IKABARIWarak Enab, gulungan daun anggur yang berisi nasi dan bumbu, mungkin belum sepopuler lemper di Indonesia. Namun, di kawasan Timur Tengah dan Mediterania Timur, hidangan ini bukan hanya sekadar makanan, melainkan simbol budaya, sejarah, serta cinta yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Di dalam tradisi masakan Arab, Warak Enab memiliki posisi khusus. Daun anggur yang digunakan sebagai bungkus diisi dengan campuran nasi, daging giling, serta rempah-rempah seperti kayu manis, pala, dan jeruk lemon.
Proses pelipatan tersebut memerlukan ketekunan dan kesabaran, mencerminkan nilai-nilai kebaikan serta perhatian dalam budaya Arab.
“Tenaga dan waktu yang diperlukan untuk menyajikan hidangan ini mencerminkan budaya Arab serta cara kami saling merawat satu sama lain,” kata Zeina Zeitoun dalam esainya diTODAY.
Warak Enab sangat dikenal di Lebanon, Suriah, Palestina, serta Turki dan Yunani, dengan variasi nama seperti dolma atau sarma. Meskipun memiliki penamaan berbeda, intinya tetap sama, yaitu gulungan daun yang menyimpan rasa dan kisah.
Menurut situs Inspire Ambitions, gulungan daun anggur ini tidak hanya enak, tetapi juga penuh makna budaya dan sejarah. Menunjukkan bahwa hidangan ini bukan hanya makanan, melainkan warisan yang menghubungkan berbagai bangsa.
Asal usul Warak Enab dapat dilacak hingga masa Yunani kuno. Dalam catatanAristophanes,disebutkan makanan bernama thrion, daun ara yang berisi keju dan madu yang menjadi awal dari teknik membungkus makanan dengan daun.
Dengan berkembangnya teknik vitikultur, daun anggur menjadi pilihan utama karena teksturnya yang fleksibel dan rasanya yang khas. Situs Aladdin’s Houston menyebutkan bahwa “gulungan daun anggur merupakan warisan bersama dari berbagai budaya yang pernah bertemu melalui kekaisaran dan perdagangan”.
Dalam perjalanan globalisasi makanan, Warak Enab mulai dikenal di berbagai dapur internasional, termasuk di kalangan komunitas Arab yang tinggal di luar negeri. Bagi mereka, memasak Warak Enab bukan hanya tentang cita rasa, tetapi juga cara untuk mempertahankan budaya dan mengingat kampung halaman.
“Kemampuan saya menggulung daun anggur dengan cepat merupakan bukti dari usaha keras dan perhatian yang diberikan keluarga saya dalam setiap panci besar Warak Enab,” tulis Zeitoun, menjelaskan makna mendalam di balik setiap gulungan daun anggur.
Warak Enab mungkin belum menjadi bagian dari masakan yang dikenal luas di Indonesia, namun cerita dan rasanya pantas untuk diketahui. Di balik gulungan daun anggur tersebut, tersimpan rempah, sejarah, serta cinta yang tak pernah pudar seiring berjalannya waktu. (*)





