Tim Siber Indonesia Kembali Mengukir Prestasi di Tingkat Dunia
Tujuh anak muda Indonesia kembali menorehkan prestasi yang membanggakan di kancah internasional. Tim yang diberi nama Satuan Koalisi Siber Dadakan (SKSD) berhasil meraih juara kedua dalam kompetisi keamanan siber dunia yang diselenggarakan oleh perusahaan keamanan siber global, Kaspersky. Kompetisi ini bertajuk Security Analyst Summit Capture The Flag (SAS CTF) 2025 dan berlangsung di Khao Lak, Thailand.
Kompetisi tersebut menjadi bagian dari forum tahunan Security Analyst Summit (SAS) yang digelar pada 26–29 Oktober 2025. Forum ini mempertemukan para pakar, peneliti, serta lembaga penegak hukum dari berbagai negara untuk membahas tren dan ancaman siber terkini.
Persaingan Ketat di Babak Final
Dalam kompetisi SAS CTF 2025, SKSD bersaing ketat dengan tujuh tim lain dari berbagai negara, termasuk Rusia, Jepang, dan sejumlah tim internasional. Total peserta yang mengikuti babak kualifikasi daring mencapai lebih dari 900 tim dari 80 negara. Hanya delapan tim terbaik yang melaju ke babak final di Thailand, memperebutkan total hadiah sebesar US$ 18.000.
Sebagai juara kedua, SKSD membawa pulang hadiah sebesar US$ 5.000 atau setara Rp 83 juta. Tim ini terdiri dari tujuh talenta muda dengan latar belakang universitas berbeda. Mereka adalah:
- Linuz Tri Erianto, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB)
- Achmad Zaenuri Dahlan Putra, lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
- Bill Elim, mahasiswa aktif Universitas Bina Nusantara (Binus)
- Bambang Priyanto, mahasiswa aktif President University
- Rendi Yuda, lulus IPB
- Moch Sofyan Firdaus, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB)
- Achmad Fahrurrozi Maskur, lulusan ITB
Kombinasi pengalaman lulusan dan semangat mahasiswa aktif membuat SKSD tampil solid dalam menyelesaikan serangkaian tantangan teknis di babak final. Kompetisi ini menguji kemampuan peserta dalam kriptografi, rekayasa balik (reverse engineering), eksploitasi biner, keamanan web, forensik digital, serta Web3.
Pujian dari Anggota Tim
Salah satu anggota tim, Linuz, menyampaikan bahwa capaian mereka dalam forum SAS merupakan buah dari kerja sama dan dedikasi tim. Tahun ini, panitia juga menambahkan elemen kecerdasan buatan (AI) dalam sejumlah soal. Menurut Linuz, prestasi yang diraih dalam SAS CTF kali ini menjadi motivasi untuk membawa dunia siber Tanah Air berkembang lebih pesat.
Ia menilai saat ini sebenarnya ada banyak talenta muda Indonesia yang memiliki kemampuan dan bisa bersaing di dunia internasional. Namun, ia menilai perlu adanya perhatian dari pemerintah untuk bisa memfasilitasi bakat yang ada agar lebih bermanfaat.
“Skill anak muda di Indonesia itu mumpuni. Sebenarnya banyak hal yang bermanfaat ilmunya bisa digunakan dan kalau difasilitasi oleh pemerintah akan bisa lebih bermanfaat,” ujar Linuz.
Dukungan dari Kaspersky
Kaspersky, sebagai penyelenggara kompetisi, menegaskan bahwa program ini merupakan komitmen perusahaan untuk mendorong minat para ahli keamanan siber untuk terus berinovasi. Director of Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky, Igor Kuznetsov, menyatakan bahwa kompetisi tahunan SAS CTF merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat komunitas profesional keamanan siber global dan mendorong inovasi di bidang ini.
“Kompetisi CTF bukan sekadar tantangan, tapi wadah bagi para profesional keamanan siber untuk mengasah kemampuan, berkolaborasi, dan mendorong batas penelitian keamanan,” ujar Igor.
Tim Lain yang Berpartisipasi
Selain SKSD dari Indonesia, tujuh tim lain yang tampil di babak final antara lain C4T BuT S4D (Rusia), PIG SEKAI (internasional), dtl (Rusia), SPRUSH (Rusia), Infobahn (internasional), thehackerscrew (internasional), dan BunkyoWesterns (Jepang). Dari tim PIG SEKAI, salah satu lawan terkuat SKSD, tercatat ada tiga anggota yang juga berasal dari Indonesia, yakni Yudistira Arya (mahasiswa Binus), Zafir Rasyidi Taufik (lulusan UI), dan Aimar Sechan Aditya.
Keberhasilan tim SKSD menjadi bukti bahwa kemampuan talenta muda Indonesia di bidang keamanan siber mampu bersaing di level dunia. Capaian ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem keamanan siber nasional yang kian strategis di tengah meningkatnya ancaman digital.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.




