IKABARI – Semakin tua seseorang, semakin banyak beban kenangan yang ia rasakan—baik yang menyenangkan maupun menyedihkan.
Banyak orang tua melihat masa lalu dengan pahit, bukan karena tidak beruntung, tetapi karena terus-menerus mengulangi pola yang sama tanpa pernah menyadari untuk melepaskannya.
Berdasarkan psikologi modern, rasa menyesal bukan hanya hasil dari pilihan yang salah, melainkan cerminan dari kebiasaan pikiran dan emosi yang terbentuk selama bertahun-tahun.
Dikutip dari Geediting pada Senin (20/10), jika Anda benar-benar ingin menua dengan hati yang ringan dan pikiran yang tenang, saatnya mengucapkan perpisahan dengan 10 kebiasaan berikut ini.
1. Terlalu Sering Mengukur Diri Sendiri dengan Orang Lain
Kebiasaan ini menjadi penyebab banyak penyesalan. Psikologi sosial menjelaskan bahwa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain dapat mengurangi rasa percaya diri dan menimbulkan perasaan tidak cukup, seolah-olah kehidupan orang lain selalu lebih “berhasil”.
2. Menghindari Hal yang Penting karena Khawatir Gagal
Penyesalan terbesar sering muncul bukan dari kegagalan, melainkan dari ketidaktelitian dalam mencoba. Banyak orang tua mengatakan, “Andai dulu aku berani mencoba.”
Lebih baik mengalami kegagalan karena berusaha, daripada menyesal karena membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan apa-apa.
3. Mengabaikan Perasaan dan Tidak Jujur terhadap Emosi Sendiri
Banyak orang menjalani hidup dengan wajah yang tampak tegar. Mereka menahan air mata, menyembunyikan luka, dan berpura-pura menjadi kuat.
4. Mengabaikan Hubungan Karena Sibuk Mengejar Tujuan Pribadi
Saat usia semakin bertambah, keberhasilan materi menjadi kurang bermakna tanpa kehangatan dari sesama manusia di sekitarnya.
Tidak ada diskon atau angka di rekening yang bisa menggantikan pelukan hangat dari seseorang yang mencintai Anda secara tulus.
5. Terlalu Tegas terhadap Diri Sendiri
Kebiasaan mengejar kesempurnaan sering dianggap sebagai tanda kedisiplinan, meskipun sebenarnya dapat menjadi penyebab rasa sakit batin.
6. Menyamar Sebagai Seseorang Lain Agar Diterima
Psikologi eksistensial menekankan kepentingan untuk hidup secara otentik—mengikuti nilai dan identitas sejati seseorang.
7. Menghindari Kesunyian dan Pemikiran Diri
Di tengah keadaan yang penuh dengan keributan, banyak orang merasa takut berada sendirian karena ketenangan memaksakan mereka untuk mendengarkan pikiran mereka sendiri.
8. Menyimpan kebencian dan tidak bersedia memaafkan
Psikologi positif menjelaskan bahwa memaafkan tidak berarti menganggap benar kesalahan yang dilakukan orang lain, tetapi justru melepaskan diri dari beban perasaan yang berat.
9. Mengabaikan Kondisi Kesehatan Jiwa dan Tubuh
Terkadang penyesalan muncul ketika tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Berdasarkan penelitian, stres jangka panjang, kurang tidur, dan pola hidup yang tidak seimbang secara langsung memengaruhi kesehatan mental serta kebahagiaan seseorang.
10. Takut Terlihat Rentan
Kita berkembang dengan keyakinan bahwa ketidakberdayaan merupakan kelemahan. Padahal, menurut Brené Brown, ketidakberdayaan adalah sumber keberanian yang sebenarnya.
Menjadi diri sendiri—dengan segala kekurangan—merupakan bentuk kebijaksanaan yang muncul seiring bertambahnya usia.
Kesimpulan: Kehidupan Tanpa Penyesalan Dimulai dari Kesadaran Pada Saat Ini
Tidak ada yang mampu menghilangkan masa lalu, namun setiap hari memberi kesempatan untuk membentuk masa depan yang lebih damai.
Berdasarkan psikologi, kebahagiaan yang sesungguhnya tidak berasal dari kehidupan yang sempurna, tetapi dari kemampuan menerima diri sendiri, memaafkan, serta mencintai perjalanan hidup apa adanya.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







