IKABARI– Pengembangan energi panas bumi memerlukan modal yang besar, khususnya dalam tahap eksplorasi. Biaya untuk mengebor satu sumur bisa mencapai hingga 10 juta dolar AS.
Oleh karena itu, Geolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Pri Utami mengatakan, penelitian geosains sangat penting sebelum melakukan eksplorasi panas bumi dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). “Untuk mengurangi risiko tersebut diperlukan investasi berupa penelitian geosains (geologi, geokimia, dan geofisika) agar dapat memperkirakan kondisi di bawah permukaan secara lebih detail,” katanya, dilansir dariAntara, Jumat (12/9).
Ia mengatakan, pengembangan energi panas bumi saat ini berfokus pada sistem hidrotermal dengan suhu tinggi di kawasan gunung berapi yang masih muda (Kuarter), dengan syarat ditemukannya cairan panas bersuhu 225-300 derajat Celsius, pH netral dalam batuan yang porus, serta kedalaman 1-3 kilometer. Meskipun eksplorasi panas bumi memerlukan biaya besar, Pri menilai proyek PLTP ini memberikan berbagai manfaat sosial dan ekonomi.
“Pelaksanaan proyek yang dimulai dari eksplorasi hingga pengembangan lapangan memerlukan jumlah tenaga kerja lokal yang besar, serta menciptakan kesempatan usaha pendukung seperti penyedia makanan, penginapan, transportasi, dan layanan lain,” ujarnya.
Selain itu, beberapa daerah panas bumi mampu menghasilkan produk samping berupa mineral yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk atau penguat tanaman, sehingga upaya peningkatan pasokan listrik melalui PLTP juga turut mendukung ketahanan pangan. Meskipun demikian, Pri memperingatkan bahwa pengembangan wilayah panas bumi tetap memiliki risiko terhadap lingkungan.
Dampak yang bisa terjadi meliputi debu akibat perpindahan alat berat, kebisingan selama proses bor, serta perubahan tampilan lingkungan akibat pemasangan PLTP. Namun, langkah penanggulangan seperti pembersihan wilayah yang terkena dampak, penggunaan mesin bor canggih, pemasangan peredam suara, serta penanaman kembali area yang sementara dibuka dapat mengurangi dampak-dampak tersebut.
“Dengan metode pembersihan wilayah yang terkena dampak, pemasangan sistem peredam suara, penggunaan alat bor yang canggih, penanaman kembali di area yang sementara dibuka untuk kegiatan pengeboran, serta berbagai cara lainnya,” ujarnya.
Di sisi sosial, Pri menekankan perlunya pendidikan masyarakat mengenai energi panas bumi. Menurutnya, panas bumi bukanlah barang dagangan seperti minyak bumi atau batu bara, tetapi merupakan aset energi yang bersaing dan membutuhkan investasi dalam sumber daya manusia agar risiko eksplorasi dapat diminimalkan.
“Perlu adanya investasi dalam sumber daya manusia untuk mengurangi risiko biaya eksplorasi dan meningkatkan keandalan teknologi yang digunakan,” katanya.






