterlibatan pihak lain dalam kematian Arya Daru.

“Jika ada informasi terbaru atau keterangan tambahan yang disampaikan kepada penyidik Direktorat Kriminal Umum, pasti akan kami lanjutkan,” katanya.

Reonald memastikan bahwa seluruh barang bukti yang disajikan dalam konferensi pers sebelumnya berasal dari tempat kejadian perkara (TKP).

Keluarga alami lelah mental

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memberikan pernyataan setelah diketahui penyebab kematianArya Daru Pangayunan diketahui oleh pihak kepolisian.

Sebelumnya, Arya Daru dilaporkan mengalami masalah psikologis seperti kelelahan mental atau burnout sebelum ditemukan meninggal dunia.

Kepala Biro Humas Kementerian Luar Negeri, Rolliansyah Soemirat menyatakan pihaknya telah mendukung proses penyelidikan kasus ini secara transparan dengan memberikan akses yang diperlukan.

“Kemlu menyampaikan apresiasi terhadap upaya yang telah dilakukan oleh tim penyelidik Polda Metro Jaya serta para ahli yang terlibat selama proses penyelidikan,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (30/7/2025).

“Kemlu juga mengapresiasi perhatian serta berbagai masukan yang telah disampaikan oleh berbagai pihak terkait dengan wafatnya Saudara ADP,” katanya.

Rolliansyah menyatakan Kementerian Luar Negeri tetap berkomitmen untuk mendukung keluarga Arya yang sedang menghadapi masa-masa sulit saat ini.

Terlebih selama ini pihaknya senantiasa menyediakan layanan konseling psikologi dan psikiatri bagi pegawai serta keluarganya.

“Secara umum, Kementerian Luar Negeri selama ini telah memberikan berbagai bentuk dukungan kepada seluruh pegawai dan keluarga Kementerian Luar Negeri yang membutuhkan, termasuk layanan konseling psikologi dan psikiatri,” katanya, Rabu (30/7/2025).

Tindakan ini dilakukan agar staf Kementerian Luar Negeri serta keluarganya tidak mengalami tingkat kecemasan yang berlebihan terutama terkait dengan tugas kedinasan.

“Layanan internal ini disediakan oleh Kementerian Luar Negeri guna mendukung pegawai Kementerian Luar Negeri dan keluarganya ketika terkena dampak dari kegiatan dan tugas dinas,” katanya.

Di sisi lain, Rolliansyah menggambarkan Arya Daru sebagai seseorang yang memiliki komitmen yang kuat.

Sehingga, membuat para staf Kementerian Luar Negeri terkejut ketika mendengar kematian Arya Daru.

“Kematiannya Almarhum ADP (Arya Daru) menimbulkan duka yang dalam bagi Kementerian Luar Negeri. Almarhum dikenal sebagai seseorang yang baik dan ramah, rekan kerja yang tekun, serta senior yang selalu memberikan dukungan. Kehilangan almarhum juga berdampak emosional terhadap rekan kerja dan keluarga besar Kemlu,” katanya.

Ahli Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), Nathanael EJ Sumampouw, membuka kondisi psikologis diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan.

Hal tersebut diungkapkan dalam konferensi pers mengenai kematian Arya Daru di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (29/7/2025).

Pemeriksaan terhadap Arya Daru dilakukan oleh tim yang terdiri dari tujuh psikolog berpengalaman menggunakan pendekatan psikologi otopsi.

Nathanael mengungkapkan bahwa dalam proses penceritaannya, pihaknya melakukan wawancara dengan keluarga, rekan kerja, atasan, serta orang-orang yang mengenal almarhum.

Selain itu, pihak terkait juga meninjau dokumen dan data yang berasal dari kehidupan pribadi, pekerjaan, serta informasi dari pihak kepolisian guna memahami kondisi psikologis.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang mendalam, diketahui bahwa almarhum pernah mengakses layanan kesehatan mental secara online.

Data yang dikumpulkan, upaya tersebut pertama kali tercatat pada tahun 2013 dan terakhir kali diamati pada tahun 2021.

Menurutnya, almarhum menjalankan tugas yang sangat mulia yaitu melindungi Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri.

Nathanael menjelaskan bahwa Arya Daru adalah seorang pekerja kemanusiaan yang mengemban berbagai tanggung jawab, seperti pelindung, pendengar, dan penyelamat (rescuer) bagi warga negara Indonesia yang terjebak dalam kondisi darurat.

Hal tersebut mengharuskan adanya empati yang tinggi, kepekaan emosional yang mendalam, ketahanan psikologis, serta sensitivitas sosial.

Secara psikologis, almarhum mengalami kelelahan mental (burnout), kelelahan akibat rasa empati (compassion fatigue), serta terpapar rasa sakit dan trauma.

Apsifor menyimpulkan bahwa almarhum memiliki sifat kepribadian yang cenderung tertekan dan menyembunyikan perasaannya.

“Almarhum menghadapi permasalahan psikologis yang rumit,” katanya.

Duta besar Kementerian Luar Negeri Arya Daru Pangayunan ditemukan meninggal dunia di kamar kontrakannya di wilayah Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/2025) pagi.

Korban ditemukan dalam kondisi terbaring di atas tempat tidur.

Kepalanya dilapisi plastik dan diikat dengan pita kuning, sedangkan tubuhnya tertutup selimut biru.

Kepala Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya Triputra, menyatakan bahwa tidak ada pihak lain yang terlibat dalam kematian Arya Daru.

“Hasil dari penyelidikan yang kami lakukan menunjukkan bahwa kami belum menemukan adanya kejadian tindak pidana,” kata Kombes Wira Satya Triputra.

 

Wira menyatakan bahwa hasil penyelidikan yang telah dilakukan hingga saat ini tidak menunjukkan adanya dugaan tindak pidana.

Dalam kasus ini, petugas mengamankan beberapa barang bukti sebanyak 103 item, termasuk gulungan pita packing, kantong plastik, pakaian milik korban, serta yang lainnya.

Selain itu, ditemukan obat sakit kepala dan obat maag, meskipun belum diketahui hubungannya dengan penyebab kematian.

Penyidik juga menemukan sidik jari Arya Daru di permukaan pita yang mengelilingi kepalanya.

Sudah ada 24 saksi yang diperiksa, yang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu rekan kerja, teman kos, dan anggota keluarga.

Meskipun demikian, penyelidikan mengenai kasus kematian Arya Daru belum dihentikan atau diketahui adanya SP3.

(Wartakotalive/Ramadhan LQ/Tribunnews.com/Abdi Ryanda Shakti)

Baca berita Ikabarilainnya diWhatsApp.

Baca berita Ikabarilainnya diGoogle News.

Related posts