Kaki Kurus? Waspada, Bisa Jadi Tanda Polio!

Kaki Kurus? Waspada, Bisa Jadi Tanda Polio!

IKABARI – Pernah melihat anak yang kaki terlihat sangat kurus, seperti hanya tulang yang dibungkus kulit? Pemandangan ini sering muncul di media sosial dan menimbulkan rasa kasihan dari banyak orang. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa kondisi ini bisa menjadi tanda adanya polio — penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang sistem saraf dan dapat mengakibatkan kelumpuhan permanen.

Penyakit polio bukanlah sesuatu yang baru, namun masih menjadi ancaman berbahaya jika tidak diperhatikan. Virus ini menyerang saraf motorik yang mengatur gerakan otot. Akibatnya, otot menjadi lemah dan mengalami atrofi, sehingga kaki tampak kering dan kurus. Meskipun dunia telah aktif melakukan vaksinasi, polio belum sepenuhnya hilang. Satu anak yang terinfeksi sudah cukup untuk menyebarkan virus ke anak lain melalui makanan, air, atau kontak langsung dengan penderita.

Poliovirus termasuk dalam keluarga enterovirus dan memiliki tiga jenis serotipe yang berbeda. Virus ini masuk melalui mulut, berkembang di tenggorokan dan saluran pencernaan, kemudian dapat menyebar ke aliran darah hingga mencapai sistem saraf pusat. Inilah yang menjadi bahayanya—jika saraf yang mengontrol otot mengalami kerusakan permanen, tubuh bisa mengalami kelumpuhan sebagian atau bahkan total.

Lingkungan yang memiliki sanitasi yang tidak memadai dan tingkat vaksinasi yang rendah menjadi tempat yang ideal bagi virus ini berkembang. Oleh karena itu, meskipun jumlah kasus telah menurun secara signifikan, tetap diperlukan kewaspadaan yang tinggi.

Gejala dan Jenis Polio

Dilansir dari Healthlinesekitar 95–99 persen dari orang yang terinfeksipoliovirustidak menunjukkan tanda-tanda atau disebut sebagai polio subklinis. Meskipun tampak sehat, mereka tetap mampu menularkan virus kepada orang lain secara tidak sadar. Inilah alasan mengapa polio sulit dikendalikan sepenuhnya.

  1. Polio Non-Paralitik (Polio Abortif)

    Jenis ini menunjukkan gejala mirip flu, berlangsung selama 1–10 hari. Penderita biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri tenggorokan, muntah, kelelahan berat, dan meningitis ringan. Untungnya, infeksi berhenti pada tahap ini tanpa menyebabkan kelumpuhan, dan pasien dapat pulih sepenuhnya.

  2. Polio Paralitik

    Kira-kira 1 persen kasus berubah menjadipolio paralitik, jenis yang paling berbahaya. Infeksi ini menyerang sumsum tulang belakang (polio spinal), batang otak (polio bulbar), atau keduanya (polio bulbospinal).

    Gejala dimulai dengan demam dan nyeri otot, lalu berkembang menjadi hilangnya refleks tubuh, kejang berat, kelemahan otot pada satu sisi tubuh, hingga kelumpuhan yang bersifat permanen. Dalam 5–10 persen kasus, virus dapat menyerang otot pernapasan dan menyebabkan kematian.

  3. Sindrom Pasca-Polio

    Bahaya belum berakhir meskipun pasien telah pulih.Sindrom pasca-poliodapat muncul 15–40 tahun setelahnya, dengan gejala seperti kelemahan otot, nyeri sendi, kelelahan parah, gangguan pernapasan, hingga kesulitan menelan. Kondisi ini juga berdampak pada kemampuan konsentrasi dan memori pasien.

Tidak Ada Obat, Namun Dapat Dicegah

Menurut World Health Organization (WHO), belum ada pengobatan yang mampu menyembuhkan polio secara total. Namun penyakit ini dapat dihindari dengan vaksinasi, baik vaksin polio oral (OPV) maupun vaksin polio inaktif (IPV). Kedua jenis vaksin tersebut efektif dan aman bagi anak-anak.

Perawatan kesehatan tetap diperlukan untuk mengurangi gejala.Hello Sehatmencatat beberapa tahapan pengobatan seperti pemberian ibuprofen untuk mengatasi nyeri otot, obat antikejang untuk mengurangi kejang, antibiotik untuk mencegah infeksi tambahan, hingga penggunaan ventilator bagi pasien yang mengalami kesulitan bernapas.

Selain itu, terapi fisik berperan dalam menjaga kekuatan otot serta memperlambat proses atrofi, sedangkan rehabilitasi pernapasan memastikan fungsi pernafasan tetap stabil. Meskipun tidak mampu memulihkan saraf yang rusak, terapi ini secara signifikan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Cleveland Clinicjuga menyarankan pasien untuk menjaga kelembapan tubuh, menggunakan kompres hangat, dan cukup beristirahat selama masa pemulihan. Dukungan dari keluarga menjadi hal yang sangat penting dalam proses pemulihan jangka panjang.

Vaksinasi tetap menjadi perlindungan paling efektif untuk mencegah polio. Selama masih ada satu anak yang terinfeksi di dunia, semua anak berisiko tertular. Oleh karena itu, pastikan vaksinasi dilakukan sesuai jadwal yang ditentukan. Polio sebenarnya bisa dicegah, selama kita tidak mengabaikan kebersihan dan kewajiban imunisasi.

Related posts