Nakes Sukarela Ungkap Penyimpangan Dana Perjalanan Dinas di Puskesmas Bone

Nakes Sukarela Ungkap Penyimpangan Dana Perjalanan Dinas di Puskesmas Bone

IKABARI, BONE –Petugas kesehatan sukarela di beberapa puskesmas Kabupaten Bone menyampaikan keluhan mengenai kondisi kesejahteraan yang tidak memadai.

Tenaga kesehatan sukarela yang telah menjadi pegawai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) menyampaikan keluhan terkait gaji yang diterima yang tergolong rendah serta adanya pemotongan biaya perjalanan dinas yang tidak jelas sumber penganggarannya.

Read More

Seorang tenaga kesehatan yang dikenal dengan nama samaran Mawar mengungkapkan, meskipun sudah memiliki status BLUD, penghasilan yang mereka terima masih sangat rendah.

“Jika memang tidak ada cara agar kami tenaga kesehatan sukarela diangkat sebagai PPPK atau paruh waktu karena tidak ada slip gaji, setidaknya kami mohon adanya perhatian terhadap penghasilan kami. Di puskesmas, gaji hanya sebesar Rp30 ribu per bulan, maksimal Rp80 ribu,” katanya kepada IKABARI, Jumat (12/9/2025).

Ironisnya, meskipun gajinya kecil, para tenaga kesehatan tetap diwajibkan bekerja selama 24 jam penuh di puskesmas guna melayani masyarakat.

Ia menambahkan, sebenarnya tenaga kesehatan sukarela bisa sedikit terbantu melalui tunjangan perjalanan dinas.

Namun, ternyata dana tersebut juga mengalami pengurangan.

“Benar, yang kami terima di rekening adalah sebesar Rp150 ribu, tetapi saat cair harus disetor kembali tunai ke bendahara masing-masing puskesmas. Besarnya setoran bervariasi, ada yang sebesar Rp37 ribu, ada juga Rp40 ribu, tergantung dari puskesmasnya,” katanya.

Menurutnya, hampir setiap hari terjadi perjalanan dinas di puskesmas, namun pemotongan selalu terjadi.

Hal ini menyebabkan para tenaga kesehatan sukarela merasa dirugikan, terlebih tidak pernah ada penjelasan yang jelas mengenai arah aliran dana dari potongan tersebut.

“Coba pikir, jumlah tenaga kesehatan sukarela yang dipotong mencapai lebih dari seribu orang. Kami juga tidak tahu ke mana uang itu pergi karena tidak ada penjelasan,” keluhnya.

Seorang tenaga kesehatan lainnya menambahkan Melati (nama samaran) mengakui kondisi ini membuat mereka sering kali bekerja dengan perasaan cemas.

“Kadang kami merasa tidak dihargai. Kami bekerja siang dan malam, namun gaji yang diterima tidak seberapa. Bahkan hak untuk perjalanan dinas juga dipotong. Bagaimana kami bisa semangat jika terus seperti ini?,” katanya.

Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan dan memperhatikan kondisi mereka.

“Kami adalah tenaga yang berada di garis depan dalam melayani masyarakat. Jika kami tidak kuat, siapa lagi yang akan menjaga puskesmas? Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan, hanya menginginkan keadilan dan kejelasan,” katanya dengan nada sedih.

Sampai berita ini dirilis, pihak yang bersangkutan belum memberikan pernyataan resmi terkait keluhan dari tenaga kesehatan sukarela tersebut.(*)

Related posts