IKABARI– Di balik suara lonceng dan tawa riang, desa di kawasan pegunungan Distomo, Yunani, menyimpan tradisi istimewa yang berasal dari zaman kuno. Sebuah cara turun-temurun untuk mengurangi tekanan dan membangkitkan semangat hidup melalui kekacauan yang dirayakan.
Warga setempat menyebutnya Koudounaraioi, yang secara harfiah berarti “Manusia Lonceng”. Pada perayaan ini, peserta mengenakan kulit domba atau kambing, memasang lonceng besar di pinggang mereka, dan menari di sekitar api unggun. Suasana pesta ini ramai, penuh antusiasme, dan sengaja dibuat bising.
Namun, keributan tersebut memiliki alasan tertentu. Penduduk bahkan datang ke pemakaman desa sambil membuat suara bising. Menurut mitos, tujuannya adalah “membangunkan” roh-roh agar ikut merayakan kehidupan bersama mereka. Tradisi ini bukan hanya hiburan semata, tetapi juga menjadi upacara sosial yang telah lama melekat dalam masyarakat setempat.
Berdasarkan pendapat sejarawan Yunani, Amalia Papaioannou, yang dikutip dari AP News, perayaan ini menghasilkan apa yang disebut social inversion, yaitu saat aturan sosial terbalik karena semua orang diperbolehkan berpura-pura, membuat lelucon, bahkan berbicara kasar tanpa ada konsekuensi. Ini merupakan bentuk reset sosial, metode masyarakat untuk melepas kelelahan, menghilangkan energi negatif, dan kembali segar setelah masa yang penuh tekanan.
Tradisi Koudounaraioi dianggap berasal dari perayaan yang dilakukan untuk Dionysus, dewa anggur, kesuburan, dan kebahagiaan dalam mitos Yunani. Tidak mengherankan jika inti dari ritual ini adalah kebebasan berekspresi serta pesta terhadap kehidupan, dengan semangat yang liar namun penuh makna.
Sekarang, tradisi ini telah berkembang. Di antara lonceng dan kulit domba, tampak pula anak-anak mengenakan pakaian dinosaurus, orang tua membawa obor, dan musik yang digunakan bukan hanya musik rakyat Yunani—tapi juga musik pop hingga K-pop.
Perayaan ini biasanya diadakan sebelum masa Prapaskah, menjadi momen peralihan yang memperkuat hubungan sosial dan semangat kebersamaan sebelum masyarakat kembali ke masa yang penuh makna.
keteraturan dan refleksi diri.





