Orang yang Tidak Beruntung Sering Merusak Diri dengan 7 Kebiasaan Ini

Orang yang Tidak Beruntung Sering Merusak Diri dengan 7 Kebiasaan Ini

IKABARI – Di tengah perjalanan kehidupan, seringkali kita melihat seseorang yang terlihat “selalu tidak beruntung.”

Setiap upaya terasa melelahkan, setiap peluang seakan terlepas begitu saja, dan kehidupan selalu seperti berjuang melawan arus.

Namun, jika ditelusuri lebih jauh, sering kali akar masalahnya bukan disebabkan oleh keberuntungan buruk atau nasib yang keras — melainkan tindakan merusak diri sendiri yang dilakukan secara halus, bahkan tanpa disadari.

Kebahagiaan tidak hanya terkait dengan kesempatan, tetapi juga dengan kesiapan mental dan cara berpikir.

Dilaporkan oleh Geediting pada Senin (20/10), terdapat tujuh kebiasaan umum yang secara diam-diam menghalangi seseorang dari keberuntungan dan kesuksesan yang seharusnya bisa mereka capai.

1. Terlalu Sering Mengeluh, Tanpa Menyadari Menghalangi Energi Positif

Keluhan merupakan racun halus yang memengaruhi keberuntungan. Ketika seseorang terus-menerus mengarahkan perhatian pada hal-hal yang tidak berjalan baik, alam semesta menangkap energi tersebut dan menciptakan situasi serupa.

Orang yang sering mengeluh cenderung tidak menyadari kesempatan yang tersembunyi di balik tantangan.

Sementara orang yang beruntung biasanya memiliki kemampuan untuk tetap bersyukur dalam situasi sulit — karena rasa syukur menghasilkan ketenangan, dan dari ketenangan muncul kejernihan dalam memandang jalan keluar.

2. Takut akan kegagalan, padahal kegagalan merupakan pintu menuju keberuntungan

Banyak orang menginginkan keberuntungan, namun sedikit yang bersedia mengambil risiko. Ketika seseorang menolak untuk mencoba karena takut gagal, ia juga menolak peluang untuk berhasil.

Meskipun demikian, kegagalan sering kali merupakan “uji kelayakan” alam semesta — menilai apakah seseorang cukup kuat untuk menerima kesuksesan yang besar.

Orang yang berani mengalami kegagalan akan terus belajar, beradaptasi, dan secara tidak sadar mendatangkan keberuntungan melalui kesabaran dan ketekunannya.

3. Membandingkan Diri dengan Orang Lain, Sehingga Hilangnya Arah Sendiri

Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam meraih keberuntungan. Namun, seseorang yang sering merasa bahwa orang lain lebih beruntung cenderung lupa pada langkah-langkah yang sedang ia ambil.

Rasa dengki dan perbandingan hanya menghabiskan tenaga, menyulitkan seseorang untuk bersyukur atas pencapaian kecil yang sebenarnya menjadi langkah awal menuju kesuksesan yang lebih besar.

Orang yang terlihat beruntung umumnya memperhatikan perkembangan diri sendiri, bukan pada keberhasilan orang lain.

4. Menunda-nunda, Meskipun Kesempatan Tidak Menunggu

Salah satu bentuk penghambatan diri yang paling samar adalah menunda tindakan. Rencana yang baik tanpa tindakan hanyalah khayalan.

Banyak orang merasa kurang beruntung karena “tidak memperoleh kesempatan”, padahal kesempatan tersebut sudah tiba — hanya saja mereka menunda-nunda hingga kesempatan itu hilang.

Kebahagiaan menghampiri mereka yang bersiap, bukan hanya pada yang menunggu kesempatan yang “ideal”.

5. Lingkungan yang Tidak Sesuai: Kelilingan dengan Energi Negatif

Sahabat dan lingkungan sekitar mencerminkan masa depan seseorang. Seseorang yang terus-menerus berada di sekitar individu yang pesimis, sering mengeluh, atau meremehkan impian akan kesulitan melihat peluang karena pikirannya terganggu oleh keraguan.

Sebaliknya, berada dalam lingkungan yang mendukung dan memiliki pola pikir yang progresif membuat seseorang lebih percaya diri untuk melakukan tindakan positif — yang sering kali menjadi pintu masuknya keberuntungan.

6. Menganggap Diri Sendiri Tidak Berharga dan Tidak Percaya Diri untuk Sukses

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka menolak nasib baik karena merasa “tidak layak.”

Bila seseorang memiliki pola pikir rendah diri, secara tidak sadar ia akan menolak peluang penting, merasa tidak siap, atau bahkan merusak hasil kerjanya sendiri.

Seseorang yang beruntung bukanlah yang selalu memiliki peluang besar, melainkan yang percaya bahwa dirinya pantas mendapatkannya — dan berani menerima saat kesempatan itu tiba.

7. Tidak Mengambil Pelajaran dari Kesalahan, Hanya Menyalahkan Nasib

Kesalahan merupakan guru terbaik, namun banyak orang menolak pembelajaran tersebut dengan mengutuk nasib.

Jika kegagalan dianggap sebagai kutukan, bukan sebagai pelajaran, maka kesempatan untuk berkembang akan hilang.
Sebenarnya, keberuntungan sering menghampiri orang-orang yang belajar dari pengalaman sulit, mengubah cara berpikir, serta memperbaiki jalannya hidup.

Orang semacam ini tidak hanya menarik keberuntungan, tetapi juga menghasilkannya sendiri.

Kesimpulan: Keberhasilan dihasilkan dari pola pikir yang positif

Pada akhirnya, keberuntungan bukan hanya datang dari langit, tetapi merupakan hasil dari bagaimana kita menghadapi kehidupan.

Orang-orang yang tampak “beruntung” seringkali hanya memiliki kebiasaan dan cara berpikir yang memungkinkan kesempatan untuk muncul.

Sebaliknya, orang yang merasa tidak beruntung biasanya tidak menyadari bahwa pikiran dan perilaku mereka sendiri yang menghalangi pintu kesempatan baik itu.

Jika kita mulai memperhatikan tujuh tingkah laku di atas dan secara perlahan mengubahnya, maka tanpa terasa, energi kehidupan akan berubah arah.

Dan ketika pikiran, tindakan, serta lingkungan kita sejalan — keberuntungan tidak perlu lagi dicari. Ia akan muncul secara alami.

Related posts